S.K. Trimurti, Wartawati Pejuang yang Berani Melawan Kolonial Belanda Lewat Tulisan

Silvina • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 10:47 WIB
SK Tirmurti wartawati pejuang yang berani melawan Belanda lewat tulisan. (DOK AJI)
SK Tirmurti wartawati pejuang yang berani melawan Belanda lewat tulisan. (DOK AJI)

 

PONTIANAK POST – Nama S.K. Trimurti menjadi bagian penting dalam perjalanan perjuangan Indonesia, khususnya dalam perjuangan melalui tulisan, pendidikan, dan kebebasan pers. Perempuan bernama lengkap Surastri Karma Trimurti itu dikenal sebagai penulis, guru, wartawati, sekaligus tokoh yang gigih memperjuangkan kebebasan dan hak kaum tertindas.

S.K. Trimurti juga merupakan istri Sayuti Melik, tokoh yang dikenal sebagai pengetik naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Namun, perjuangan S.K. Trimurti tidak berlangsung tanpa risiko. Aktivitasnya menyebarkan pamflet anti-penjajah Belanda kepada murid-murid dan masyarakat membuatnya ditangkap dan dipenjara.

Baca Juga: Tan Malaka, Pahlawan Kemerdekaan yang Meninggal Tragis Setelah Indonesia Merdeka

Dari Guru hingga Wartawati

Berdasarkan informasi dari Ruang Guru, S.K. Trimurti menjalani berbagai peran dalam perjuangannya. Ia tidak hanya dikenal sebagai seorang guru, tetapi juga aktif sebagai penulis dan wartawati.

Pendidikan menjadi salah satu ruang yang digunakannya untuk menyampaikan gagasan. Pamflet anti-penjajah Belanda yang disebarkannya kepada murid-murid dan masyarakat kemudian membuat pemerintah kolonial mengambil tindakan terhadapnya.

Baca Juga: Frans Kaisiepo, Pahlawan Papua di Uang Rp10.000 yang Perjuangannya Jarang Diketahui

Ia ditangkap dan menjalani hukuman penjara.

Setelah bebas, perjuangan S.K. Trimurti tidak berhenti. Ia tetap menulis untuk sejumlah surat kabar dengan tujuan menyadarkan masyarakat Indonesia mengenai kondisi sebagai bangsa yang berada di bawah penjajahan.

Tulisan Menjadi Senjata Perjuangan

Baca Juga: Mengenang Bardan Nadi Sutrisno, Pejuang Kalbar yang Disebut sebagai Orang Indonesia Pertama Dieksekusi Mati oleh Belanda

Bagi S.K. Trimurti, tulisan bukan sekadar pekerjaan. Media menjadi ruang untuk membangun kesadaran masyarakat.

Meskipun telah menggunakan nama samaran, aktivitasnya tetap membuat pihak kolonial Belanda memusuhinya.

S.K. Trimurti kemudian kembali dipenjara dan menjalani masa tahanan pada 1939 hingga 1943.

Baca Juga: Sejarah Panjat Pinang HUT RI, Ternyata Berawal dari Pribumi yang Dijadikan Tontonan Penjajah

Pengalaman tersebut menunjukkan besarnya risiko yang dihadapi seorang perempuan yang memilih menggunakan tulisan dan gagasan sebagai bagian dari perjuangan melawan kolonialisme.

Gigih Memperjuangkan Kebebasan Pers

Perjuangan S.K. Trimurti tidak berhenti pada upaya melawan penjajahan. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang gigih memperjuangkan kebebasan pers dan kebebasan berekspresi.

Baca Juga: Meski Berawal dari Sejarah Kelam, Panjat Pinang Kini Jadi Simbol Kebersamaan dan Penuh Makna

Baginya, masyarakat membutuhkan ruang untuk menyampaikan gagasan dan menyuarakan keadaan yang mereka hadapi.

Perjuangan tersebut juga berkaitan dengan pembelaannya terhadap kaum tertindas, terutama perempuan.

Posisi perempuan menjadi salah satu perhatian dalam perjuangannya. Ia berupaya agar perempuan memiliki ruang untuk menyuarakan hak dan kepentingannya.

Baca Juga: Panjat Pinang Tetap Jadi Ikon 17 Agustus, Ini Nilai yang Terus Dijaga Hingga Kini  

Perempuan yang Tidak Takut Menghadapi Penjara

Kisah S.K. Trimurti memperlihatkan bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya dilakukan melalui pertempuran fisik. Ada pula perjuangan melalui pendidikan, tulisan, pamflet, dan media massa.

S.K. Trimurti berada di antara mereka yang memilih jalur tersebut. Ia menggunakan perannya sebagai guru dan wartawati untuk membangun kesadaran masyarakat.

Baca Juga: Ternyata Begini Sejarah Lomba Makan Kerupuk yang Selalu Meriah Saat Perayaan 17 Agustus

Risikonya pun nyata. Ia ditangkap dan dipenjara karena aktivitas yang dianggap mengancam kepentingan kolonial. Namun, setelah bebas, ia kembali menulis.

S.K. Trimurti Wafat pada Usia 96 Tahun

S.K. Trimurti menjalani kehidupan panjang setelah melewati masa perjuangan melawan kolonialisme.Ia meninggal pada usia 96 tahun pada 20 Mei 2008.

Baca Juga: Begini Cara Lomba Makan Kerupuk yang Selalu Meriah, Ternyata Sarat Makna Kemerdekaan

Warisan perjuangannya tidak hanya terletak pada kiprahnya sebagai tokoh perempuan dalam sejarah Indonesia. S.K. Trimurti juga meninggalkan jejak sebagai guru, penulis, wartawati, dan pejuang kebebasan pers serta kebebasan berekspresi.

Kisahnya menjadi pengingat bahwa perjuangan menuju Indonesia merdeka juga dibangun melalui keberanian menyampaikan gagasan, mendidik masyarakat, dan memperjuangkan hak mereka yang tertindas.

 

Editor : Silvina
perjuangan kemerdekaan S.K. Trimurti pejuang perempuan wartawati Indonesia kebebasan pers