PONTIANAK POST – Di antara deretan tokoh yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Kalimantan Barat, nama Bardan Nadi Sutrisno mungkin belum sepopuler pahlawan nasional lainnya. Padahal, perjalanan hidupnya menyimpan kisah perjuangan sekaligus pengorbanan yang begitu besar.
Berdasarkan kajian sejarah yang dihimpun peminat sejarah Kalimantan Barat, Syafaruddin Daeng Usman, Bardan Nadi Sutrisno merupakan orang Indonesia pertama yang dijatuhi hukuman mati pada masa Revolusi Fisik 1945–1950. Ia dieksekusi oleh regu tembak di Penjara Sungai Jawi, Pontianak, pada 17 April 1947.
Pengorbanannya menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat, meski namanya belum banyak dikenal oleh masyarakat luas.
Baca Juga: Sejarah Lahirnya TNI di Kalbar (Bag-1) : Tarik Ulur Politik Mengawali Jalan Panjang Kehadiran TNI
Bergabung dalam Gerakan Mempertahankan Kemerdekaan
Setelah kabar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia sampai di Kalimantan Barat pada September 1945, semangat perjuangan rakyat semakin menguat.
Di Ngabang, Kabupaten Landak, Bardan Nadi Sutrisno bergabung dalam Persatoean Ra'jat Indonesia (PRI), organisasi yang dibentuk untuk menyebarkan berita kemerdekaan sekaligus mempersiapkan perlawanan terhadap pasukan Netherlands Indies Civil Administration (NICA) yang kembali datang ke Kalimantan Barat.
Baca Juga: Sejarah Lahirnya TNI di Kalbar (Bag-2): Demonstrasi Rakyat Menggema Demi Keamanan Daerah
Bersama tokoh-tokoh seperti Gusti Abdulhamid Aun, Ya' Nasri Dedeh Osman, Gusti Mohamad Appandie Ranie, Kadaruddin B. Mundit, dan para pejuang lainnya, Bardan turut menggerakkan rakyat untuk mempertahankan Republik Indonesia yang baru berdiri.
Keluarga Turut Menjadi Korban
Perjuangan Bardan Nadi Sutrisno tidak hanya mengorbankan dirinya sendiri, tetapi juga keluarganya.
Baca Juga: Sejarah Lahirnya TNI di Kalbar (Bag-3): Keberangkatan Mayor Suharsono Memicu Langkah Baru Perjuangan
Setelah meletusnya Pertempuran Ngabang dan sejumlah perlawanan di berbagai daerah pada Oktober 1946, situasi semakin mencekam. Bardan akhirnya berhasil ditangkap oleh pasukan NICA.
Sebelum penangkapannya, anak balitanya yang bernama Paini Trisnowati menjadi korban kekerasan ketika ditembak oleh kaki tangan NICA KNIL Belanda. Dua saudara kandungnya, Sardiman dan Ngadimin, juga ikut ditahan oleh militer Belanda.
Tidak berhenti di situ, ibu mertuanya, Fatimah, turut menjadi korban setelah ditembak mati oleh kaki tangan NICA KNIL Belanda di kawasan Tanjung Putus, Teluk Pakedai.
Baca Juga: Sejarah Lahirnya TNI di Kalbar (Bag 4): Kedatangan 200 Prajurit TNI ke Pontianak Menandai Babak Baru
Rangkaian peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa dampak perjuangan kemerdekaan tidak hanya dirasakan para pejuang di medan perang, tetapi juga keluarga mereka.
Dieksekusi di Penjara Sungai Jawi
Puncak pengorbanan Bardan terjadi pada 17 April 1947.
Baca Juga: Sejarah Monumen Ali Anyang di Kubu Raya dan Alasan Dibangun di Pertigaan Trans Kalimantan
Di Penjara Sungai Jawi, Pontianak, ia menjalani eksekusi mati oleh satu regu tembak yang terdiri atas belasan personel. Hukuman tersebut dijatuhkan setelah Bardan dianggap terlibat dalam gerakan perlawanan bersenjata terhadap pemerintahan kolonial Belanda.
Menurut Syafaruddin Daeng Usman, Bardan Nadi Sutrisno menjadi orang Indonesia pertama yang dijatuhi hukuman mati pada masa Revolusi Fisik 1945–1950.
Peristiwa itu menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah perjuangan bangsa, khususnya di Kalimantan Barat.
Banyak Rekannya Gugur dalam Perjuangan
Bardan bukan satu-satunya pejuang yang harus membayar mahal perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Ya' Nasri Dedeh Osman gugur setelah memimpin penyerbuan pada Pertempuran Ngabang. Gusti Mohamad Said Rani meninggal dunia akibat penyiksaan berat selama menjalani penahanan di Penjara Sungai Jawi.
Baca Juga: Mengenang Soeharto di Hari Kelahirannya, Dari Kritik Sejarah hingga Gelar Pahlawan Nasional
Sementara itu, Mane Pak Kasih bersama 27 anggota pasukannya gugur dalam kontak senjata di Sidas. Di wilayah Menyuke, Bun Yamin, A. Kasim, dan A. Rani juga kehilangan nyawa setelah ditangkap, disiksa, lalu ditembak oleh pasukan Belanda.
Perlawanan bersenjata juga terus berlangsung di berbagai daerah seperti Serimbu, Darit, Meranti, Sengah Temila, hingga Teluk Pakedai dengan melibatkan banyak tokoh pejuang dari berbagai latar belakang masyarakat.
Pengorbanan yang Layak Dikenang
Baca Juga: Kekuatan Pahlawan Nasional Jenderal Soedirman Ternyata Bukan Senjata
Syafaruddin Daeng Usman mengatakan perjuangan para tokoh seperti Bardan Nadi Sutrisno merupakan bagian penting dari sejarah Kalimantan Barat yang perlu terus dikenalkan kepada generasi muda.
Menurutnya, semangat mempertahankan kemerdekaan yang diperlihatkan para pejuang tersebut menjadi bukti bahwa rakyat Kalimantan Barat ikut memberikan pengorbanan besar dalam mempertahankan Republik Indonesia.
"Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu menghargai jasa para pahlawannya dan jangan sekali-kali melupakan sejarah," ujarnya.
Baca Juga: Mengenal Pahlawan Wanita dari Kayong Utara yang Makamnya Masih Terawat di Perbukitan
Meski waktu terus berlalu, kisah Bardan Nadi Sutrisno tetap menjadi pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia diraih melalui pengorbanan banyak putra daerah yang rela mempertaruhkan, bahkan kehilangan, nyawanya demi tegaknya Republik Indonesia.
Editor : Silvina