Memancing Saat Kemarau, Surutnya Air Justru Jadi Petunjuk Lokasi Ikan Berada

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 14:02 WIB
Ilustrasi memancing di sungai surut saat musim kemarau.
Ilustrasi memancing di sungai surut saat musim kemarau.

 

PONTIANAK POST – Saat air sungai mulai surut dan matahari terasa lebih terik, pemancing justru perlu mengubah cara membaca perairan. Bukan sekadar melempar umpan ke tempat yang biasa, tetapi mencari bagian sungai yang masih dalam, teduh, memiliki arus, dan mampu mempertahankan kondisi air yang lebih baik.

Kemarau mengubah habitat ikan. Volume air yang menyusut membuat ruang hidup ikan semakin terbatas. Dalam kondisi tertentu, ikan dapat berkumpul di lubuk atau bagian perairan yang lebih dalam karena tempat tersebut relatif mampu menjaga suhu dan kadar oksigen.

Penelitian yang diterbitkan Ecological Research menunjukkan bahwa pada kondisi aliran rendah, lubuk yang lebih dalam dapat menjadi tempat perlindungan penting bagi ikan. Penelitian tersebut menemukan hubungan positif antara kedalaman lubuk dengan jumlah individu dan jenis ikan, terutama pada musim panas ketika lubuk dalam cenderung memiliki suhu dan oksigen terlarut yang lebih stabil. 

Bagi pemancing, temuan tersebut memberi petunjuk sederhana: ketika air surut, jangan hanya mencari tempat yang terlihat ramai. Cari bagian yang masih menyimpan kedalaman.

Air Surut Mengubah Posisi Ikan

Kemarau menyebabkan debit dan volume air berkurang. Kondisi itu membuat ikan tidak lagi memiliki ruang seluas ketika musim hujan.

Menurut Missouri University Extension, ketika permukaan air turun akibat kekeringan, ikan dapat mengalami tekanan karena terkonsentrasi pada volume air yang lebih kecil. Penurunan volume air juga dapat meningkatkan konsentrasi bahan sisa metabolisme dan mengurangi ketersediaan oksigen terlarut. 

Karena itu, pemancing dapat memulai pencarian dari bagian sungai yang lebih dalam, terutama lubuk, pertemuan arus, cekungan, atau bagian yang masih memiliki aliran.

Struktur seperti kayu tumbang, batu, akar tanaman, dan tepian bervegetasi juga layak diperhatikan karena dapat menjadi tempat perlindungan ikan.

Namun, kedalaman bukan satu-satunya patokan.

Arus, suhu, oksigen, struktur dasar, dan ketersediaan makanan tetap menentukan keberadaan ikan.

Panas Membuat Ikan Lebih Tertekan

Salah satu persoalan utama saat kemarau adalah meningkatnya suhu air.

Menurut U.S. Geological Survey (USGS), air yang lebih hangat mampu menyimpan oksigen terlarut lebih sedikit dibandingkan air dingin. Pada musim panas, kadar oksigen di perairan juga cenderung lebih rendah. Kondisi tersebut dapat membuat kehidupan akuatik mengalami tekanan, terutama ketika cuaca panas dan tenang berlangsung cukup lama. 

Hal serupa dijelaskan University of Florida IFAS Extension. Air hangat memiliki kemampuan lebih rendah dalam mempertahankan oksigen, sementara kenaikan suhu sekaligus meningkatkan kebutuhan oksigen organisme ikan. 

Artinya, pemancing perlu memperhatikan kondisi air, bukan hanya kondisi cuaca.

Ketika air terlalu panas, ikan dapat berpindah ke bagian yang lebih dalam atau lokasi yang memiliki kondisi oksigen lebih baik.

Pagi Bisa Jadi Waktu Lebih Aman

Waktu memancing juga penting selama periode panas.

Pada perairan yang mengalami suhu tinggi, memancing lebih pagi dapat menjadi pilihan karena suhu air biasanya belum mencapai puncaknya.

Departemen Perikanan dan Satwa Liar Wyoming, misalnya, mengingatkan pemancing untuk menyesuaikan aktivitas ketika suhu air meningkat. Mereka merekomendasikan pemancing keluar lebih pagi karena suhu air masih lebih rendah sehingga ikan lebih mampu bertahan, terutama setelah dilepas kembali. 

