PONTIANAK POST - Nama Presiden Soekarno ternyata tidak hanya lekat dengan sejarah kemerdekaan Indonesia. Dalam sebuah kisah yang disampaikan Ustaz Abdul Somad, Bung Karno juga disebut memiliki cerita menarik dengan Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir.
Kisah itu kembali disampaikan Ustaz Abdul Somad melalui video YouTube Shorts akun khanza.insight yang tayang pada 6 Agustus 2026. Cerita tersebut menghubungkan Soekarno, Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser, serta para pelajar Indonesia yang sejak lama menimba ilmu di Al-Azhar.
Ketika Nama Al-Azhar Disebut dalam Percakapan Soekarno
Baca Juga: Mengapa Ada Pohon Soekarno di Padang Arafah? Begini Fakta dan Sejarahnya
Dalam penuturannya, Ustaz Abdul Somad menceritakan bahwa pernah muncul rencana untuk menutup Universitas Al-Azhar. Kabar tersebut kemudian disebut sampai kepada Soekarno dan mendorong Presiden pertama Indonesia itu mempertanyakan rencana tersebut kepada Gamal Abdel Nasser.
Kisah itu menggambarkan bagaimana pentingnya Al-Azhar bukan hanya bagi Mesir, tetapi juga bagi umat Islam di Indonesia. Bagi Soekarno, hubungan Indonesia dengan Mesir salah satunya terhubung melalui para pelajar yang menuntut ilmu di kampus tersebut.
Dalam versi cerita yang disampaikan Ustaz Abdul Somad, Soekarno mengatakan bahwa masyarakat Indonesia mengenal Mesir antara lain karena keberadaan Al-Azhar. Kalimat tersebut menjadi inti kisah tentang kedekatan hubungan pendidikan dan keagamaan antara kedua negara.
Baca Juga: Pohon Soekarno di Padang Arafah Masih Meneduhkan Jamaah Haji hingga Kini
Al-Azhar dan Jejak Pelajar dari Indonesia
Hubungan pelajar Nusantara dengan Al-Azhar sendiri memiliki sejarah panjang. Salah satu tokoh yang disebut dalam video tersebut adalah Mahmud Yunus, ulama dan tokoh pendidikan asal Sumatra Barat.
Catatan Kementerian Agama menyebut Mahmud Yunus memperoleh syahadah 'alimiyah dari Al-Azhar pada 1924, sebelum melanjutkan pendidikan ke Darul Ulum pada 1925. Mahmud Yunus kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan pendidikan Islam di Indonesia. Jejak pendidikannya di Mesir menjadi bagian dari sejarah panjang hubungan intelektual antara Indonesia dan Al-Azhar.
Baca Juga: Pemuda Ancam Soekarno Jelang Proklamasi, Ini yang Terjadi di Pegangsaan Timur
Dari Mesir, Ilmu Dibawa Pulang ke Indonesia
Para pelajar Indonesia yang belajar di Mesir tidak hanya mengejar gelar. Setelah kembali ke Tanah Air, banyak di antara mereka yang kemudian mengajar, menulis, mendirikan lembaga pendidikan, dan mengembangkan pemikiran Islam.
Karena itu, Al-Azhar memiliki tempat khusus dalam sejarah pendidikan Islam Indonesia. Pengaruhnya tidak berhenti di Kairo, tetapi ikut mengalir melalui para alumninya ke berbagai daerah di Indonesia.
Baca Juga: 16 Agustus,Situasi Memanas di Rengasdengklok, Pemuda Desak Soekarno Segera Proklamasikan Kemerdekaan
Dalam video tersebut, Ustaz Abdul Somad juga mengaitkan perjalanan para alumni dengan keberlanjutan pendidikan agama di Indonesia. Setiap orang yang kembali ke kampung halaman dan mengajarkan ilmu, menurut penuturannya, menjadi bagian dari mata rantai ilmu yang terus berlanjut.
Hubungan Soekarno dan Gamal Abdel Nasser
Kisah tersebut juga tidak bisa dilepaskan dari hubungan dekat Soekarno dengan Gamal Abdel Nasser. Keduanya merupakan tokoh penting dalam hubungan Indonesia-Mesir pada era 1950-an dan sama-sama berperan dalam perkembangan kerja sama negara-negara Asia-Afrika.
Baca Juga: Rumah Pegangsaan Timur 56 Jadi Saksi Proklamasi, Tapi Mengapa Soekarno Malah Membongkarnya?
Hubungan Indonesia dan Mesir memang memiliki akar sejarah yang kuat. Pemerintah Indonesia juga mencatat Mesir sebagai negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia, sementara Soekarno dan Nasser dikenal memiliki kedekatan dalam sejarah Gerakan Non-Blok.
Kisah mengenai peran Soekarno dalam mempertahankan Al-Azhar juga pernah diberitakan ANTARA berdasarkan penuturan Syekh Ali Jum'ah. Dalam kisah tersebut, Soekarno disebut mempertanyakan rencana penutupan Al-Azhar dan menekankan pentingnya lembaga tersebut bagi dunia Islam.
Jejaknya Masih Terlihat hingga Sekarang
Baca Juga: Di Balik Proklamasi Pegangsaan Timur 56, Ada Kisah Faradj Martak yang Jarang Dibahas
Kisah tersebut menjadi menarik karena hubungan Indonesia dengan Al-Azhar ternyata tidak berhenti pada generasi ulama masa lalu. Hingga kini, mahasiswa Indonesia masih menjadi bagian dari komunitas pelajar di Al-Azhar.
Pada 2024, dalam pertemuan dengan mahasiswa Indonesia di Kairo, Presiden RI juga menyinggung hubungan historis Indonesia dan Mesir serta kedekatan Soekarno dengan Nasser. Bagi Indonesia, keberadaan para alumni Al-Azhar memiliki arti penting dalam perkembangan pendidikan Islam.
Ilmu yang diperoleh di Kairo kemudian dibawa pulang dan diajarkan kembali di masjid, madrasah, pesantren, perguruan tinggi, serta berbagai lembaga pendidikan.
Baca Juga: Bikin Haru, Mahasiswa Indonesia ini Nyanyi Tanah Airku Saat Wisuda di University of York Inggris
Karena itu, cerita tentang Soekarno dan Al-Azhar tidak hanya berbicara mengenai hubungan dua kepala negara. Di dalamnya terdapat kisah yang lebih panjang tentang pendidikan, pertukaran ilmu, dan perjalanan para pelajar Indonesia mencari pengetahuan hingga ke Mesir.
Pada akhirnya, Al-Azhar menjadi salah satu jembatan penting yang menghubungkan Indonesia dan Mesir. Dari kampus di Kairo itu, ilmu kemudian dibawa pulang oleh para pelajar Indonesia dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
Editor : Silvina