PONTIANAK POST - Presiden Soekarno menyampaikan pidato yang kemudian dikenal sebagai salah satu amanat terpenting dalam perjalanan sejarah Indonesia pada 17 Agustus 1966. Pidato tersebut disampaikan ketika Republik Indonesia memperingati ulang tahun kemerdekaan ke-21.
Pidato berjudul Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah itu memiliki pesan yang kuat. Soekarno mengajak bangsa Indonesia melihat perjalanan masa lalu sebagai bekal untuk menghadapi masa depan yang menurutnya akan semakin berat.
Soekarno Mengingatkan Bangsa agar Tidak Melupakan Sejarah
Baca Juga: Pemuda Ancam Soekarno Jelang Proklamasi, Ini yang Terjadi di Pegangsaan Timur
Dalam pidatonya, Soekarno lebih dahulu mengajak rakyat bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena Indonesia telah melewati 21 tahun perjalanan sebagai negara merdeka. Namun, ia sekaligus mengingatkan bahwa tantangan yang akan dihadapi bangsa tidak semakin ringan.
Menurut Soekarno, sebuah bangsa tidak cukup hanya membangun negara secara fisik. Pembangunan ekonomi, teknologi, pertahanan, dan berbagai bidang lainnya harus disertai pembangunan jiwa bangsa.
Gagasan itulah yang kemudian ia tekankan melalui konsep nation and character building. Bagi Soekarno, membangun karakter bangsa merupakan bagian penting dari upaya menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang mampu menghadapi berbagai tantangan.
Baca Juga: 16 Agustus,Situasi Memanas di Rengasdengklok, Pemuda Desak Soekarno Segera Proklamasikan Kemerdekaan
Ia juga mengingatkan bahwa keahlian semata tidak cukup apabila tidak dibangun di atas jiwa bangsa yang kuat. Karena itu, pembangunan manusia dan karakter ditempatkan sebagai bagian mendasar dari cita-cita Indonesia setelah merdeka.
Pesan "Jasmerah" yang Melekat hingga Sekarang
Salah satu bagian paling dikenal dari pidato tersebut adalah seruan agar bangsa Indonesia tidak meninggalkan sejarah. Pesan itu kemudian populer dengan istilah Jasmerah, singkatan dari "Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah".
Baca Juga: Rumah Pegangsaan Timur 56 Jadi Saksi Proklamasi, Tapi Mengapa Soekarno Malah Membongkarnya?
Soekarno menilai masa lalu tidak boleh diputus begitu saja karena hasil perjuangan generasi sebelumnya menjadi bagian dari perjalanan bangsa pada masa kini. Ia bahkan mengingatkan bahwa bangsa yang kehilangan sejarah dapat kehilangan pijakan dalam menentukan arah perjuangannya. (Wikisource)
Dalam pidato itu, Soekarno juga mengajak rakyat melakukan introspeksi terhadap perjalanan Indonesia selama 21 tahun. Menurutnya, pengalaman masa lalu, baik yang dianggap berhasil maupun yang menjadi kekurangan, harus menjadi bahan pembelajaran untuk melangkah ke depan.
Pidato tersebut juga menyinggung situasi politik Indonesia setelah gejolak 1965. Soekarno menyatakan bahwa peristiwa G30S harus ditutup dan pihak yang bersalah harus dihukum, tetapi ia juga menegaskan bahwa berbagai prinsip yang dianggap baik bagi bangsa tidak semestinya ikut dibuang.
Baca Juga: Tak Hanya Proklamator, Soekarno Disebut Punya Jasa Besar bagi Mahasiswa Indonesia Kuliah di Mesir
Soekarno Bicara Pancasila dan Masa Depan Revolusi
Dalam bagian lain amanatnya, Soekarno menegaskan pentingnya mempertahankan Pancasila dan gagasan Trisakti. Ia memandang prinsip-prinsip tersebut sebagai bagian dari arah perjuangan Indonesia yang harus terus dikembangkan.
Pidato itu juga menunjukkan bagaimana Soekarno masih menempatkan revolusi sebagai bagian penting dari perjalanan bangsa. Ia menyerukan persatuan semangat, kesadaran, dan tekad agar rakyat Indonesia tetap menghadapi masa depan sebagai sebuah bangsa.
Baca Juga: Mengapa Ada Pohon Soekarno di Padang Arafah? Begini Fakta dan Sejarahnya
Versi rekaman yang ditayangkan @BimoKA pada 21 Agustus 2025 memperlihatkan kembali suasana dan isi amanat Soekarno tersebut. Pidato 17 Agustus 1966 ini banyak disebut sebagai pidato terakhir Soekarno dalam peringatan HUT Proklamasi sebelum berakhirnya masa kepemimpinannya. (YouTube)
Pada akhirnya, pidato tersebut bukan hanya berbicara tentang kondisi Indonesia pada 1966. Pesan mengenai pentingnya memahami sejarah, membangun karakter bangsa, menjaga persatuan, serta mempertahankan prinsip dasar negara membuat amanat itu terus dikenang hingga sekarang.
Editor : Silvina