Benarkah Singapura Negara Tionghoa? Mengulas Sejarah Migrasi, Budaya Multikultural, dan Identitas Nasionalnya

Rafael B. Junior • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 11:24 WIB
Ilustrasi Patung Merlion.
Ilustrasi Patung Merlion.

PONTIANAK POST – Pertanyaan mengenai apakah Singapura merupakan "negara Tionghoa" kerap memunculkan perdebatan. Di satu sisi, sekitar tiga perempat penduduk negara-kota tersebut berasal dari etnis Tionghoa. Namun di sisi lain, Singapura berada di jantung kawasan Melayu, menggunakan Bahasa Melayu sebagai bahasa nasional, dan membangun identitas kebangsaan yang secara resmi tidak didasarkan pada satu etnis tertentu.

Paradoks inilah yang menjadikan identitas Singapura menarik untuk dipahami. Secara demografi, mayoritas penduduknya memang keturunan Tionghoa. Akan tetapi, secara sejarah, budaya, hingga konsep kenegaraan, Singapura tidak pernah mendeklarasikan diri sebagai negara etnis Tionghoa.

Berada di Tanah Melayu, tetapi Mayoritas Penduduknya Tionghoa

Secara geografis, Singapura merupakan bagian dari Semenanjung Melayu. Sebelum berkembang menjadi pusat perdagangan internasional, pulau tersebut telah menjadi bagian dari jaringan politik dan perdagangan kerajaan-kerajaan Melayu, termasuk Kesultanan Johor.

Pada 1819, ketika Sir Stamford Raffles mendirikan pelabuhan dagang Inggris di Singapura, pulau itu mulai berkembang pesat sebagai pusat perdagangan bebas. Kesempatan ekonomi tersebut menarik arus migrasi besar-besaran dari berbagai wilayah Asia, terutama dari Tiongkok bagian selatan.

Mayoritas pendatang berasal dari Provinsi Fujian dan Guangdong. Mereka terdiri atas berbagai kelompok dialek seperti Hokkien, Teochew, Kanton, Hakka, dan Hainan. Sebagian besar datang sebagai buruh, pedagang, pengrajin, hingga pekerja pelabuhan.

Migrasi tersebut berlangsung selama abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Dalam beberapa dekade, jumlah penduduk keturunan Tionghoa meningkat sangat cepat hingga akhirnya menjadi kelompok mayoritas di Singapura.

Baca Juga: Bukan Sekadar Hiasan, Ornamen Klenteng Tiga Pontianak Punya Filosofi Budaya Tionghoa

Dari Mana Asal Orang Tionghoa Singapura?

Sebagian besar masyarakat Tionghoa di Singapura bukanlah penduduk asli pulau tersebut, melainkan keturunan imigran yang datang pada masa kolonial Inggris.

Menurut sejarawan Wang Gungwu dalam The Chinese Overseas: From Earthbound China to the Quest for Autonomy, komunitas Tionghoa perantauan di Asia Tenggara berkembang sebagai diaspora yang secara bertahap membangun identitas baru sesuai kondisi negara tempat mereka menetap.

Awalnya banyak imigran masih mempertahankan hubungan emosional dengan kampung halaman di Tiongkok. Namun setelah beberapa generasi, terutama setelah Singapura merdeka pada 1965, identitas mereka bergeser menjadi warga negara Singapura, bukan lagi bagian dari bangsa Tiongkok.

Fenomena tersebut berbeda dengan anggapan bahwa seluruh masyarakat keturunan Tionghoa memiliki loyalitas politik terhadap China. Dalam praktiknya, mayoritas warga Tionghoa Singapura mengidentifikasi diri sebagai orang Singapura.

Baca Juga: Serupa tapi Tak Sama! Mengenal Perbedaan Dewa Yunani dan Romawi dalam Sejarah Klasik Mediterania

Mengapa Bahasa Nasionalnya Justru Melayu?

Salah satu hal yang sering membingungkan publik adalah status Bahasa Melayu sebagai bahasa nasional Singapura, meskipun mayoritas penduduknya merupakan etnis Tionghoa.

Keputusan tersebut memiliki alasan historis dan politik.

Saat Singapura memperoleh pemerintahan sendiri dan kemudian merdeka, para pendiri negara ingin mengakui fakta bahwa Singapura berada di kawasan Melayu. Bahasa Melayu dipertahankan sebagai simbol sejarah dan penghormatan terhadap masyarakat Melayu sebagai penduduk asli kawasan tersebut.

Karena itu, lagu kebangsaan Majulah Singapura ditulis dalam Bahasa Melayu hingga sekarang.

