PONTIANAK POST – Peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam menjadi salah satu tradisi yang dilakukan sebagian umat Islam untuk mengenang kelahiran Nabi. Namun, sejarah kemunculan peringatan tersebut menjadi pembahasan tersendiri di kalangan ulama dan ahli sejarah.
Maulid Disebut Muncul Setelah Tiga Generasi Awal Islam
Dalam materi yang disampaikan melalui kanal Yufid, sejarah munculnya peringatan Maulid disebut berkaitan dengan kelompok yang dikenal sebagai Bathiniyah dan kemudian mengidentifikasi dirinya sebagai Bani Fatimiyah.
Baca Juga: Mengapa Islam Cepat Berkembang di Nusantara? Ini Sejarah dan Cara Penyebarannya
Dalam penjelasan tersebut, kelompok ini disebut baru berkuasa pada awal abad ke-4 Hijriah. Karena itu, peringatan Maulid dinilai muncul pada masa yang jauh setelah Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam, para sahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in.
Tiga generasi tersebut dikenal sebagai generasi utama dalam sejarah Islam. Dalam materi Yufid, disebutkan bahwa peringatan Maulid Nabi belum dikenal pada masa tiga generasi tersebut.
Enam Maulid dalam Tradisi Fatimiyah
Baca Juga: Perjanjian Hudaibiyah, Strategi Damai Rasulullah yang Mengubah Sejarah Islam
Dalam materi itu juga disebutkan bahwa kelompok Bathiniyah memiliki enam jenis peringatan Maulid. Selain Maulid Nabi, terdapat peringatan kelahiran Ali bin Abi Thalib, Fatimah, Hasan, Husain, serta penguasa mereka.
Peringatan-peringatan tersebut kemudian disebut menjadi bagian dari kehidupan keagamaan di bawah kekuasaan kelompok yang dikenal sebagai Fatimiyah. Dari sinilah muncul pandangan bahwa tradisi Maulid Nabi merupakan praktik yang berkembang pada masa belakangan.
Al-Hafizh As-Sakhawi yang dikutip menyatakan peringatan Maulid Nabi tidak dinukil dari ulama generasi terdahulu yang termasuk dalam tiga generasi utama Islam.
Baca Juga: Begini Sejarah Penetapan Tahun Baru Islam dan Kalender Hijriah yang Mendunia
Dikaitkan dengan Upaya Menarik Simpati Umat
Dalam materi tersebut Yufid menjelaskan penyelenggaraan Maulid oleh kelompok Fatimiyah dipandang memiliki tujuan politik dan keagamaan. Peringatan itu disebut digunakan untuk menyebarkan keyakinan kelompok sekaligus menarik simpati kaum Muslimin.
Kedekatan dengan keluarga Nabi atau Ahlul Bait disebut menjadi salah satu cara untuk mendapatkan penerimaan masyarakat. Kelompok tersebut mengklaim memiliki hubungan keturunan dengan Fatimah, putri Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam.
Baca Juga: Menelurusi Gua Hira, Lokasi Bersejarah Lahirnya Risalah Islam di Pinggir Mekkah
Namun, materi Yufid juga menyampaikan adanya perdebatan mengenai klaim nasab kelompok tersebut. Karena itu, istilah Fatimiyah dalam sumber tersebut dikaitkan dengan klaim keturunan dari Fatimah, sementara pihak yang mengkritiknya menggunakan sebutan Ubaidiyah.
Maulid dan Perjalanan Sejarah Islam
Pembahasan tentang sejarah Maulid tidak terlepas dari perjalanan politik dan keagamaan dunia Islam pada abad-abad setelah Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam.
Baca Juga: Menelusuri Gua Bersejarah Ashabul Kahfi yang Kisahnya Terekam dalam Alquran
Fatimiyah disebut sebagai kelompok Syiah yang berhadapan dengan Ahlus Sunnah. Dinasti ini kemudian berkembang menjadi kekuatan politik yang memiliki pengaruh besar di Afrika Utara.
Yufid lantas menyebut kemunculan mereka terjadi jauh setelah masa Nabi, sahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in. Karena itu, materi tersebut menempatkan Maulid sebagai praktik keagamaan yang muncul pada masa setelah tiga generasi utama Islam.
Seiring perkembangan Islam di Nusantara, tradisi Maulid Nabi kemudian berakar kuat di tengah masyarakat dan berkembang menjadi salah satu tradisi keislaman yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Baca Juga: Mengintip Laut Merah yang Diyakini Pernah Dibelah Nabi Musa, Begini Penampakan dan Kisah Mukjizatnya
Sejarah Maulid menjadi pembahasan yang tidak hanya berkaitan dengan peringatan kelahiran Nabi, tetapi juga bersinggungan dengan dinamika politik, kelompok keagamaan, serta perkembangan tradisi Islam sepanjang sejarah.
Wallahua'lam bishawab
Editor : Silvina