Bung Karno Sakit dan Rakyat Menanti, Begini Tegangnya Detik-Detik Proklamasi 17 Agustus 1945

Silvina • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 14:09 WIB
Bung Karno yang dikabarkan sakit saat akan membacakan Teks Proklamasi Kemerdekaan. (DOK JAWA POS)
Bung Karno yang dikabarkan sakit saat akan membacakan Teks Proklamasi Kemerdekaan. (DOK JAWA POS)
 

PONTIANAK POST – Fajar baru saja menyingsing pada Jumat, 17 Agustus 1945. Sekitar pukul 05.00, ketika embun masih menggantung di tepian daun, para pemimpin bangsa dan tokoh pemuda keluar dari rumah Laksamana Maeda.

Malam panjang telah mereka lewati. Di rumah tersebut, teks Proklamasi dirumuskan hingga dini hari. Kini, keputusan besar telah dibuat: Indonesia akan memproklamasikan kemerdekaannya pada hari itu juga.

Tempatnya di rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta. Waktunya pukul 10.00 pagi.

Baca Juga: Menjelang Sahur, Meja dan Ruang Makan Rumah Maeda Jadi Saksi Lahirnya Teks Proklamasi

Di balik keputusan itu, ada pesan penting Mohammad Hatta kepada para pemuda yang bekerja di pers dan kantor-kantor berita. Naskah Proklamasi harus diperbanyak dan disebarkan agar kabar kemerdekaan Indonesia diketahui dunia.

Pegangsaan Timur Mulai Dipadati Rakyat

Menurut informasi Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia,  menjelang pukul 10.00, suasana di Jalan Pegangsaan Timur 56 semakin sibuk. Persiapan dilakukan secara sederhana. Wakil Wali Kota Soewirjo memerintahkan Mr. Wilopo menyiapkan mikrofon dan pengeras suara. Sementara Sudiro meminta S. Suhud mempersiapkan tiang bendera.

Baca Juga: Dari Rengasdengklok ke Rumah Laksamana Maeda, Begini Awal Perumusan Teks Proklamasi

Namun, dalam suasana yang serba tegang itu, Suhud justru tidak teringat bahwa di depan rumah Soekarno masih terdapat dua tiang bendera dari besi yang tidak digunakan.

Ia kemudian mencari sebatang bambu di belakang rumah. Bambu tersebut dibersihkan, diberi tali, lalu ditanam beberapa langkah dari teras rumah.

Sederhana, tetapi tiang bambu itulah yang kemudian menjadi bagian dari momen bersejarah bangsa Indonesia.

Baca Juga: 16 Agustus,Situasi Memanas di Rengasdengklok, Pemuda Desak Soekarno Segera Proklamasikan Kemerdekaan

Sementara itu, bendera Merah Putih telah disiapkan. Bendera tersebut dijahit dengan tangan oleh Fatmawati Soekarno.

Bentuk dan ukurannya tidak standar. Kain yang digunakan pun sebenarnya bukan kain yang sejak awal dipersiapkan untuk menjadi bendera.

Namun, pada pagi yang menentukan itu, kain tersebut telah menjadi simbol yang akan dikibarkan bersamaan dengan lahirnya Indonesia sebagai negara merdeka.

Baca Juga: Begini Islam Mengajarkan Syukur atas Kemerdekaan, Salah Satunya Peduli yang Belum Merdeka

Rakyat Menunggu, Matahari Semakin Tinggi

Kabar mengenai rencana Proklamasi telah menyebar. Rakyat berdatangan dan berkumpul di sekitar rumah Soekarno.

Massa pemuda dan rakyat memenuhi kawasan tersebut. Mereka berbaris dengan teratur. Namun, di tengah kerumunan, kegelisahan tetap terasa. Ada kekhawatiran Jepang akan melakukan pengacauan.

Baca Juga: Indonesia Telah Merdeka, Tapi Kabar Proklamasi Baru Tiba di Pontianak Sebulan Kemudian, Ini Kisah Bersejarahnya

Waktu terus berjalan. Matahari semakin tinggi, tetapi pembacaan Proklamasi belum juga dimulai.

Ketegangan semakin terasa karena Soekarno sedang tidak dalam kondisi sehat. Setelah semalaman mengalami panas dingin dan baru tidur setelah perumusan teks Proklamasi selesai, Bung Karno masih berada di kamar.

Para undangan telah berdatangan. Rakyat yang menunggu sejak pagi mulai tidak sabar.

Baca Juga: Bukan di Kantor Pemerintahan, Merah Putih Pertama di Pontianak Justru Berkibar di Padang Sayok

Para pemuda kemudian mendesak agar Proklamasi segera dibacakan. Namun, Soekarno tetap pada pendiriannya. Ia tidak bersedia membacakan teks Proklamasi tanpa kehadiran Mohammad Hatta.

Lima Menit Sebelum Upacara

Waktu terus mendekati pukul 10.00. Lima menit sebelum acara dimulai, Mohammad Hatta tiba. Ia mengenakan pakaian putih-putih dan langsung menuju kamar Soekarno.

Baca Juga: Sejarah Tugu Proklamasi Pegangsaan Timur, Sempat Dihancurkan Lalu Dibangun Kembali

Kedatangan Hatta membuat Soekarno segera bangkit dari tempat tidurnya.

Bung Karno kemudian mengenakan stelan putih-putih. Setelah itu, keduanya bersama-sama menuju tempat upacara.

Tak ada kemewahan. Tak ada tata upacara kenegaraan yang rumit. Yang ada hanyalah rakyat, para pemuda, dua pemimpin bangsa, sebuah mikrofon, tiang bambu, serta bendera Merah Putih yang telah disiapkan.

Baca Juga: Pemuda Ancam Soekarno Jelang Proklamasi, Ini yang Terjadi di Pegangsaan Timur

Proklamasi Berlangsung Sederhana

Latief Hendraningrat, salah seorang anggota PETA, memberikan aba-aba kepada barisan pemuda yang sejak pagi menunggu.

Serentak mereka berdiri tegak dengan sikap sempurna. Latief kemudian mempersilakan Soekarno dan Mohammad Hatta maju beberapa langkah mendekati mikrofon.

Baca Juga: Kisah B.M. Diah, Wartawan yang  Sebarkan Berita Kemerdekaan di Tengah Tekanan Jepang

Suasana yang sebelumnya dipenuhi kegelisahan mendadak terpusat pada dua sosok di hadapan mereka.

Soekarno kemudian mengucapkan pidato pendahuluan singkat. Setelah perjalanan panjang sejak malam sebelumnya, setelah teks Proklamasi dirumuskan hingga dini hari di rumah Laksamana Maeda, tibalah saat yang dinantikan.

Di hadapan rakyat yang berkumpul di Jalan Pegangsaan Timur 56, Soekarno membacakan teks Proklamasi.

Baca Juga: Tak Hanya Surabaya, Kalimantan Barat Juga Memiliki Pertempuran Besar Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Hari itu, 17 Agustus 1945, menjadi titik penting dalam sejarah Indonesia.

Sebuah kemerdekaan diumumkan bukan dalam upacara megah, melainkan melalui persiapan sederhana dan suasana yang penuh ketegangan.

Dari rumah Laksamana Maeda pada dini hari hingga halaman rumah Soekarno pada pagi hari, rangkaian peristiwa itu akhirnya bermuara pada satu momentum: Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Editor : Silvina
pegangsaan timur Proklamasi 17 Agustus 1945 Mohammad Hatta kemerdekaan indonesia bung karno