PONTIANAK POST – Kawasan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, tidak hanya dikenal sebagai lokasi pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Kawasan tersebut juga menjadi tempat berdirinya Tugu Proklamasi yang mengalami perjalanan panjang sejak pertama kali didirikan pada 1946.
Tugu tersebut dibangun untuk mengenang Proklamasi Kemerdekaan yang menjadi titik kulminasi perjuangan bangsa Indonesia.
Dalam buku 30 Tahun Indonesia Merdeka, Jilid I (1975), yang dilansir dari Panji Masyarakat, kawasan Pegangsaan Timur 56 disebut sebagai lokasi Gedung Proklamasi yang menjadi pusat kegiatan Pemerintah Republik Indonesia di Jakarta.
Tugu Proklamasi Didirikan Setahun Setelah Kemerdekaan
Gagasan pembangunan Tugu Proklamasi berasal dari Ny. Johanna Masdani, perempuan pejuang yang juga dikenal sebagai salah satu tokoh Sumpah Pemuda 1928.
Tugu tersebut kemudian diresmikan pada 17 Agustus 1946 oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Peresmian itu bertepatan dengan peringatan satu tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Keberadaan tugu menjadi penanda penting untuk mengenang lokasi ketika Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Tugu Proklamasi Sempat Dihancurkan
Perjalanan Tugu Proklamasi tidak berlangsung tanpa perubahan.
Baca Juga: Begini Cara Lomba Makan Kerupuk yang Selalu Meriah, Ternyata Sarat Makna Kemerdekaan
Pada 1960, Tugu Proklamasi dihancurkan atas perintah Presiden Soekarno. Penghancuran tersebut berlangsung bersamaan dengan proyek pembangunan Gedung Pola.
Tidak lama kemudian, rumah Proklamasi di Pegangsaan Timur 56 juga diperintahkan untuk dibongkar.
Pada 1961, Soekarno kemudian mewujudkan pembangunan Gedung Pola, yang sekarang dikenal sebagai Gedung Perintis Kemerdekaan.
Baca Juga: Tan Malaka, Pahlawan Kemerdekaan yang Meninggal Tragis Setelah Indonesia Merdeka
Di kawasan tersebut, Soekarno juga menggagas pembangunan Tugu Petir setinggi 17 meter. Tugu itu menjadi penanda bahwa lokasi tersebut merupakan tempat Soekarno didampingi Mohammad Hatta membacakan teks Proklamasi pada 17 Agustus 1945.
Tugu Proklamasi Dibangun Kembali pada 1972
Upaya menghidupkan kembali penanda sejarah Proklamasi dilakukan sekitar 1972 setelah mendapat persetujuan Presiden Soeharto.
Baca Juga: Wikana, Pemuda yang Mendesak Bung Karno Segera Proklamasikan Kemerdekaan
Pemerintah kemudian membangun kembali Tugu Proklamasi di lokasi yang sama dengan bentuk dan ukuran yang disesuaikan dengan tugu sebelumnya.
Tugu duplikat tersebut dilengkapi plakat marmer berisi naskah Proklamasi serta peta Indonesia yang berhasil diselamatkan dan disimpan oleh Johanna Masdani.
Tugu yang kemudian berdiri di kawasan Monumen Proklamator itu diresmikan pada 17 Agustus 1972 oleh Menteri Penerangan Budiardjo yang mewakili Presiden Soeharto.
Baca Juga: Mengungkap Peran Besar Ulama di Balik Kemerdekaan Indonesia, Tak Sekadar di Medan Perang
Peresmian tersebut juga dihadiri Mohammad Hatta, yang merupakan Proklamator sekaligus Wakil Presiden pertama Republik Indonesia.
Monumen Soekarno-Hatta Menjadi Bagian Kawasan Proklamasi
Perjalanan kawasan bersejarah tersebut berlanjut. Pemerintah kemudian membangun monumen patung Proklamator Soekarno-Hatta.
Baca Juga: Kisah B.M. Diah, Wartawan yang Sebarkan Berita Kemerdekaan di Tengah Tekanan Jepang
Monumen tersebut diresmikan Presiden Soeharto pada 17 Agustus 1980.
Kawasan Pegangsaan Timur kemudian menjadi ruang penting untuk mengenang perjalanan bangsa menuju kemerdekaan. Meski bangunan rumah yang menjadi lokasi pembacaan Proklamasi telah tidak ada, berbagai monumen dibangun untuk menjaga ingatan sejarah tersebut.
Kemerdekaan Indonesia sendiri bukanlah hadiah dari bangsa lain. Kemerdekaan lahir melalui perjuangan panjang dan pengorbanan rakyat Indonesia serta kegigihan para pemimpin yang berjuang untuk kepentingan bangsa.
Baca Juga: S.K. Trimurti, Wartawati Pejuang yang Berani Melawan Kolonial Belanda Lewat Tulisan
Karena itu, kawasan Proklamasi di Pegangsaan Timur bukan sekadar ruang dengan sejumlah monumen. Tempat tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia memiliki sejarah panjang yang dibangun melalui perjuangan dan pengorbanan
Editor : Silvina