Meski demikian, dalam kehidupan sehari-hari Bahasa Inggris berkembang menjadi bahasa utama pemerintahan, pendidikan, bisnis, dan komunikasi antar-etnis. Selain Inggris, pemerintah juga mengakui Bahasa Mandarin, Melayu, dan Tamil sebagai bahasa resmi.

Kebijakan ini bertujuan menjaga keseimbangan antar-komunitas sekaligus memperkuat daya saing ekonomi.

Baca Juga: ULM dan Nanyang Technological University Singapura Jajaki Riset Konservasi Bekantan di Pulau Curiak, Perkuat Kolaborasi Internasional

Apakah Budaya Singapura Budaya Tionghoa?

Jawabannya tidak sesederhana itu.

Budaya Singapura merupakan hasil percampuran berbagai tradisi Asia yang berkembang selama ratusan tahun.

Pengaruh budaya Tionghoa memang sangat kuat. Hal itu terlihat dari perayaan Tahun Baru Imlek, keberadaan kuil-kuil Tionghoa, makanan khas, hingga penggunaan Bahasa Mandarin.

Namun di sisi lain, unsur budaya Melayu juga sangat melekat.

Tradisi kuliner seperti nasi lemak, sate, rendang, hingga penggunaan istilah Melayu dalam kehidupan sehari-hari menjadi bagian penting identitas nasional Singapura. Simbol-simbol negara, lagu kebangsaan, hingga sejumlah upacara kenegaraan juga mempertahankan unsur Melayu.

Selain itu, komunitas India turut memberikan kontribusi besar terhadap kebudayaan Singapura, baik melalui agama, makanan, seni, maupun bahasa.

Karena itu, identitas budaya Singapura lebih tepat dipahami sebagai identitas multikultural daripada identitas Tionghoa semata.

Baca Juga: Universitas China Buka Jurusan Tanah Jarang, Jadi Peluang Emas bagi Putra-Putri Kalbar

Mengapa Pemerintah Tidak Menyebut Singapura sebagai Negara Tionghoa?

Sejak kemerdekaan, pemerintah Singapura secara konsisten menolak konsep negara berdasarkan satu etnis.

Menurut kajian Michael D. Barr dan Zlatko Skrbiš dalam Constructing Singapore, negara membangun identitas nasional melalui konsep multirasial yang menempatkan etnis Tionghoa, Melayu, India, dan kelompok lain sebagai bagian dari bangsa Singapura.

Pendekatan tersebut juga dijelaskan oleh Stephan Ortmann dalam artikelnya Singapore: The Politics of Inventing National Identity. Menurutnya, identitas nasional Singapura sengaja dibangun di atas kewarganegaraan, bukan kesamaan ras atau asal-usul etnis.

Konsep ini muncul karena para pemimpin Singapura menyadari bahwa negara kecil tersebut hanya dapat bertahan jika seluruh kelompok etnis merasa memiliki kedudukan yang setara.

Baca Juga: Apakah Hong Kong Termasuk Tiongkok atau Negara Independen? Ini Penjelasan Sejarah dan Hukumnya

Hubungan dengan China Tidak Berarti Identitasnya Sama

Meningkatnya hubungan ekonomi Singapura dengan China dalam beberapa dekade terakhir juga sering memunculkan anggapan bahwa Singapura merupakan "negara China di Asia Tenggara".

Padahal secara politik maupun identitas nasional, keduanya berbeda.

Kajian Wang Gungwu menunjukkan bahwa komunitas diaspora Tionghoa di Asia Tenggara telah mengalami proses lokalisasi yang panjang. Mereka membentuk identitas kebangsaan masing-masing sesuai negara tempat tinggalnya.

Pandangan serupa juga diperkuat oleh Leo Suryadinata dalam The Making of Southeast Asian Nations, yang menjelaskan bahwa kewarganegaraan dan identitas nasional di Asia Tenggara berkembang secara terpisah dari identitas etnis asal.

Paradoks yang Menjadi Kekuatan Singapura

Singapura merupakan contoh unik negara modern yang memperlihatkan bahwa komposisi etnis tidak selalu menentukan identitas nasional.

Mayoritas penduduknya memang merupakan keturunan imigran Tionghoa dari Fujian dan Guangdong. Namun negara tersebut berdiri di kawasan Melayu, mempertahankan Bahasa Melayu sebagai bahasa nasional, menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa kerja, serta membangun sistem politik yang menekankan multirasialisme.

Paradoks inilah yang membedakan Singapura dari banyak negara lain. Ia bukan negara Tionghoa dalam pengertian negara bangsa berbasis etnis, melainkan negara multikultural dengan mayoritas penduduk keturunan Tionghoa yang telah membentuk identitas kebangsaan Singapura melalui sejarah kolonial, migrasi, dan proses nation-building selama lebih dari setengah abad. (*)

Editor : Rafael B. Junior
sejarah singapura tionghoa identitas melayu