PONTIANAK POST - Mengganti keramik lantai tidak selalu harus melalui proses pembongkaran yang panjang dan menghasilkan banyak puing.
Kini, renovasi lantai bisa dilakukan dengan cara yang lebih praktis melalui teknik tile-on-tile, yaitu memasang keramik baru langsung di atas keramik lama.
Metode ini banyak dipilih karena dapat mempercepat pekerjaan renovasi sekaligus mengurangi limbah konstruksi. Namun, pemasangannya tetap membutuhkan persiapan yang tepat agar hasil akhir kuat dan tahan lama.
Baca Juga: Ingin Karier Lebih Lancar? Ini Tips Feng Shui Rumah dan Meja Kerja Menurut Astrologi China
Pastikan Keramik Lama Masih Layak
Menurut Galuh Zulaikha dari Gravel Indonesia, teknik tile-on-tile dapat menjadi solusi renovasi lantai selama kondisi keramik lama memenuhi persyaratan.
’’Teknik tile-on-tile memungkinkan keramik baru dipasang langsung di atas keramik lama. Tetapi, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar hasilnya tetap kuat dan awet,’’ ujar Galuh, dikutip dari Jawapos.
Tahap awal yang perlu dilakukan adalah memeriksa kondisi lantai secara menyeluruh. Permukaan keramik lama harus dibersihkan dari debu, minyak, lumut, maupun kotoran lain yang dapat mengurangi daya rekat perekat.
Baca Juga: Tips Menanam Curly Kale Agar Daunnya Lebat dan Tumbuh Optimal di Rumah
Keramik lama yang mengalami retak, pecah, atau terangkat juga tidak bisa langsung ditutup dengan lapisan baru. Bagian tersebut perlu dilepas terlebih dahulu, kemudian diratakan menggunakan adukan semen hingga sejajar dengan permukaan lantai lainnya.
Gunakan Perekat Khusus Tile-on-Tile
Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam pemasangan keramik baru di atas keramik lama adalah penggunaan material perekat yang tidak sesuai.
Galuh menjelaskan, pemasangan metode ini tidak dapat menggunakan adukan semen biasa. Dibutuhkan mortar khusus tile-on-tile yang dirancang untuk merekatkan keramik baru pada permukaan keramik lama yang cenderung licin.
Baca Juga: Lantai Kamar Mandi Licin? Ini Cara Mengatasinya Tanpa Bongkar Keramik
’’Mortar khusus ini diaplikasikan menggunakan roskam bergerigi supaya penyebaran perekat lebih merata dan ikatan antara keramik lama dengan keramik baru menjadi lebih maksimal,’’ jelasnya.
Setelah perekat diaplikasikan, pemasangan keramik baru sebaiknya dilakukan dengan arah nat berbeda dari susunan keramik lama. Pola tersebut membantu mendistribusikan beban secara lebih merata sehingga risiko keretakan dapat dikurangi.
’’Pastikan ketebalan setiap keping keramik seragam. Jika terdapat perbedaan tinggi, permukaan dapat diratakan menggunakan gerinda agar hasil akhir tetap rata,’’ paparnya.
Perhatikan Nat, Elevasi Lantai, dan Risiko Kopong
Tahap akhir pemasangan dilakukan dengan mengisi sela-sela keramik menggunakan nat khusus, bukan semen biasa. Untuk area lantai yang luas, perlu dibuat expansion joint atau nat yang diperlebar setiap sekitar 6 x 6 meter hingga 8 x 8 meter.
Baca Juga: Cara Membersihkan Cat Kering di Lantai Keramik Tanpa Bensin dan Minyak Tanah
Pembuatan celah tersebut berfungsi untuk mengakomodasi perubahan akibat pemuaian dan penyusutan material.
’’Ada beberapa hal yang sering terlewat. Keramik baru untuk metode tile-on-tile tidak perlu direndam sebelum dipasang. Selain itu, gunakan tile spacer agar posisi keramik tidak bergeser selama proses pemasangan,’’ kata Galuh.
Selain teknik pemasangan, pemilik rumah juga perlu memperhitungkan perubahan ketinggian lantai. Penambahan satu lapisan keramik baru dapat membuat elevasi lantai meningkat.
Kondisi tersebut biasanya membuat bagian bawah daun pintu perlu disesuaikan agar tidak bergesekan dengan lantai.
Baca Juga: Solusi Hemat Perbaiki Lantai Keramik Retak di Rumah
’’Kekurangan lainnya, kalau ada keramik bawah yang kopong tapi tidak dipecah, atasnya bisa ikut terangkat,’’ imbuhnya.
Dengan persiapan yang tepat, metode tile-on-tile dapat menjadi pilihan renovasi lantai yang lebih efisien tanpa harus melewati proses bongkar keramik lama secara menyeluruh. (*)
Editor : Chairunnisya