PONTIANAK POST – Air conditioner (AC) kini menjadi salah satu perangkat elektronik yang hampir selalu hadir di rumah, perkantoran, pusat perbelanjaan, hingga rumah sakit. Kehadirannya membuat ruangan terasa sejuk dan nyaman, terutama di negara beriklim tropis seperti Indonesia.
Namun, tidak banyak yang mengetahui sejarah penemu AC ternyata berawal dari dunia medis. Penemuan teknologi pendingin ruangan bukan semata-mata diciptakan untuk memberikan kenyamanan, melainkan untuk membantu menyelamatkan pasien yang menderita penyakit serius.
Awal Mula Teknologi Pendingin Ruangan
Baca Juga: Benarkah Jamur di AC Bisa Membunuh Manusia? Ini Penjelasan Ahli
Dilansir dari aquaelektronik.com jauh sebelum AC modern ditemukan, berbagai peradaban kuno telah memiliki cara alami untuk membuat ruangan terasa lebih sejuk.
Bangsa Romawi, misalnya, mengalirkan air melalui bagian dalam dinding bangunan sehingga suhu di dalam ruangan menjadi lebih rendah. Sementara itu, Bangsa Persia memanfaatkan perpaduan tangki air dan menara angin untuk menghasilkan sirkulasi udara yang lebih dingin.
Memasuki era perkembangan ilmu pengetahuan, ilmuwan Inggris Michael Faraday melakukan eksperimen menggunakan gas amonia untuk menghasilkan efek pendinginan. Penelitian tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam perkembangan teknologi pendingin udara di masa berikutnya.
John Gorrie, Dokter yang Menginspirasi Penemuan AC
Tonggak penting dalam sejarah pendingin ruangan terjadi pada tahun 1842 ketika seorang dokter sekaligus ilmuwan bernama John Gorrie melakukan penelitian mengenai cara menurunkan suhu ruangan.
Saat itu, dunia sedang menghadapi wabah malaria dan demam tinggi. Banyak pasien mengalami kondisi yang semakin memburuk karena suhu ruangan yang panas dan sirkulasi udara yang tidak memadai.
Baca Juga: Xiaomi Luncurkan AC Terbaru, Diklaim Mampu Dinginkan Ruangan dalam 15 Detik
Melihat kondisi tersebut, John Gorrie mencoba mendinginkan ruangan dengan cara sederhana. Ia menempatkan bongkahan es di dalam wadah besar yang digantung di langit-langit ruangan, kemudian mengarahkan kipas angin ke wadah tersebut agar udara dingin menyebar ke seluruh ruangan.
Cara tersebut memang mampu menurunkan suhu ruangan, tetapi belum efektif. Es sangat sulit diperoleh karena harus didatangkan dari kawasan danau di Amerika Serikat bagian utara, sementara proses pencairannya berlangsung sangat cepat.
Berhasil Meraih Paten Mesin Es
Kegagalan metode tersebut justru mendorong John Gorrie untuk mencari solusi yang lebih praktis.
Pada tahun 1845, ia memutuskan meninggalkan profesinya sebagai tenaga medis agar dapat berkonsentrasi penuh mengembangkan mesin pendingin.
Enam tahun kemudian, kerja kerasnya membuahkan hasil. John Gorrie memperoleh paten Amerika Serikat pertama untuk mesin pembuat es yang menggunakan udara terkompresi sebagai refrigeran.
Baca Juga: Serupa tapi Tak Sama! Mengenal Perbedaan Dewa Yunani dan Romawi dalam Sejarah Klasik Mediterania
Penemuan itu menjadi salah satu langkah awal yang membuka jalan bagi perkembangan teknologi pendingin udara modern yang dikenal saat ini.
Penemuannya Belum Sempat Disempurnakan
Meski berhasil mendapatkan paten, perjalanan John Gorrie tidak berjalan mulus. Ia mengalami keterbatasan dana sehingga tidak mampu menyempurnakan teknologi yang telah dirancangnya.
Baca Juga: Jejak Sejarah Flanerie di Paris, Seni Berjalan Santai yang Membentuk Kota Romantis Dunia
Di sisi lain, kondisi kesehatannya terus menurun hingga akhirnya meninggal dunia pada tahun 1855.
Walaupun demikian, gagasan dan penelitiannya menjadi dasar penting bagi lahirnya teknologi pendingin udara yang terus berkembang hingga sekarang.
Kini, AC tidak hanya berfungsi memberikan kenyamanan, tetapi juga berperan menjaga kualitas udara di berbagai fasilitas penting, termasuk rumah sakit, laboratorium, hingga pusat penyimpanan data. Berkat inovasi para ilmuwan yang diawali oleh upaya John Gorrie, teknologi pendingin ruangan terus berkembang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern.
Editor : Silvina