PONTIANAK POST – Perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Landak, Kalimantan Barat, tidak langsung dimulai dengan pertempuran terbuka. Setelah kabar Proklamasi Kemerdekaan dan pergolakan nasional diketahui, gerakan rakyat di wilayah tersebut mula-mula bergerak secara rahasia.
Sejarah tentang perjuangan ini disampaikan peminat kajian sejarah Kalbar Syafarudin Daeng Usman. Menurut Syafarudin, pada tahap awal ketika NICA berkuasa, gerakan bawah tanah mulai tumbuh. Namun, gerakan tersebut kemudian berkembang menjadi perjuangan gerilya dan sabotase ketika rakyat Landak semakin tegas menolak kehadiran kembali kekuasaan kolonial.
"Salah satu tokoh yang disebut tampil keras menentang pemerintahan NICA adalah Gusti Mohammad Appandie Ranie Pangeran Mangkubumi Setia Negara. Ia merupakan pangeran mangkubumi atau wakil raja di Kerajaan Landak,"ujarnya.
Baca Juga: 16 Agustus,Situasi Memanas di Rengasdengklok, Pemuda Desak Soekarno Segera Proklamasikan Kemerdekaan
Sikap tersebut mendapat dukungan dari rakyat Kerajaan Landak yang pada masa itu disebut tetap setia kepada pemerintah Republik Indonesia yang baru berdiri. Kesetiaan itu kemudian berkembang menjadi gerakan yang lebih terorganisasi.
PRI Menjadi Wadah Perjuangan
Pada Maret 1946, wilayah Onderafdeeling Landak, khususnya Kewedanaan Ngabang, membentuk organisasi bernama Persatuan Rakyat Indonesia atau PRI di bawah kepemimpinan Gusti Affandi Ranie. Organisasi ini menyatakan rakyat dari berbagai tingkatan dan agama berdiri di belakang Republik Indonesia.
Baca Juga: Dari Rengasdengklok ke Rumah Laksamana Maeda, Begini Awal Perumusan Teks Proklamasi
Pengurus pusat PRI tersebut lanjut Syafarudin terdiri atas 15 orang dan diketuai Gusti Abdulhamid Aun. Sementara itu, bagian propaganda beranggotakan 17 orang dan dipimpin Gusti Mohamad Said Ranie.
Gusti Mohamad Said Ranie kemudian mengalami nasib tragis. Ia meninggal ketika menjalani masa tahanan di penjara NICA di Sungai Jawi Pontianak akibat siksaan yang disebut dilakukan perwira KNIL dan kaki tangan NICA lainnya.
PRI tidak hanya menjadi organisasi politik. Gerakannya juga berusaha memberikan penerangan mengenai arti dan makna Proklamasi 17 Agustus 1945 serta langkah mempertahankan kemerdekaan kepada rakyat Landak.
Baca Juga: Menjelang Sahur, Meja dan Ruang Makan Rumah Maeda Jadi Saksi Lahirnya Teks Proklamasi
Di Distrik Ngabang, gerakan tersebut kemudian berkembang dari propaganda menjadi aksi sabotase dan persiapan perang gerilya. Perubahan itu menunjukkan meningkatnya ketegangan antara rakyat yang mempertahankan republik dan kekuatan NICA.
PRI Berubah Menjadi Geram
"Pada awal Oktober 1946, PRI yang dinilai telah berhasil menanamkan semangat mempertahankan kemerdekaan kemudian berubah sifat menjadi organisasi revolusioner. Organisasi baru itu bernama Gerakan Rakyat Merdeka atau Geram, Syafarudin yang juga akademisi ini menjelaskan.
Baca Juga: Bung Karno Sakit dan Rakyat Menanti, Begini Tegangnya Detik-Detik Proklamasi 17 Agustus 1945
Persiapan pembentukan Geram kemudian dilakukan melalui koordinasi PRI yang sebelumnya bergerak dalam bidang politik. Setelah berdiri, Geram mulai mengarahkan perjuangan pada aksi bersenjata terhadap militer NICA dan KNIL.
Geram juga berusaha menegakkan kekuasaan republik di daerah Landak sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Republik Indonesia. Dalam gerakannya, organisasi ini kemudian melibatkan sejumlah bekas Heiho dan Seinendan yang sebelumnya mendapat latihan semimiliter pada masa pendudukan Jepang.
Pimpinan gerakan bersenjata kemudian dibagi berdasarkan wilayah. Gusti Mohammad Lagum Amin memimpin gerakan di Ngabang, Air Besar, dan Menyuke, sedangkan Bardan Nadi Sutrisno memimpin gerakan di Distrik Sengah Temila.
Baca Juga: Proklamasi Dibacakan Sekali, Merdeka Selamanya: Inilah Sejarah Besar Indonesia 17 Agustus 1945
Dari gerakan rahasia, propaganda, sabotase, hingga pembentukan Geram, perjuangan rakyat Landak memasuki fase baru. Perubahan tersebut menjadi awal menuju perlawanan bersenjata yang kemudian meletus dalam serangan terhadap posisi NICA dan KNIL di Ngabang pada Oktober 1946.
Editor : Silvina