PONTIANAK POST - Langit Indonesia akan dihiasi sejumlah fenomena astronomi menarik sepanjang Agustus 2026, dengan Hujan Meteor Perseid dan Bulan Purnama Sturgeon Moon menjadi dua peristiwa paling spektakuler yang dapat diamati secara langsung di hampir seluruh wilayah Indonesia, tanpa menggunakan teleskop.
Meskipun dunia juga akan menyaksikan Gerhana Matahari Total pada 12 Agustus 2026, fenomena tersebut tidak dapat dilihat dari Indonesia karena jalur gerhananya hanya melintasi Greenland, Islandia, Samudra Atlantik, dan sebagian wilayah Spanyol.
Hujan Meteor Perseid Jadi Atraksi Utama
Informasi yang dihimpun Pontianak Post dari berbagai sumber, fenomena yang paling dinantikan adalah puncak Hujan Meteor Perseid yang diperkirakan terjadi pada malam 12 Agustus hingga dini hari 13 Agustus 2026.
Perseid dikenal sebagai salah satu hujan meteor terbaik setiap tahun dengan potensi menampilkan hingga 100 meteor per jam apabila langit cerah dan minim polusi cahaya.
Baca Juga: BMKG Keluarkan Peringatan Kekeringan di Kalbar, Ingatkan Potensi Karhutla Meningkat
Fenomena ini juga kerap menghadirkan fireball atau meteor berukuran besar yang memancarkan cahaya sangat terang saat melintasi atmosfer bumi.
Pengamatan tidak memerlukan teleskop karena meteor dapat disaksikan dengan mata telanjang dari lokasi yang gelap, terbuka, dan jauh dari cahaya perkotaan.
Kondisi langit diperkirakan semakin ideal karena fase Bulan Baru membuat cahaya bulan tidak mengganggu visibilitas meteor.
Kappa Cygnid dan Keindahan Galaksi Bima Sakti
Setelah Perseid, masyarakat Indonesia juga berkesempatan menikmati puncak Hujan Meteor Kappa Cygnid pada 18 Agustus 2026.
Baca Juga: BMKG Catat 5.019 Hotspot, Kalbar Masuk Zona Merah
Fenomena ini memiliki jumlah meteor yang lebih sedikit dibanding Perseid, namun terkenal karena sering menghasilkan fireball yang tampak sangat terang di langit malam.
Waktu terbaik untuk mengamati Kappa Cygnid dimulai sekitar pukul 21.00 WIB hingga menjelang dini hari.
Selain hujan meteor, pertengahan Agustus juga menjadi salah satu periode terbaik untuk mengamati inti Galaksi Bima Sakti atau Milky Way.
Jika cuaca cerah dan jauh dari polusi cahaya, masyarakat dapat melihat bentangan pita cahaya galaksi yang membelah langit malam dengan mata telanjang.
Baca Juga: Cuaca Panas Picu Lonjakan Konsumsi Listrik Rumah Tangga, BMKG Minta PLN Antisipasi
Sturgeon Moon Tutup Agustus 2026
Fenomena berikutnya adalah Bulan Purnama Sturgeon Moon yang mencapai fase puncak pada 28 Agustus 2026 pukul 14.18 WIB.
Meski puncak fase astronominya berlangsung pada siang hari, masyarakat Indonesia dapat menikmati pemandangan bulan purnama ketika bulan terbit setelah Matahari terbenam.
Dalam kondisi cuaca cerah, Bulan akan tampak bulat sempurna dan bersinar terang sepanjang malam.
Fenomena ini menjadi kesempatan menarik bagi pencinta fotografi malam maupun masyarakat yang ingin menikmati keindahan langit tanpa memerlukan peralatan khusus.
Baca Juga: BMKG Tetapkan Enam Provinsi Prioritas Operasi Modifikasi Cuaca, Kalbar Hadapi Ancaman El Nino
Gerhana Tidak Terlihat dari Indonesia
Selain fenomena yang dapat diamati dari Indonesia, Agustus 2026 juga menghadirkan Gerhana Matahari Total pada 12 Agustus dan Gerhana Bulan Sebagian pada 28 Agustus.
Namun, kedua peristiwa tersebut tidak memberikan kondisi pengamatan yang ideal bagi wilayah Indonesia karena jalur gerhana tidak melintasi kawasan Nusantara.
Karena itu, Hujan Meteor Perseid, Kappa Cygnid, Galaksi Bima Sakti, dan Bulan Purnama Sturgeon Moon menjadi empat fenomena langit utama yang paling layak dinantikan masyarakat Indonesia sepanjang Agustus 2026. (*)
Editor : Efprizan