PONTIANAK POST – Sejarawan senior Indonesia, Prof. Dr. Anhar Gonggong, mengungkap kondisi Indonesia ketika Soeharto mulai menjadi presiden pada akhir dekade 1960-an.
Pernyataan tersebut disampaikan Prof. Anhar Gonggong dalam video YouTube Shorts yang diunggah akun manopotamba. Dalam video itu, Prof. Anhar menjelaskan posisi Soeharto ketika mulai memimpin Indonesia.
Menurut Prof. Anhar, Soeharto menjadi Pejabat Presiden pada 1967, kemudian menjadi presiden penuh pada 1968.
Baca Juga: Mengenang Soeharto di Hari Kelahirannya, Dari Kritik Sejarah hingga Gelar Pahlawan Nasional
“Ada satu hal barangkali yang orang tidak pikirkan, ketika Soeharto naik jadi presiden Republik ini negara bangkrut,” kata Prof. Anhar dalam video tersebut.
Ia menyebut kondisi Indonesia ketika itu mengalami kebangkrutan dengan tingkat yang cukup tinggi. Salah satu angka yang disampaikan Prof. Anhar adalah inflasi yang mencapai 600 persen.
Pendidikan Dasar Disebut Jadi Perhatian
Baca Juga: Terungkap, Begini Jejak Dakwah Soeharto di Papua yang Masih Dikenang hingga Kini
Selain membahas kondisi ekonomi Indonesia ketika Soeharto naik menjadi presiden, Prof. Anhar Gonggong juga menyoroti bidang pendidikan.
Menurut dia, Soeharto memiliki jasa dalam penyebaran pendidikan dasar. Sebelumnya, keberadaan sekolah dasar disebut belum tentu tersedia di setiap desa.
“Begitu Pak Harto naik, maka salah satu yang direncanakan adalah pendidikan itu antara lain dengan Inpres SD,” ujar Prof. Anhar dalam video tersebut.
Pernyataan itu menempatkan program Inpres SD sebagai salah satu rencana yang disebut berkaitan dengan upaya pendidikan pada masa awal kepemimpinan Soeharto.
Prof. Anhar dalam video tersebut menyoroti dua kondisi yang berkaitan dengan awal kepemimpinan Soeharto, yakni Indonesia yang disebut berada dalam kondisi bangkrut dengan inflasi mencapai 600 persen serta perhatian terhadap penyebaran pendidikan dasar melalui Inpres SD.
Editor : Silvina