Usai Proklamasi, Utusan Jepang Datang Melarang, Jawaban Bung Karno Mengejutkan

Silvina • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 16:04 WIB
Ilustrasi ketika utusan Jepang datang menemui Soekarno usai Proklamasi Kemerdekaan dibacakan.
Ilustrasi ketika utusan Jepang datang menemui Soekarno usai Proklamasi Kemerdekaan dibacakan.

 

PONTIANAK POST – Proklamasi Kemerdekaan Indonesia telah dibacakan. Merah Putih telah berkibar. Namun, ketika sebagian rakyat masih bertahan di sekitar rumah Bung Karno, datang tiga orang pembesar Jepang membawa pesan yang sudah terlambat.

Mereka datang setelah upacara Proklamasi selesai. Rakyat belum beranjak dari tempat itu. Sejumlah anggota Barisan Pelopor masih duduk bergerombol di depan kamar Bung Karno.

Menurut Lasmidjah Hardi (1984:79), kedatangan tiga pembesar Jepang terjadi tidak lama setelah Bung Hatta pulang. Ketiganya diperintahkan menunggu di ruang belakang tanpa diberi kursi.

Baca Juga: 6 Agustus dalam Sejarah: Salat Idulfitri  di Rumah Proklamasi Sempat Dilarang Belanda, Ini Kisahnya

Sudiro yang berada di sana disebut sudah dapat menerka tujuan kedatangan mereka.Suasana pun berubah tegang. Para anggota Barisan Pelopor mulai mengepung para utusan Jepang tersebut.

Bung Karno Sudah Membacakan Proklamasi

Saat itu, Bung Karno bahkan sudah mengenakan piyama. Ketika Sudiro masuk dan menyampaikan kedatangan para utusan Jepang, Bung Karno terpaksa kembali mengenakan pakaian.

Baca Juga: Wikana, Pemuda yang Mendesak Bung Karno Segera Proklamasikan Kemerdekaan

Kemudian berlangsung dialog antara Bung Karno dan utusan Jepang.

Para utusan itu menyampaikan bahwa mereka datang atas perintah Gunseikan Kakka untuk melarang Soekarno mengucapkan Proklamasi.

Jawaban Bung Karno singkat dan tenang. Proklamasi, katanya, sudah diucapkan.

Baca Juga: Sejarah Tugu Proklamasi Pegangsaan Timur, Sempat Dihancurkan Lalu Dibangun Kembali

Utusan Jepang itu tampak keheranan. Mereka kembali bertanya apakah Proklamasi benar-benar sudah dibacakan. Bung Karno menjawab tegas bahwa Proklamasi memang sudah diucapkan.

Di sekeliling para utusan Jepang, para pemuda sudah menunjukkan sikap tegang. Mata mereka tertuju kepada para pembesar Jepang, sementara tangan mereka diletakkan di atas golok masing-masing.

Melihat situasi tersebut, para utusan Jepang akhirnya segera pamit.

Baca Juga: Pemuda Ancam Soekarno Jelang Proklamasi, Ini yang Terjadi di Pegangsaan Timur

Latief Hendraningrat Lupa Mendokumentasikan Momen

Di tengah peristiwa besar itu, Latief Hendraningrat justru tercenung memikirkan kelalaiannya.

Dalam suasana yang penuh ketegangan, ia lupa menghubungi Soetarto dari PFN untuk mendokumentasikan jalannya Proklamasi.

Baca Juga: 16 Agustus,Situasi Memanas di Rengasdengklok, Pemuda Desak Soekarno Segera Proklamasikan Kemerdekaan

Beruntung, masih ada Frans Mendur dari IPPHOS. Namun, persediaan film yang dimilikinya sangat terbatas. Plat film yang tersisa hanya tiga lembar.

Keterbatasan tersebut membuat dokumentasi peristiwa Proklamasi menjadi sangat sedikit.

Dari seluruh rangkaian peristiwa bersejarah itu, hanya tiga dokumentasi yang tersisa.  Yakni ketika Bung Karno membacakan teks Proklamasi, saat pengibaran bendera, serta sebagian hadirin yang menyaksikan peristiwa tersebut.

Baca Juga: Dari Rengasdengklok ke Rumah Laksamana Maeda, Begini Awal Perumusan Teks Proklamasi

Hanya Satu Jam, Dampaknya Mengubah Sejarah

Peristiwa besar yang mengubah perjalanan sejarah bangsa Indonesia itu berlangsung sekitar satu jam.

Waktunya singkat. Rangkaian acaranya juga sederhana. Namun, dampaknya luar biasa. Gema kemerdekaan kemudian menyebar ke berbagai pelosok Nusantara, bahkan ke seluruh dunia.

Baca Juga: Menjelang Sahur, Meja dan Ruang Makan Rumah Maeda Jadi Saksi Lahirnya Teks Proklamasi

Para pemuda, mahasiswa, serta pegawai Indonesia yang bekerja di jawatan-jawatan perhubungan penting bergerak menyebarluaskan isi Proklamasi.

Mereka menjadi bagian dari mata rantai penyebaran kabar kemerdekaan ke berbagai wilayah.

Wartawan Domei Ikut Menyebarkan Berita Kemerdekaan

Baca Juga: Bung Karno Sakit dan Rakyat Menanti, Begini Tegangnya Detik-Detik Proklamasi 17 Agustus 1945

Upaya penyebaran Proklamasi juga dilakukan para wartawan Indonesia yang bekerja di kantor berita Jepang, Domei.

Meskipun kantor berita tersebut telah disegel pemerintah Jepang, para wartawan Indonesia tetap berusaha menyebarluaskan berita Proklamasi ke dunia.

Dengan berbagai cara, kabar tentang kemerdekaan Indonesia terus bergerak. Dari halaman rumah Bung Karno, berita itu menyebar semakin jauh.

Baca Juga: Kisah B.M. Diah, Wartawan yang  Sebarkan Berita Kemerdekaan di Tengah Tekanan Jepang

Proklamasi yang semula hanya terdengar oleh mereka yang hadir pada pagi 17 Agustus 1945, perlahan menjadi kabar yang menggema ke seluruh penjuru negeri.

Proklamasi Tak Bisa Lagi Dibatalkan

Kedatangan utusan Jepang setelah Proklamasi memperlihatkan satu hal penting: ketika mereka datang membawa larangan, Proklamasi telah lebih dahulu diucapkan.

Baca Juga: Proklamasi Dibacakan Sekali, Merdeka Selamanya: Inilah Sejarah Besar Indonesia 17 Agustus 1945

Jawaban Bung Karno pun sederhana, tetapi tegas. Proklamasi sudah dibacakan. Tidak ada lagi yang perlu diulang.

Tidak ada lagi yang bisa membatalkan pernyataan kemerdekaan yang telah disampaikan atas nama bangsa Indonesia.

Kisah tersebut menjadi salah satu bagian dari rangkaian detik-detik bersejarah 17 Agustus 1945 yang dirangkum dalam sumber Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia, dengan rujukan antara lain Lasmidjah Hardi (1984).

Baca Juga: Indonesia Telah Merdeka, Tapi Kabar Proklamasi Baru Tiba di Pontianak Sebulan Kemudian, Ini Kisah Bersejarahnya

Peristiwa yang berlangsung singkat itu kemudian menjadi titik balik perjalanan bangsa.Proklamasi dibacakan sekali. 

Namun, gaung kemerdekaannya menyebar jauh dan terus dikenang hingga hari ini. 

 

 

Editor : Silvina
Proklamasi Kemerdekaan utusan Jepang 17 Agustus 1945 Barisan Pelopor bung karno