Tak Hanya Surabaya, Kalimantan Barat Juga Memiliki Pertempuran Besar Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Silvina • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 14:06 WIB
Salah satu ruas jalan di Ngabang Kalbar. Daerah ini pernah terjadi pertempuran besar (DOK PONTIANAK POST)
Salah satu ruas jalan di Ngabang Kalbar. Di daerah ini pernah terjadi pertempuran besar usai Indonesia merdeka. (DOK PONTIANAK POST)

 

PONTIANAK POST – Ketika berbicara tentang perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, banyak orang mengenal Pertempuran Surabaya atau Bandung Lautan Api. Namun, tidak banyak yang mengetahui Kalimantan Barat juga memiliki salah satu pertempuran besar pada masa Revolusi Fisik, yakni Pertempuran Ngabang yang meletus pada 10 Oktober 1946.

Peristiwa tersebut menjadi tonggak penting dalam sejarah perjuangan rakyat Kalimantan Barat melawan kembalinya pemerintahan kolonial Belanda melalui Netherlands Indies Civil Administration (NICA). Perlawanan itu melibatkan para pemuda, tokoh masyarakat, hingga rakyat dari berbagai daerah yang bersatu mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Menurut peminat kajian sejarah Kalimantan Barat, Syafaruddin Daeng Usman, Pertempuran Ngabang merupakan pertempuran berskala terbesar yang terjadi di Kalimantan Barat selama Revolusi Fisik 1945–1949.

Baca Juga: Bukan di Kantor Pemerintahan, Merah Putih Pertama di Pontianak Justru Berkibar di Padang Sayok

Berawal dari Organisasi Perjuangan Rakyat

Setelah kabar kemerdekaan Indonesia menyebar ke Kalimantan Barat pada September 1945, semangat perjuangan masyarakat semakin menguat.

Di Ngabang, Kabupaten Landak, pada 20 September 1945 dibentuk Persatoean Ra'jat Indonesia (PRI). Organisasi ini merupakan cabang dari Pemuda Penyongsong Republik Indonesia (PPRI) yang berpusat di Pontianak.

Baca Juga: Mengenang Bardan Nadi Sutrisno, Pejuang Kalbar yang Disebut sebagai Orang Indonesia Pertama Dieksekusi Mati oleh Belanda

PRI dipimpin Gusti Abdulhamid Aun dengan dukungan sejumlah tokoh, antara lain Gusti Mohamad Appandie Ranie Pangeran Mangkubumi Setia Negara, Bardan Nadi, Ya' Nasri Dedeh Osman, Gusti Mohammad Lagum Amin, Kadaruddin B. Mundit, Ya' Mustafa Tayib, serta tokoh-tokoh pejuang lainnya.

“Tujuan organisasi tersebut bukan hanya menyebarkan berita kemerdekaan, tetapi juga mempersiapkan rakyat menghadapi ancaman kembalinya Belanda yang mulai menempatkan kekuatan militernya di Kalimantan Barat sejak akhir Oktober 1945,” ujar Syafarudin

Berganti Nama Menjadi Gerakan Ra'jat Merdeka

Baca Juga: Indonesia Telah Merdeka, Tapi Kabar Proklamasi Baru Tiba di Pontianak Sebulan Kemudian, Ini Kisah Bersejarahnya

Selama hampir satu tahun, PRI menggalang kekuatan rakyat di berbagai wilayah Landak.

Setelah melakukan koordinasi dengan berbagai badan perjuangan di Pontianak, Sambas, Singkawang, Bengkayang, Anjungan, Sanggau, hingga Sintang, organisasi tersebut kemudian berganti nama menjadi Gerakan Ra'jat Merdeka (Geram) pada 9 Oktober 1946 atas instruksi pimpinan pusat PPRI di Pontianak, dr. Mas Soedarso.

Pergantian nama tersebut menandai kesiapan para pejuang untuk meningkatkan perlawanan secara lebih terorganisasi terhadap pasukan NICA Belanda.

Baca Juga: Wagub Krisantus Ajak Generasi Muda Teladani Semangat Pahlawan untuk Indonesia Maju

Serangan Dimulai Tengah Malam

Menurut Syafarudin, memasuki Kamis dini hari, 10 Oktober 1946, sekitar pukul 00.00 WIB, pasukan Geram melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran strategis di Ngabang.

