Sejarah Klenteng Tiga Pontianak, Disebut Sudah Ada Sebelum Pontianak Resmi Berdiri di Tahun 1771

Silvina • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 12:39 WIB
KLENTENG TIGA : Potongan video dari kanal   yang meperlihatkan bagian depan Klenteng Tiga di Pontianak
KLENTENG TIGA : Potongan video dari kanal 33apepsychanel10 yang meperlihatkan bagian depan Klenteng Tiga di Pontianak

 

PONTIANAK POST – Di tengah pesatnya perkembangan Kota Pontianak, masih berdiri sebuah bangunan tua yang menjadi saksi perjalanan panjang masyarakat Tionghoa di Kalimantan Barat. Bangunan itu adalah Klenteng Tiga atau Vihara Bodhisatva Karania Metta, yang berada di kawasan Pasar Kapuas Indah, tepatnya di simpang Jalan Sultan Muhammad, Kota Pontianak.

Klenteng yang juga dikenal dengan nama Shasingking atau Klenteng Tridarma Bakti ini bukan hanya menjadi tempat ibadah umat Tri Dharma, tetapi juga menyimpan sejarah panjang yang dipercaya telah berlangsung selama lebih dari tiga abad.

Berada di Kawasan Bersejarah Kota Pontianak

Baca Juga: Menyusuri Sejarah dan Keunikan Klenteng Tengah Laut Kubu Raya, Satu-Satunya di Dunia

Lokasi Kelenteng Tiga berada di kawasan yang kini dikenal sebagai kompleks Mal Pelayanan Publik Kota Pontianak. Di sekitarnya terdapat kawasan Pasar Kapuas Indah, dermaga yang melayani kapal-kapal menuju daerah pedalaman Kalimantan Barat, serta kawasan wisata Waterfront Kota Pontianak.

Letaknya yang berada di pusat aktivitas masyarakat menjadikan klenteng ini mudah dijangkau sekaligus menjadi salah satu bangunan bersejarah yang masih bertahan di tengah modernisasi kota.

Selain menjadi tempat ibadah, banyak wisatawan maupun pecinta sejarah datang untuk melihat langsung salah satu peninggalan budaya masyarakat Tionghoa yang telah lama berkembang di Pontianak.

Baca Juga: Mengintip Klenteng Surga Neraka di Singkawang, Destinasi Ikonik dengan Arsitektur Memukau dan Sarat Filosofi

Diklaim Berdiri Sejak Lebih dari 300 Tahun Lalu

Berdasarkan keterangan Ketua Pengurus Vihara Bodhisatva Karania Metta, Gunawan, yang disampaikan dalam video kanal YouTube 33apepsychanel10, Kelenteng Tiga dipercaya telah berdiri sejak sekitar tahun 1673 atau lebih dari 350 tahun yang lalu.

Menurut pengurus, usia bangunan tersebut diketahui dari berbagai catatan yang masih tersimpan, termasuk tulisan berbahasa Mandarin yang terdapat pada bagian gapura kelenteng.

Baca Juga: Menyusuri Jejak Republik Lanfang di Kalimantan Barat, Dari Taman hingga Klenteng Bersejarah

Jika merujuk pada keterangan tersebut, Klenteng Tiga menjadi salah satu tempat ibadah tertua di Kota Pontianak. Bahkan keberadaannya disebut telah ada sebelum Kota Pontianak resmi didirikan pada tahun 1771.

Meski demikian, informasi mengenai tahun pendirian tersebut merupakan penuturan dari pihak pengurus klenteng yang disampaikan dalam wawancara dan menjadi bagian dari sejarah lisan yang terus diwariskan.

Lonceng Berusia Ratusan Tahun Masih Digunakan

Baca Juga: Menyusuri Klenteng Tua di Hang Mui Singkawang, Jejak Awal Masyarakat Hakka di Kalimantan Barat

Salah satu benda bersejarah yang masih dapat dijumpai di Klenteng Tiga adalah sebuah lonceng tua bertahun 1789.

Menurut penjelasan pengurus, lonceng tersebut hingga kini masih difungsikan sebagai bagian dari ritual ibadah.

Suara lonceng akan dibunyikan sesuai waktu tertentu sebagai penanda dimulainya kegiatan sembahyang. Tradisi itu telah berlangsung secara turun-temurun dan tetap dipertahankan hingga sekarang.

Baca Juga: Klenteng Tua di Hang Mui Singkawang Konon Bermula dari Sebongkah Batu

Keberadaan lonceng tua tersebut menjadi salah satu bukti bahwa berbagai perlengkapan ibadah di klenteng ini masih dijaga dan digunakan sebagaimana mestinya.

Dibangun Menggunakan Kayu Belian

Keunikan lain Klenteng Tiga terdapat pada konstruksi bangunannya.

Baca Juga: Ternyata Ada Tradisi Pernikahan Tionghoa yang Sarat Pantangan hingga Mobil Pengantin Tak Boleh Mundur

Menurut pengurus wihara, pondasi hingga sebagian besar struktur bangunan menggunakan kayu belian atau kayu ulin, jenis kayu khas Kalimantan yang terkenal sangat kuat dan tahan terhadap perubahan cuaca.

Saat ini, kayu belian semakin sulit diperoleh sehingga keberadaan bangunan yang masih mempertahankan material aslinya memiliki nilai sejarah sekaligus nilai arsitektur yang tinggi.

Dominasi warna merah dan kuning emas pada bangunan juga tetap dipertahankan. Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, kedua warna tersebut melambangkan kebahagiaan, keberuntungan, dan kesejahteraan.

Baca Juga: Fakta Menarik Rumah Hakka di Kubu Raya, Seluruh Bangunannya Terbuat dari Bata Tanpa Plester

Menjadi Bagian dari Warisan Budaya Pontianak

Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, Klenteng Tiga juga menjadi salah satu bangunan yang memperlihatkan perjalanan panjang keberagaman budaya di Kota Pontianak.

Keberadaannya menjadi bukti bahwa komunitas Tionghoa telah hadir dan berkembang di Kalimantan Barat sejak ratusan tahun lalu. Hingga kini, klenteng tersebut masih aktif digunakan untuk kegiatan keagamaan, terutama pada tanggal 1 dan 15 kalender Imlek yang menjadi hari sembahyang rutin umat.

Baca Juga: Sejarah Rumah Tertua Keluarga Tjhia di Singkawang, Dibangun Perantau yang Bangkit dari Kebangkrutan

Tak hanya dikunjungi umat yang beribadah, Klenteng Tiga juga terbuka bagi masyarakat umum yang ingin mengenal sejarah, budaya, maupun arsitektur bangunan tua di Kota Pontianak dengan tetap menjaga sopan santun selama berada di area wihara.

Editor : Silvina
warisan sejarah lonceng tua klenteng tiga pontianak sejarha kleteng tiga pontianak tempat ibadah tionghoa