Dinasti Fatimiyah dan Syiah : Siapa Kelompok Ini dalam Sejarah Islam?

Silvina • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 11:32 WIB
GERBANG BARBER: Salah satu pintu masuk Masjid Al-Azhar, Kairo, Mesir, yang didirikan oleh Dinasti Fatimiyah. (DOK PONTIANAK POST)
GERBANG BARBER: Salah satu pintu masuk Masjid Al-Azhar, Kairo, Mesir, yang didirikan oleh Dinasti Fatimiyah. (DOK PONTIANAK POST)

 

PONTIANAK POST – Nama Fatimiyah kerap muncul dalam pembahasan sejarah Islam, khususnya ketika membicarakan perkembangan kelompok Syiah dan sejarah munculnya tradisi Maulid. Kelompok ini tidak hanya dikenal sebagai dinasti politik, tetapi juga memiliki latar belakang pemikiran dan gerakan keagamaan yang panjang.

Fatimiyah dan Klaim Keturunan Fatimah

Dalam materi yang disampaikan melalui kanal Yufid, Fatimiyah disebut sebagai kelompok Syiah yang mengikuti Ubaid bin Maimun Al-Qoddah. Kelompok tersebut menamakan dirinya Bani Fatimiyah karena mengklaim pemimpinnya merupakan keturunan Fatimah, putri Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam.

Baca Juga: Sejarah Maulid Nabi: Dari Fatimiyah yang Disebut Berafiliasi dengan Syiah hingga Tradisi Nusantara

Namun, materi tersebut menyebut klaim nasab itu mendapat penolakan dari sejumlah masyarakat Muslim di wilayah Maghrib. Karena perdebatan tersebut, kelompok ini dalam sumber tersebut juga disebut dengan istilah Bani Ubaidiyah.

Fatimiyah kemudian berkembang menjadi kekuatan politik di Afrika Utara. Dalam materi Yufid, kelompok ini disebut berkuasa selama kurang lebih dua abad sebelum akhirnya mengalami keruntuhan.

Berkuasa di Afrika Utara

Baca Juga: Sejarah Ketupat Lebaran dan Perannya dalam Dakwah Islam Nusantara

Menurut materi tersebut, kekuasaan Fatimiyah dimulai setelah keberhasilan mereka meruntuhkan Daulah Rustum pada 297 Hijriah. Kekuasaan itu kemudian berakhir pada 564 Hijriah setelah mereka dikalahkan oleh kekuatan yang dipimpin Salahuddin Al-Ayyubi.

Dalam perjalanan sejarahnya, kelompok tersebut disebut memiliki hubungan erat dengan kelompok Syiah Al-Qaramithah Bathiniyah. Materi Yufid menggambarkan hubungan itu dalam konteks kesamaan pemikiran dan perkembangan kelompok Bathiniyah.

Paham Bathiniyah dan Tafsir Makna Batin

Baca Juga: Lagi Galau? Ini 5 Cara Healing Ala Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wassalam untuk Menenangkan Hati

Salah satu hal yang dibahas dalam materi tersebut adalah paham Bathiniyah. Kelompok ini disebut memiliki keyakinan bahwa ayat-ayat Alquran mempunyai makna batin tertentu yang hanya diketahui oleh orang-orang khusus dalam kelompok mereka.

Dalam penjelasan Yufid, pemahaman tersebut dipandang sebagai penyimpangan dari ajaran Islam karena makna tertentu diklaim hanya dapat diketahui oleh kalangan terbatas.

Materi tersebut juga mengaitkan kelompok Qaramithah Bathiniyah dengan sejumlah peristiwa kontroversial dalam sejarah Islam. Salah satunya adalah peristiwa di Tanah Haram pada musim haji 317 Hijriah.

Baca Juga: Mengapa Islam Cepat Berkembang di Nusantara? Ini Sejarah dan Cara Penyebarannya

Qaramithah dan Peristiwa Hajar Aswad

Dalam materi Yufid disebutkan, kelompok Qaramithah melakukan kekacauan di Tanah Haram dengan menyerang jamaah haji, merusak bagian dari Ka'bah, dan membawa Hajar Aswad.

Hajar Aswad kemudian disebut berada di tangan kelompok tersebut selama sekitar 22 tahun sebelum dikembalikan. Peristiwa itu menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah kelompok-kelompok yang dikaitkan dengan Bathiniyah.

Baca Juga: Sejarah Air Zamzam yang Tak Pernah Kering, Berawal dari Perjuangan Hajar di Lembah Tandus

Siapa Ubaid bin Maimun Al-Qoddah?

Materi tersebut juga membahas sosok Ubaid bin Maimun Al-Qoddah yang disebut sebagai pendiri sekaligus pemimpin pertama Bani Fatimiyah. Nama lainnya disebut Ubaidillah bin Maimun, dengan kunyah Abu Muhammad.

Julukan Al-Qoddah dalam materi tersebut dikaitkan dengan kebiasaannya menggunakan celak sehingga bagian matanya terlihat mencolok. Ia kemudian disebut membawa paham Bathiniyah yang menekankan adanya makna batin dalam ayat-ayat Alquran.

Baca Juga: Fakta Ilmiah Sumur Zamzam, Ternyata Daerah Tangkapan Airnya Relatif Kecil

Ubaid bin Maimun juga disebut mengklaim hubungan nasab dengan Ahlul Bait melalui jalur Ismail bin Ja'far Ash-Shadiq. Namun, klaim tersebut disebut mendapat penolakan dari masyarakat Muslim di wilayah Maghrib.

Gerakan yang Berkembang Menjadi Kekuasaan

Terlepas dari perdebatan mengenai asal-usul nasab dan paham keagamaannya, kelompok Fatimiyah berhasil berkembang menjadi kekuatan politik besar di Afrika Utara.

Baca Juga: Tak Banyak yang Tahu, Begini Cara Arab Saudi Menjaga Keberkahan Sumur Zamzam

Perjalanan kelompok tersebut menunjukkan bagaimana sebuah gerakan keagamaan dapat berkembang menjadi kekuatan politik yang bertahan selama berabad-abad. Kekuasaan Fatimiyah kemudian berakhir setelah munculnya kekuatan politik baru di bawah Salahuddin Al-Ayyubi.

Sejarah Fatimiyah akhirnya tidak hanya berkaitan dengan satu dinasti, tetapi juga dengan perdebatan mengenai nasab, paham keagamaan, hubungan dengan kelompok Syiah Bathiniyah, dan perkembangan politik dunia Islam pada abad pertengahan.

 

Editor : Silvina
kelompok Fatimiyah sejarah Fatimiyah Syiah Bathiniyah Ubaid bin Maimun sejarah islam