Menjelang Sahur, Meja dan Ruang Makan Rumah Maeda Jadi Saksi Lahirnya Teks Proklamasi

Silvina • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 13:44 WIB
Replika Rumah Laksamana Maeda  (Ambon), di bagian ruang makan ada sejarah penting perumusan teks Proklamasi Kemerdekaan. (DOK ANTARA)
Replika Rumah Laksamana Maeda (Ambon), di bagian ruang makan ada sejarah penting perumusan teks Proklamasi Kemerdekaan. (DOK ANTARA)
 

PONTIANAK POST — Malam semakin larut di rumah Laksamana Tadashi Maeda. Namun, ketika sebagian orang mungkin telah beristirahat, di ruang makan rumah itu justru berlangsung pembicaraan yang menentukan arah sejarah Indonesia.

Menjelang tengah malam, rumusan teks Proklamasi yang akan dibacakan keesokan harinya mulai disusun. Berdasarkan keterangan Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia, Soekarno menuliskan konsep Proklamasi pada secarik kertas, sementara Mohammad Hatta dan Ahmad Soebardjo menyumbangkan pemikirannya secara lisan.

Tiga tokoh itu kemudian menyusun rumusan yang kelak menjadi teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga: Dari Rengasdengklok ke Rumah Laksamana Maeda, Begini Awal Perumusan Teks Proklamasi

Tiga Pemikiran dalam Satu Rumusan

Kalimat pertama teks Proklamasi merupakan saran Ahmad Soebardjo yang diambil dari rumusan Dokuritsu Junbi Cosakai.

Sementara itu, kalimat terakhir merupakan sumbangan pemikiran Mohammad Hatta. Menurut Hatta, kalimat pertama baru menyatakan kemauan bangsa Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri.

Baca Juga: 16 Agustus,Situasi Memanas di Rengasdengklok, Pemuda Desak Soekarno Segera Proklamasikan Kemerdekaan

Ia memandang perlu adanya pernyataan mengenai pengalihan kekuasaan atau transfer of sovereignty. Dari pemikiran tersebut, lahirlah rumusan terakhir teks Proklamasi.

Setelah kelompok yang berada di ruang makan menyelesaikan rumusan, mereka menuju serambi muka untuk menemui para tokoh yang telah berkumpul.

Waktu terus bergerak menuju pagi.

Baca Juga: Pemuda Ancam Soekarno Jelang Proklamasi, Ini yang Terjadi di Pegangsaan Timur

Ketika Jam Menunjukkan Pukul 04.00

Dini hari menjelang subuh. Jam menunjukkan sekitar pukul 04.00 pada 17 Agustus 1945 ketika Soekarno membuka pertemuan.

Konsep teks Proklamasi yang telah dirumuskan dibacakan di hadapan mereka yang hadir.

Baca Juga: Sejarah Tugu Proklamasi Pegangsaan Timur, Sempat Dihancurkan Lalu Dibangun Kembali

Situasinya mendesak. Pekerjaan harus segera diselesaikan sebelum fajar menyingsing.

Sementara teks Proklamasi kemudian diketik, para tokoh memanfaatkan waktu untuk makan dan minum dari hidangan yang telah disiapkan tuan rumah. Mereka belum sempat makan sejak meninggalkan Rengasdengklok.

Malam itu juga bertepatan dengan bulan suci Ramadan. Waktu sahur hampir berakhir, sehingga makanan yang tersedia menjadi kesempatan bagi mereka untuk mengisi tenaga sebelum memasuki pagi.

Baca Juga: Begini Islam Mengajarkan Syukur atas Kemerdekaan, Salah Satunya Peduli yang Belum Merdeka

Setelah teks yang telah diketik selesai, mereka kembali berkumpul di ruang besar bagian depan rumah.

Semua orang berdiri. Tidak ada kursi di ruangan tersebut. Sukarni berdiri di samping Ahmad Soebardjo, sedangkan Hatta mendampingi Soekarno menghadap para hadirin.