Target utama mereka meliputi tangsi militer, pos polisi, dan jembatan yang menjadi jalur penting bagi pasukan Belanda.

Baca Juga: Kekuatan Pahlawan Nasional Jenderal Soedirman Ternyata Bukan Senjata

Baku tembak berlangsung sengit hingga Jumat pagi, 11 Oktober 1946 sekitar pukul 07.00 WIB. Pertempuran yang berlangsung selama beberapa jam itu memperlihatkan tekad para pejuang Kalimantan Barat mempertahankan kemerdekaan meskipun menghadapi persenjataan yang jauh lebih lengkap.

Banyak Pejuang Gugur di Medan Perang

“Pertempuran tersebut memakan banyak korban di pihak pejuang,” jelas  Syafarudin yang juga akademisi ini.

Baca Juga: Mengenang Soeharto di Hari Kelahirannya, Dari Kritik Sejarah hingga Gelar Pahlawan Nasional

Salah satu tokoh yang gugur ialah Ya' Nasri Dedeh Osman. Ia tertembak ketika memimpin penyerbuan dan berada di lubang perlindungan peninggalan Jepang yang terletak di depan rumah Controleur Landak, Dr. A.B. Faber.

Perlawanan kemudian berlanjut di berbagai wilayah. Pada 27 Oktober 1946, pertempuran kembali pecah di Sidas. Dalam kontak senjata itu, Pak Kasih bersama pasukannya gugur setelah menghadapi pasukan NICA dengan persenjataan yang tidak seimbang.

Di kawasan simpang Jatak menuju Menyuke, perlawanan juga berkobar. Bun Yamin, A. Kasim, dan A. Rani gugur setelah sebelumnya ditangkap, mengalami penyiksaan, lalu ditembak oleh pasukan Belanda.

Baca Juga: Terungkap, Begini Jejak Dakwah Soeharto di Papua yang Masih Dikenang hingga Kini

Perlawanan Meluas ke Berbagai Daerah

Gelombang perjuangan tidak hanya terjadi di Ngabang dan Sidas.

Perlawanan juga berkembang ke Serimbu, Sengah Temila, Darit, Meranti, Menyuke, Teluk Pakedai, Sungai Kakap, hingga sejumlah wilayah lain di Kalimantan Barat.

Baca Juga: Kemerdekaan dan Literasi yang Tersisa

Tokoh-tokoh seperti Gusti Mohamad Appandie Ranie, Gusti Mustafa Sotol, Ya' A. Rahim Anom, Gusti Muhammad Saleh Aliudin, Ahmad Djajadi, Kimas Akil Abdurrahman, Merseb Abdurrahman, Hamdan Budjang, dan banyak pejuang lainnya terus menggerakkan perjuangan bersenjata meski harus menghadapi pengejaran serta penangkapan oleh pasukan NICA.

Sebagian di antara mereka akhirnya tertangkap akibat pengkhianatan, sementara lainnya gugur dalam berbagai pertempuran yang tersebar di wilayah Kalimantan Barat.

Menjadi Bagian Penting Sejarah Revolusi di Kalimantan Barat

Baca Juga: Maknai Kemerdekaan Lewat Munajat, Kakanwil Kemenag Kalbar Ajak Umat Gelar Zikir Kebangsaan HUT RI

Syafaruddin lalu menegaskan, Pertempuran Ngabang merupakan salah satu perlawanan terbesar yang pernah terjadi di Kalimantan Barat selama Revolusi Fisik 1945–1949.

Menurutnya, peristiwa tersebut menunjukkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya berlangsung di Pulau Jawa, tetapi juga berkobar di Kalimantan Barat dengan melibatkan tokoh-tokoh Melayu, Dayak, dan berbagai unsur masyarakat lainnya.

Pertempuran Ngabang menjadi bukti bahwa semangat mempertahankan kemerdekaan tumbuh kuat di Bumi Khatulistiwa. Pengorbanan para pejuang yang gugur dalam pertempuran itu menjadi bagian penting dari sejarah bangsa dan layak terus dikenang oleh generasi masa kini.

.

 

Editor : Silvina
pertempuran di kalbar pertempuran melawan penjajah pejuang kalbar mempertahankan kemerdekaan perjuangan kemerdekaan sejarah perjuangan kalbar