PONTIANAK POST - Setiap program beasiswa memiliki karakter dan tujuan yang berbeda. Karena itu, memahami program yang dituju menjadi bagian penting sebelum pelamar menyusun dokumen pendaftaran.
Cari Informasi dari Alumni atau Awardee
Awardee LPDP sekaligus kandidat doktor, Haekal Rheza Afandi MHum, menyarankan calon pelamar aktif mencari informasi dari alumni atau awardee.
Baca Juga: Ingin Lolos Beasiswa Kuliah? Bangun Personal Branding Sejak Jauh Sebelum Pendaftaran
Langkah tersebut dapat membantu memahami karakter program sekaligus menyesuaikan esai dan profil dengan kebutuhan pemberi beasiswa.
“Misalnya, setelah lulus dari kampus luar negeri tidak ingin kembali ke negara asal maka cari beasiswa yang tidak mewajibkan untuk pulang, jelas bukan LPDP ya,’’ ujarnya, dikutip dari Jawapos.
Pemahaman terhadap karakter program juga diperlukan agar pelamar tidak sekadar mengirimkan dokumen tanpa mempertimbangkan kesesuaiannya dengan tujuan pemberi beasiswa.
Baca Juga: Ingin Kuliah ke Luar Negeri? Analisis BaZi Sebut Waktu Terbaik Berburu Beasiswa hingga Tahun 2031
Esai Harus Menggambarkan Alur yang Jelas
Selain memahami program, esai menjadi salah satu bagian penting dalam proses seleksi. Haekal menyarankan esai digunakan untuk menggambarkan profil, persoalan yang ingin diselesaikan, serta alasan pelamar membutuhkan studi lanjut.
“Kalau saya biasanya membuat esai menjadi tiga babak. Pertama, pembuka, kita ceritakan latar belakang. Kedua konflik, kita angkat isu atau kendala di bidang kita. Terakhirpenyelesaian, apa yang kita tawarkan dan mengapa studi lanjut diperlukan untuk menyelesaikannya,” papar magister humaniora sekaligus kandidat doktor di Universitas Indonesia (UI) itu.
Baca Juga: Dulu Nilai Kimianya Paling Rendah, Kini Resmi Jadi Guru Besar UI Dari Hasil Perjuangan dan Beasiswa
Dengan pola tersebut, esai tidak hanya berisi daftar pencapaian, tetapi memiliki alur yang memperlihatkan latar belakang, persoalan, hingga solusi yang ditawarkan. (*)
Editor : Chairunnisya