Perdebatan soal Tanda Tangan

Baca Juga: Tan Malaka, Pahlawan Kemerdekaan yang Meninggal Tragis Setelah Indonesia Merdeka

Setelah konsep dibacakan, muncul persoalan mengenai siapa yang akan menandatangani naskah Proklamasi.

Soekarno menyarankan agar seluruh orang yang hadir menandatangani naskah tersebut sebagai wakil-wakil bangsa Indonesia.

Mohammad Hatta memperkuat usul itu dengan mengambil contoh dari Declaration of Independence Amerika Serikat.

Baca Juga: Begini Cara Lomba Makan Kerupuk yang Selalu Meriah, Ternyata Sarat Makna Kemerdekaan

Namun, usul tersebut mendapat penolakan dari kelompok pemuda.

Mereka tidak menginginkan tokoh-tokoh golongan tua yang dianggap memiliki kedekatan dengan Jepang ikut menandatangani naskah Proklamasi.

Sukarni kemudian mengusulkan agar naskah cukup ditandatangani oleh dua orang, yakni Soekarno dan Mohammad Hatta, atas nama bangsa Indonesia.

Baca Juga: Meski Berawal dari Sejarah Kelam, Panjat Pinang Kini Jadi Simbol Kebersamaan dan Penuh Makna

Usul tersebut akhirnya diterima. Naskah yang telah diketik oleh Sajuti Melik kemudian ditandatangani oleh Soekarno dan Mohammad Hatta.

Dua nama itu menjadi wakil bangsa Indonesia dalam naskah yang akan segera dibacakan kepada rakyat.

Di Mana Proklamasi Dibacakan?

Baca Juga: Sejarah Panjat Pinang HUT RI, Ternyata Berawal dari Pribumi yang Dijadikan Tontonan Penjajah

Setelah persoalan naskah selesai, persoalan berikutnya tidak kalah penting: bagaimana Proklamasi disampaikan kepada rakyat Indonesia dan diketahui dunia?

Sukarni menyampaikan bahwa rakyat Jakarta dan sekitarnya telah diserukan untuk datang berbondong-bondong ke lapangan IKADA pada 17 Agustus untuk mendengarkan Proklamasi Kemerdekaan. Namun, Soekarno menolak usulan tersebut.

Menurut Soekarno, pembacaan Proklamasi lebih baik dilakukan di kediamannya di Pegangsaan Timur. Halaman rumah tersebut dianggap cukup luas untuk menampung ratusan orang.

Baca Juga: Panjat Pinang Tetap Jadi Ikon 17 Agustus, Ini Nilai yang Terus Dijaga Hingga Kini  

Ada alasan lain yang lebih penting. Soekarno tidak ingin pembacaan Proklamasi justru memancing insiden. Lapangan IKADA merupakan lapangan umum. Rapat besar tanpa pengaturan dengan penguasa militer Jepang dikhawatirkan menimbulkan salah paham.

Bahkan, bentrokan antara rakyat dan penguasa militer yang hendak membubarkan rapat umum bisa saja terjadi.

Karena itu, keputusan akhirnya ditetapkan: para tokoh diminta hadir di Pegangsaan Timur 56 sekitar pukul 10.00 pagi.

Baca Juga: Benarkah Lomba Balap Karung Berawal dari Pakaian Darurat pada Masa Penjajahan? Begini Ceritanya

Keputusan tersebut menutup rangkaian pertemuan dini hari di rumah Maeda.

Dari sebuah ruang makan, konsep Proklamasi telah berubah menjadi naskah yang siap dibacakan. Dari perdebatan tentang kalimat hingga persoalan siapa yang menandatangani dan di mana Proklamasi diumumkan, semua akhirnya mengarah pada satu titik: Pegangsaan Timur 56, pagi 17 Agustus 1945.

Di sanalah, beberapa jam kemudian, pernyataan kemerdekaan Indonesia akan dibacakan di hadapan rakyat.

Editor : Silvina
Hatta teks Proklamasi Rumah Maeda soekarno 17 agustus