PONTIANAK POST – Bagi pencinta belanja, Paris seperti magnet yang sulit diabaikan. Kota ini bukan hanya dikenal sebagai salah satu pusat mode dunia, tetapi juga menawarkan pengalaman berbelanja yang sangat beragam, mulai dari butik merek ternama hingga toko barang bekas dan pasar loak.
Apa pun yang sedang menjadi tren di Paris biasanya mudah menyebar dan diikuti berbagai kota lain. Tidak mengherankan jika Paris kemudian mendapat tempat istimewa di hati para pencinta fashion dari berbagai penjuru dunia.
Informasi dan pengalaman tentang Paris ini dibagikan Syafarudin Daeng Usman, peminat traveling dan kajian sejarah Kalimantan Barat, berdasarkan pengalamannya saat menjelajahi berbagai sudut Kota Paris.
Paris dan 20 Distriknya yang Membentuk Spiral
Baca Juga: Menyusuri Romantisme Paris (Bag-1): Dari Pesona Menara Eiffel hingga Montmartre yang Bersejarah
Jika melihat peta Paris, kota ini terbagi menjadi 20 distrik atau arrondissements yang tersusun seperti spiral.
Pembagian distrik tersebut berkaitan dengan perubahan tata kota sejak masa Revolusi Prancis. Pada masa itu, Paris masih terbagi dalam 12 distrik, dengan distrik 1 hingga 8 berada di bagian utara Sungai Seine.
Wajah Paris yang dikenal saat ini kemudian banyak dipengaruhi penataan kota yang dilakukan Baron von Haussmann. Perubahan tersebut dilakukan seiring pertumbuhan penduduk dan semakin padatnya kawasan perkotaan.
Baca Juga: Menyusuri Romantisme Paris (Bag-2): Jejak Kuliner Kelas Dunia dan Hotel Bersejarah yang Mendunia
Jangan Lupa Ucapkan Bonjour
Ada satu hal sederhana yang menarik perhatian ketika berada di Paris:sapaan.
Bagi masyarakat Prancis, menyapa merupakan bagian penting dari tata krama. Karena itu, mengucapkan bonjour ketika memasuki restoran, toko, bakery, pasar, bahkan ketika bertemu orang di lift, menjadi kebiasaan yang sebaiknya diperhatikan.
Baca Juga: Bukan Sekadar Hotel, Bangunan Bersejarah di Paris Ini Melahirkan Mahakarya Dunia
Begitu pula ketika selesai berbelanja. Sebelum meninggalkan toko, mengucapkan au revoir menjadi bentuk kesopanan yang sederhana, tetapi penting dalam budaya setempat.
Galeries Lafayette, Simbol Kemewahan Paris
Perjalanan belanja kemudian membawa langkah menuju kawasan Boulevard Haussmann.
Baca Juga: Museum Louvre Paris, Saksi Bisu Ribuan Tahun Sejarah yang Masih Memikat Dunia
Di sana berdiri Galeries Lafayette, bangunan legendaris yang didirikan Théophile Bader dan Alphonse Kahn. Tempat ini begitu dikenal di kalangan penggemar merek-merek fashion ternama seperti Chanel, Louis Vuitton, Dior, dan berbagai label internasional lainnya.
Kemegahan bangunannya menjadi daya tarik tersendiri. Atap berbentuk kubah membuat pusat perbelanjaan ini tidak sekadar menjadi tempat membeli barang, tetapi juga bagian dari pengalaman menikmati Paris sebagai kota mode.
Galeries Lafayette seakan menjadi gambaran bagaimana fashion, arsitektur, dan gaya hidup berpadu menjadi satu.
Baca Juga: Jejak Sejarah Flanerie di Paris, Seni Berjalan Santai yang Membentuk Kota Romantis Dunia
Dari Fashion Mewah Beralih ke Barang Terjangkau
Setelah memanjakan mata dengan koleksi high fashion, pilihan belanja dapat bergeser ke tempat yang lebih ramah kantong.
Salah satunya Mistigriff. Sejak 1989, tempat ini mengakomodasi kebutuhan fashion masyarakat dengan berbagai produk desainer untuk pria, wanita, dan anak-anak.
Baca Juga: Menyusuri Sejarah Besar Austria di Museum Wien Stadt yang Terasa Begitu Mistis
Menariknya, barang yang dijual dapat diperoleh dengan potongan harga antara 25 hingga 85 persen.
Bagi masyarakat Paris dan Eropa pada umumnya, membeli barang bekas bukan sesuatu yang memalukan. Sebaliknya, cara tersebut menjadi salah satu pilihan untuk tetap tampil fashionable tanpa harus mengeluarkan biaya sebesar membeli barang baru.
Barang Bekas, tetapi Kondisinya Masih Menarik
Baca Juga: Kahlenberg dan Danube di Austria, Jejak Sejarah yang Melahirkan Lagu Abadi Dunia
Barang bekas yang dijual umumnya dipilih dalam kondisi masih baik. Sebagian bahkan terlihat seperti baru karena sebelumnya hanya beberapa kali digunakan.
Selain busana, Mistigriff juga menawarkan kosmetik, sepatu, produk kulit, tas, hingga tas untuk bepergian.
Jaringannya pun cukup luas. Terdapat puluhan outlet Mistigriff yang tersebar di berbagai wilayah Prancis.
Baca Juga: Mengenal Kota Tua Salzburg Austria, Destinasi Bersejarah dengan Kastel Megah dan Panorama Alpen
Menariknya, sejumlah merek pada barang yang dijual sengaja dihilangkan. Hal ini dilakukan untuk menghindari konsumen membawa barang tersebut ke butik resmi merek bersangkutan dan meminta layanan perbaikan gratis.
Pasar Loak Jadi Ruang Kreativitas
Paris juga memiliki budaya pasar loak yang kuat.Bagi sebagian masyarakat, pasar loak bukan sekadar tempat berburu barang murah. Tempat ini juga menjadi ruang bagi para perancang baru untuk memperkenalkan karya mereka.
Baca Juga: Menyusuri Istana Versailles di Prancis, Kisah Cinta Louis XVI yang Berakhir Tragis
Sejumlah desainer bahkan memulai debutnya dengan menjual karya di pasar loak. Salah satunya Roger Ewli yang dikenal dengan karya bermotif Afrika dan warna-warni.
Bagi wisatawan, pasar loak menawarkan pengalaman berbeda. Di tengah barang-barang yang beragam, pengunjung bisa menemukan produk berkualitas dengan harga yang jauh lebih terjangkau.
Salah satu contohnya sepatu kulit berkualitas buatan Portugis yang ditawarkan sekitar 45 euro.
Editor : Silvina