Batu Ballah, Cerita Rakyat Kalbar yang Kini Mendapat Perlindungan Kekayaan Intelektual Komunal

Uray Ronald • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:56 WIB
Ilustrasi. (GGI)
Ilustrasi. (GGI)

 

PONTIANAK POST – Cerita rakyat dan lagu daerah Batu Ballah menjadi salah satu kekayaan budaya Kalimantan Barat yang mendapat pencatatan Kekayaan Intelektual Komunal (KIK).

Pencatatan tersebut diserahkan Kantor Wilayah Kementerian Hukum Kalimantan Barat dalam rangkaian Hari Pengayoman Ke-81 Tahun 2026. Batu Ballah dicatat bersama sejumlah kekayaan hayati dan budaya daerah lainnya.

Kepala Kanwil Kemenkum Kalbar Jonny Pesta Simamora mengatakan pencatatan kekayaan intelektual menjadi bentuk kehadiran negara untuk memberikan perlindungan terhadap karya dan kekayaan masyarakat.

"Momentum Hari Pengayoman ke-81 ini kami jadikan bukti nyata bahwa negara hadir melindungi karya anak bangsa, mulai dari karya seni, tulisan ilmiah, hingga kekayaan hayati dan budaya tradisional Kalimantan Barat," kata Jonny.

Baca Juga: Mengenal Ayam Tukong, Unggas Unik Asal Kalimantan Barat

Batu Ballah sebagai Warisan Budaya Kalbar

Batu Ballah dicatat sebagai bagian dari KIK yang merepresentasikan kekayaan budaya daerah. Pencatatan tersebut menempatkan cerita rakyat dan lagu daerah Batu Ballah dalam kerangka perlindungan kekayaan intelektual komunal.

Batu Ballah menjadi salah satu dari tujuh KIK yang diserahkan Kanwil Kemenkum Kalbar dalam kegiatan tersebut. KIK lainnya meliputi Sumber Daya Genetik Ale-Ale, Pengetahuan Tradisional Ketupat Colet, Sumber Daya Genetik Ayam Tukong, serta dua motif Tenun Kebat Kumpang Ilong.

Baca Juga: Rayakan Hari Pengayoman ke-81, Kanwil Kemenkum Kalbar Serahkan 25 Sertifikat Hak Cipta Gratis

Bukan Sekadar Cerita, tetapi Identitas Budaya

Pencatatan KIK menjadi penting karena cerita rakyat dan lagu daerah merupakan bagian dari kekayaan budaya yang hidup di tengah masyarakat. Melalui pencatatan tersebut, keberadaan Batu Ballah mendapat pengakuan dalam sistem kekayaan intelektual komunal.

Perlindungan juga diharapkan dapat mendorong pemanfaatan dan pengembangan kekayaan budaya secara berkelanjutan.

Jonny mengatakan pencatatan kekayaan intelektual tidak semestinya berhenti sebagai dokumen perlindungan hukum. Menurut dia, pencatatan perlu diikuti pendampingan agar kekayaan intelektual yang dimiliki masyarakat dapat dikembangkan dan memberikan nilai ekonomi.

"Pencatatan kekayaan intelektual merupakan bentuk kehadiran negara dalam melindungi karya masyarakat sekaligus membuka peluang pengembangan potensi ekonominya," ujarnya.

Ia menambahkan perlindungan kekayaan intelektual perlu diikuti pemanfaatan dan pengembangan karya secara berkelanjutan agar memberikan manfaat bagi masyarakat dan perekonomian daerah.

Dalam konteks Batu Ballah, pencatatan KIK menjadi salah satu langkah untuk menjaga keberadaan cerita rakyat dan lagu daerah tersebut sebagai bagian dari kekayaan budaya Kalimantan Barat.

Kisah atau Legenda Batu Ballah

Dalam salah satu versi yang dibahas dalam jurnal Kadera Bahasa, Batu Ballah dikenal pula sebagai Batu Ballah Batu Betangkup. Kisahnya berkaitan dengan seorang ibu miskin yang hidup bersama tiga anaknya di sebuah desa dekat pantai.

