PONTIANAK POST - Indonesia memiliki beragam tradisi pengawetan jasad yang berkembang dalam kebudayaan masyarakat di berbagai daerah. Salah satunya adalah keberadaan mumi Agt Mametabel di Papua yang dalam sebuah tayangan disebut telah berusia lebih dari 300 tahun.
Informasi mengenai mumi tersebut kembali dibagikan melalui YouTube Shorts sudahmalam1 yang tayang pada 30 Juli 2026. Dalam tayangan itu dijelaskan bahwa mumi Agt Mametabel merupakan jasad kepala suku yang diwariskan secara turun-temurun dan hingga kini diperlakukan secara sakral.
Jasad Diawetkan dengan Proses Pengasapan
Baca Juga: Mengenal Tradisi Ma’nene di Toraja, Jasad Leluhur Dikeluarkan Lalu Didandani Kembali
Berbeda dengan proses mumifikasi yang menggunakan bahan kimia atau pembalseman, jasad tersebut disebut diawetkan melalui proses pengasapan tradisional. Jasad terlebih dahulu dibersihkan, kemudian ditempatkan dalam posisi meringkuk di atas bangku kayu khusus.
Bangku tersebut berada di dekat perapian sehingga jasad terus terpapar asap dan panas. Proses pengasapan disebut berlangsung sekitar enam hingga tujuh bulan sampai cairan tubuh menguap dan jasad menjadi kering.
Selama proses tersebut, jasad juga disebut secara rutin dibalur dengan lemak babi. Dalam narasi tayangan, lemak tersebut berfungsi membantu proses pengawetan sekaligus melapisi permukaan tubuh sehingga jasad lebih terlindungi dari proses pembusukan.
Baca Juga: Pukat Tarik Manual Padang Tikar, Tradisi Leluhur yang Masih Bertahan di Tengah Modernisasi Nelayan
Warna Jasad Berubah Menjadi Hitam Pekat
Setelah proses pengasapan selesai, mumi disebut mengalami perubahan warna menjadi hitam pekat dengan kondisi tubuh yang mengeras. Jasad kemudian disimpan secara khusus di dalam honai laki-laki.
Keberadaan mumi tersebut bukan sekadar peninggalan masa lalu. Dalam tradisi masyarakat yang menjaganya, mumi memiliki kedudukan sakral dan menjadi bagian dari warisan leluhur yang dipelihara secara turun-temurun.
Baca Juga: Hampir 300 Tahun Bertahan, Apa Rahasia Tradisi Robo-robo Mempawah Tetap Hidup hingga Kini?
Hal menarik lainnya adalah keberadaan sejumlah ikatan tali yang terlihat melingkari bagian leher mumi. Dalam tayangan tersebut, ikatan itu disebut memiliki fungsi tertentu dalam mencatat perjalanan waktu dan sejarah mumi.
Ikatan Tali Disebut Menyimpan Catatan Sejarah
Setiap ikatan tali disebut berkaitan dengan berapa lama mumi tersebut telah berada di tempat penyimpanannya serta jumlah upacara besar yang pernah melibatkan mumi tersebut.
Dengan demikian, ikatan pada tubuh mumi tidak hanya dipandang sebagai aksesori. Dalam narasi yang beredar, bagian tersebut menjadi semacam penanda yang menghubungkan keberadaan mumi dengan perjalanan sejarah masyarakat yang merawatnya.
Keberadaan mumi Agt Mametabel memperlihatkan bagaimana masyarakat di Papua memiliki pengetahuan dan tradisi tersendiri dalam memperlakukan jasad leluhur. Proses pengawetan menggunakan asap juga menunjukkan adanya praktik budaya yang diwariskan antargenerasi.
Bukan Sekadar Jasad, tetapi Warisan Leluhur
Baca Juga: Dari Perjalanan 40 Perahu hingga Tradisi Tahunan, Begini Sejarah Awal Ritual Robo-robo di Mempawah
Bagi masyarakat yang mempertahankan tradisi tersebut, mumi memiliki nilai budaya dan sejarah yang jauh lebih besar daripada sekadar jasad manusia yang telah diawetkan.
Mumi menjadi pengingat terhadap sosok leluhur sekaligus bagian dari identitas komunitas. Karena itu, keberadaannya diperlakukan dengan penuh penghormatan dan tidak semata-mata dipandang sebagai objek yang menarik perhatian karena keunikannya.
Kisah mumi Agt Mametabel juga menjadi gambaran bahwa kekayaan budaya Indonesia tidak hanya terlihat dari rumah adat, pakaian tradisional, atau upacara adat. Cara masyarakat menjaga hubungan dengan leluhur juga menjadi bagian penting dari warisan budaya yang menarik untuk dipelajari.
Baca Juga: Frans Kaisiepo, Pahlawan Papua di Uang Rp10.000 yang Perjuangannya Jarang Diketahui
Kisah mumi Agt Mametabel menunjukkan bagaimana sebuah jasad dapat menjadi bagian dari ingatan kolektif suatu masyarakat selama ratusan tahun. Tradisi pengawetan, penyimpanan, hingga penanda sejarah pada mumi menjadi warisan yang memperlihatkan kuatnya hubungan antara leluhur, keluarga, dan kebudayaan di Papua.
Editor : Silvina