PONTIANAK POST – Perlawanan rakyat Landak terhadap NICA dan KNIL memasuki fase bersenjata pada Oktober 1946. Salah satu peristiwa penting terjadi pada malam 9 Oktober hingga dini hari 10 Oktober 1946, ketika pasukan Gerakan Rakyat Merdeka atau Geram melancarkan serangan di Ngabang.
Berdasarkan catatan sejarah Syafarudin Daeng Usman, peminat kajian sejarah Kalbar. sebelum serangan dilakukan, 9 Oktober 1946 berlangsung rapat rahasia di rumah Gusti Sani. Pertemuan tersebut juga dihadiri Sukimin yang disebut sebagai utusan organisasi pergerakan rakyat Singkawang.
Dalam persiapan tersebut, berbagai jenis senjata telah tersedia. Senjata tajam menjadi perlengkapan utama, sementara sejumlah senapan dan granat tangan diperoleh dari bekas Heiho yang bergabung dalam Geram.
Baca Juga: Sebelum Perang Meletus, Begini Awal Gerakan Rakyat Landak Kalbar Melawan NICA
Geram kemudian menyusun aksi terhadap sejumlah titik yang dikuasai NICA dan KNIL. Sasaran serangan meliputi tangsi militer KNIL dan NICA di Ilir Kantor, pos polisi NICA, serta rumah kontrolir Belanda di Ilir Tengah Ngabang.
Sabotase Komunikasi Sebelum Serangan
Serangan tidak hanya dilakukan dengan kekuatan bersenjata. Sebelum pertempuran berlangsung, jaringan komunikasi di kantor telepon Ngabang juga menjadi sasaran sabotase.
Baca Juga: Ternyata Pernah Ada Gagasan Membentuk Negara Dayak Besar di Kalimantan, Begini Sejarahnya
Pada sore hari sebelum pertempuran, peralatan komunikasi di kantor telepon Ngabang dirusak oleh para pekerjanya, Ya' Mohamad Tayib dan Ismail Gani. Akibatnya, hubungan telepon dari dan menuju Ngabang terputus.
Pada Kamis malam 9 Oktober hingga memasuki Jumat 10 Oktober 1946, serangan terhadap tangsi militer dilakukan pasukan dari Air Besar, Sengah Temila, Sangku, dan Darit. Pasukan tersebut berada di bawah pimpinan Djoko Walujo dan Gusti Sani.
Sementara itu, serangan terhadap pos polisi dan rumah kontrolir di Ilir Tengah Ngabang dipimpin Ya' Nasri Osman atau Ya' Dedeh bersama Gusti Mohamad Said Ranie. Pertempuran disebut pecah sekitar pukul 02.00 dini hari.
Baca Juga: Bendera Borneo Raya Berkibar, Ternyata Bermula dari Jejak Negara Dayak Besar di Kalimantan
Namun, serangan terhadap tangsi militer NICA dan KNIL tidak berhasil merebut posisi tersebut. Pasukan NICA dan KNIL telah bersiaga setelah memperoleh informasi dari pihak yang membantu mereka, termasuk Demang Ngabang.
Bendera Merah Putih Berkibar di Ngabang
Pertempuran di pos polisi NICA berlangsung lebih berhasil. Ya' Nasri Osman bersama sejumlah rekannya, termasuk Abang Mohamad Noor, dapat menerobos masuk dan melakukan pertarungan jarak dekat. Dua unit karaben berhasil dirampas.
Baca Juga: Negara Dayak Besar Tak Terwujud, Begini Akhir Gagasan Negara Kalimantan
Ya' Nasri Osman kemudian terkena tembakan pada bagian pangkal kaki dan berlindung di lubang perlindungan serangan udara di depan rumah kontrolir Landak. Dalam situasi tersebut, ia kemudian menjadi tokoh yang mengibarkan bendera Merah Putih di halaman kantor pemerintah NICA Belanda di Ngabang.
Pengibaran bendera Merah Putih itu berlangsung pada Jumat, 10 Oktober 1946 sekitar pukul 01.00 dini hari. Peristiwa tersebut menjadi salah satu simbol perlawanan rakyat Landak terhadap kekuasaan NICA.
Namun, keberhasilan tersebut tidak mengubah keadaan secara keseluruhan. Pasukan Geram kemudian kehabisan amunisi dan terpaksa meninggalkan wilayah pertempuran untuk melakukan gerilya di pedalaman Landak.
Baca Juga: Gagasan Negara Dayak Dikabarkan Kembali Berembus, Ini Latar Belakang dan Tuntutannya
Pasukan Geram dari Sengah Temila, Darit, dan Sangku bergerak menuju Sidas. Sementara itu, pasukan dari Ngabang dan Air Besar mundur ke arah Munggu dan Ambarang sesuai rencana yang telah disiapkan apabila pasukan NICA dan KNIL tidak berhasil dikalahkan.
Serangan Ngabang akhirnya tidak berujung pada penguasaan wilayah oleh Geram. Namun, peristiwa 10 Oktober 1946 menjadi bagian penting dari sejarah perlawanan rakyat Landak dalam mempertahankan kemerdekaan dan menghadapi kembalinya kekuatan kolonial.
Editor : Silvina