Dari Rengasdengklok ke Rumah Laksamana Maeda, Begini Awal Perumusan Teks Proklamasi

Silvina • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 13:03 WIB
Tampak replika rumah Laksamana Maeda di Lapangan Merdeka Ambon, Selasa (11/8/2026). Rumah Laksamana Maeda jadi tempat perumusan naskah teks proklamasi kemerdekaan RI. (DOK ANTARA)
Tampak replika rumah Laksamana Maeda di Lapangan Merdeka Ambon, Selasa (11/8/2026). Rumah Laksamana Maeda jadi tempat perumusan naskah teks proklamasi kemerdekaan RI. (DOK ANTARA)
 

PONTIANAK POST —Sore mulai beranjak ketika rombongan penjemput tiba di Rengasdengklok sekitar pukul 17.00. Di tempat itu, ketegangan yang sejak pagi mengiringi keberadaan Soekarno dan Hatta mulai menemukan jalan keluar.

Ahmad Soebardjo memberikan jaminan bahwa Proklamasi Kemerdekaan akan diumumkan pada 17 Agustus 1945, selambat-lambatnya pukul 12.00. Berdasarkan informasi dari Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia, jaminan tersebut membuat Komandan Kompi PETA setempat, Cudanco Soebeno, bersedia melepaskan Soekarno dan Hatta untuk kembali ke Jakarta.

Rombongan Soekarno-Hatta kemudian tiba di Jakarta sekitar pukul 23.00. Sebelum melanjutkan perjalanan, Fatmawati dan putranya diturunkan di rumah Soekarno. Setelah itu, Soekarno dan Hatta langsung menuju rumah Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol Nomor 1.

Baca Juga: 16 Agustus,Situasi Memanas di Rengasdengklok, Pemuda Desak Soekarno Segera Proklamasikan Kemerdekaan

Rumah Maeda malam itu menjadi tempat penting dalam rangkaian menuju Proklamasi. Rumah tersebut dipilih sebagai tempat penyusunan teks Proklamasi karena Maeda memberikan jaminan keselamatan kepada Soekarno dan tokoh-tokoh lainnya.

Sikap Maeda yang Memberi Ruang

Sikap Laksamana Maeda terhadap tokoh-tokoh nasionalis menjadi salah satu latar yang membuat rumahnya dapat digunakan untuk aktivitas penting tersebut.

Baca Juga: Pemuda Ancam Soekarno Jelang Proklamasi, Ini yang Terjadi di Pegangsaan Timur

De Graff, sebagaimana dikutip Soebardjo, menggambarkan Maeda sebagai perwira Angkatan Laut yang memiliki pandangan lebih luas karena pengalamannya melihat berbagai keadaan di luar lingkungan militernya. Ia dapat berbicara dalam beberapa bahasa dan saat itu menjadi pejabat yang bertanggung jawab atas Bukanfu di Batavia, kantor pembelian Angkatan Laut di Indonesia.

Maeda juga tidak hanya membatasi dirinya pada tugas-tugas militer. Ia membentuk kantor penerangan untuk mendapatkan pemahaman mengenai keadaan di Jawa. Pimpinan kantor tersebut dipercayakan kepada Soebardjo.

Melalui kantor itu, Maeda mendapatkan pemahaman mengenai persoalan di Jawa. Ia bahkan mendirikan asrama bagi nasionalis-nasionalis muda Indonesia dan memperbantukan sejumlah pemimpin terkemuka sebagai guru.

Baca Juga: Sejarah Tugu Proklamasi Pegangsaan Timur, Sempat Dihancurkan Lalu Dibangun Kembali

Di asrama tersebut, doktrin-doktrin yang agak radikal dipropagandakan. Maeda juga berhasil mengambil hati banyak nasionalis karena keluhan dan keberatan mereka dapat disampaikan kepadanya.

Sikap tersebut kemudian memberi keleluasaan bagi para tokoh nasionalis untuk melakukan aktivitas yang penting bagi masa depan bangsa Indonesia.

Mencari Kepastian kepada Jepang

Baca Juga: Mengungkap Peran Besar Ulama di Balik Kemerdekaan Indonesia, Tak Sekadar di Medan Perang

Malam itu, dari rumah Maeda, Soekarno dan Hatta bersama Laksamana Maeda menemui Somobuco, Kepala Pemerintahan Umum, Mayor Jenderal Nishimura.

Pertemuan tersebut dilakukan untuk mengetahui sikap Jepang mengenai pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan.

Namun, jawaban Nishimura tidak seperti yang diharapkan. Jepang telah menyatakan menyerah kepada Sekutu. Karena itu, menurut Nishimura, berlaku ketentuan bahwa tentara Jepang tidak diperbolehkan mengubah status quo dan harus tunduk kepada perintah tentara Sekutu.

Baca Juga: Kisah B.M. Diah, Wartawan yang  Sebarkan Berita Kemerdekaan di Tengah Tekanan Jepang

Atas dasar kebijakan tersebut, Nishimura melarang Soekarno dan Hatta mengadakan rapat PPKI untuk pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan.

Kenyataan itu membawa Soekarno dan Hatta pada sebuah kesimpulan: tidak ada lagi gunanya membicarakan kemerdekaan Indonesia dengan pihak Jepang.

Harapan mereka kemudian lebih sederhana, yakni agar pihak Jepang tidak menghalangi pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan yang dilakukan oleh rakyat Indonesia sendiri.

Baca Juga: Wikana, Pemuda yang Mendesak Bung Karno Segera Proklamasikan Kemerdekaan

Setelah pertemuan tersebut, Soekarno dan Hatta kembali ke rumah Laksamana Maeda.

Malam ketika Teks Proklamasi Dirumuskan

Di ruang makan rumah Maeda, rangkaian peristiwa kemudian memasuki tahap yang menentukan. Di ruangan itulah teks Proklamasi Kemerdekaan dirumuskan.

Baca Juga: Frans Kaisiepo, Pahlawan Papua di Uang Rp10.000 yang Perjuangannya Jarang Diketahui

Maeda sebagai tuan rumah memilih mengundurkan diri ke kamar tidurnya di lantai dua ketika peristiwa bersejarah tersebut berlangsung.

Di ruang makan, Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo membahas rumusan teks Proklamasi. Miyoshi, orang kepercayaan Nishimura, bersama Sukarni, Sudiro, dan B.M. Diah menyaksikan pembahasan tersebut.

Sementara itu, tokoh-tokoh lainnya, baik dari golongan tua maupun golongan pemuda, menunggu di serambi muka.

Baca Juga: S.K. Trimurti, Wartawati Pejuang yang Berani Melawan Kolonial Belanda Lewat Tulisan

Malam semakin larut. Namun, di sebuah rumah di Jalan Imam Bonjol Nomor 1, pembicaraan tentang masa depan Indonesia terus berlangsung.

Dari Rengasdengklok, perjalanan menuju Proklamasi ternyata belum selesai. Setelah desakan dan ketegangan sepanjang hari, malam di rumah Maeda menjadi ruang bagi para tokoh untuk merumuskan teks yang akan mengantarkan Indonesia menuju pernyataan kemerdekaannya.

 

Editor : Silvina
Hatta Laksamana Maeda soekarno proklamasi rengasdengklok