Dikisahkan, sang ibu sedang mengidam telur tembakul. Ia pergi ke pantai untuk mencari telur tersebut dan berpesan kepada anak-anaknya agar menjaga adik serta tidak menghabiskan makanan yang dibawanya pulang. Setelah berusaha cukup lama, ia hanya mendapatkan beberapa butir telur tembakul.

Sesampainya di rumah, telur itu direbus untuk dimakan bersama. Namun, karena anak-anaknya lapar, telur tersebut akhirnya habis sebelum sang ibu kembali dari mandi. Ketika mengetahui tidak ada telur yang tersisa, sang ibu merasa sedih dan kecewa.

Baca Juga: Ayam Tukong Kalbar Resmi Tercatat sebagai Kekayaan Intelektual Komunal

Dalam keadaan kecewa, sang ibu pergi menuju pantai dan mendatangi Batu Ballah. Ia kemudian menyanyikan ratapan yang dalam cerita tersebut menjadi bagian penting dari legenda. Batu itu secara bertahap menangkup tubuh sang ibu hingga akhirnya ia hilang di dalam batu.

Versi tersebut juga memperlihatkan kaitan Batu Ballah dengan kepercayaan "kemponan", yakni kepercayaan masyarakat Kalimantan Barat mengenai akibat ketika keinginan terhadap makanan atau minuman tidak terpenuhi.

Penelitian Nindwihapsari menggunakan naskah Batu Ballah sebagai salah satu sumber untuk melihat bagaimana konsep kemponan hadir dalam tradisi lisan masyarakat Kalbar.

Pesan Moral Batu Ballah

Pesan moral Batu Ballah dapat dibaca dari hubungan antara anak, ibu, makanan, dan tanggung jawab. Cerita ini menggambarkan pentingnya menghargai perjuangan orang tua, menaati pesan, tidak mementingkan diri sendiri, serta memahami konsekuensi dari sebuah tindakan.

Ada pula dimensi sosial yang lebih kuat. Dalam kajian tentang kemponan, makanan tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan untuk bertahan hidup, tetapi juga memiliki makna sebagai bentuk kasih sayang, persahabatan, dan ikatan sosial. Berbagi makanan dipahami sebagai bagian dari hubungan antarmanusia.

Sumber lain yang lebih spesifik mengenai musik Indonesia juga mencatat Batu Ballah sebagai lagu daerah Kalimantan Barat, khususnya masyarakat Melayu di Kabupaten Sambas. Lagu tersebut disebut biasa dinyanyikan untuk menidurkan anak atau adik dan memiliki tujuan agar anak tidak rakus atau tamak serta memiliki jiwa sosial.

Batu Ballah Masuk Pembelajaran Anak

Pemanfaatan Batu Ballah untuk pendidikan juga memiliki dokumentasi akademik. Dalam sebuah kegiatan workshop pemanfaatan cerita rakyat bagi guru PAUD yang diselenggarakan pada 2024, Batu Ballah diperkenalkan sebagai salah satu contoh cerita rakyat yang dapat diadaptasi ke dalam pembelajaran anak usia dini.

Workshop tersebut melibatkan 20 peserta dan memberikan pelatihan kepada guru untuk mengembangkan e-modul berbasis cerita rakyat. Peserta diajarkan mengubah cerita menjadi materi yang memuat narasi, aktivitas interaktif, evaluasi sederhana, ilustrasi digital, dan video pendek.

Dalam kegiatan tersebut, Batu Ballah dipilih karena memiliki alur menarik, pesan moral, dan latar budaya lokal. Materinya diarahkan untuk mengenalkan nilai kerja keras dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan kepada anak.

Cerita rakyat juga dapat dikembangkan menjadi drama sederhana, permainan peran, atau kegiatan menggambar karakter. Pendekatan seperti ini membuat anak tidak hanya mendengarkan cerita, tetapi ikut terlibat dalam memahami pesan yang terkandung di dalamnya.*

Editor : Uray Ronald
Sumber : Antara
Batu Ballah cerita rakyat Batu Ballah KIK Kalbar kekayaan budaya Kalimantan Barat cerita rakyat Kalbar