Namun, rekomendasi waktu tersebut tidak bisa disamaratakan untuk semua jenis ikan.

Karakter ikan air tawar tropis berbeda dengan ikan air dingin. Karena itu, pemancing perlu mengenali jenis ikan yang menjadi target dan karakter perairan setempat.

Jangan Abaikan Oksigen

Ada satu hal yang sering luput dari perhatian pemancing: oksigen terlarut.

Menurut FAO, kadar oksigen terlarut sangat penting bagi kehidupan ikan. Ketika suhu air meningkat, kemampuan air menyimpan oksigen menurun.

Kondisi tersebut dapat menjadi lebih serius ketika air semakin dangkal dan banyak ikan terkonsentrasi di ruang yang lebih kecil.

Pada kondisi kekeringan berkepanjangan, University of Missouri menjelaskan bahwa berkurangnya volume air dapat meningkatkan risiko kekurangan oksigen karena ikan dan organisme lain terkumpul dalam ruang yang lebih sempit. 

Karena itu, bagian perairan yang masih memiliki aliran atau sirkulasi air patut menjadi perhatian.

Lubuk Bisa Menjadi Titik Kunci

Saat air surut, lubuk menjadi salah satu lokasi yang layak dicoba.

Penelitian terbaru mengenai respons komunitas ikan terhadap kekeringan menemukan bahwa lubuk yang lebih dalam dapat berfungsi sebagai tempat perlindungan ketika aliran sungai menurun. Pada musim panas, kedalaman lubuk menjadi semakin penting karena mampu membantu menjaga kestabilan suhu dan oksigen dibandingkan bagian perairan yang lebih dangkal. 

Karena itu, pemancing dapat membaca sungai dari perubahan permukaan air.

Bagian yang tetap terlihat lebih gelap biasanya bisa menjadi indikasi perairan lebih dalam. Pertemuan arus, pusaran kecil, cekungan di balik batu atau kayu tumbang juga dapat menjadi lokasi yang menarik untuk diuji.

Tetapi tetap diperlukan pengamatan langsung karena karakter setiap sungai berbeda.

Kemarau Bukan Berarti Ikan Lebih Mudah Ditangkap

Air yang menyusut memang dapat mempersempit habitat ikan. Namun, kondisi tersebut tidak otomatis membuat ikan lebih mudah ditangkap.

Tekanan lingkungan justru dapat membuat ikan lebih sensitif terhadap perubahan suhu dan oksigen.

FAO menjelaskan bahwa kekurangan oksigen merupakan salah satu persoalan serius dalam perairan budidaya, sementara kadar oksigen berkaitan erat dengan suhu air.

Karena itu, memancing saat kemarau sebaiknya tidak dilakukan dengan mengejar sebanyak mungkin tangkapan.

Jika ikan terlihat lemah, megap-megap di permukaan, atau kondisi air sangat panas, pemancing sebaiknya mempertimbangkan untuk menghentikan aktivitas.

Baca Sungainya, Bukan Sekadar Lempar Umpan

Pada akhirnya, memancing saat kemarau membutuhkan kemampuan membaca perubahan perairan.

Air yang surut justru membuka informasi yang biasanya tersembunyi. Struktur dasar sungai, lubuk, jalur arus, bebatuan, akar, dan kayu tumbang lebih mudah dikenali.

Lokasi-lokasi tersebut dapat dicatat untuk menjadi referensi ketika permukaan air kembali naik.

Jadi, kemarau bukan semata-mata musim ketika pemancing harus menunggu hujan turun.

Ketika air menyusut, sungai sebenarnya sedang membuka “peta”-nya. Tinggal bagaimana pemancing membaca kedalaman, arus, suhu, oksigen, dan tempat perlindungan ikan sebelum menentukan titik lemparan.

Tips Memancing Saat Musim Kemarau

Tips Yang Dilakukan Alasannya
Pilih waktu pagi Memancing sejak matahari terbit hingga sekitar pukul 09.00 Suhu air belum terlalu tinggi dan ikan cenderung lebih aktif mencari makan
Coba sore hari Mulai sekitar pukul 16.00 hingga menjelang petang Suhu mulai turun sehingga aktivitas ikan biasanya kembali meningkat
Cari perairan yang lebih dalam Fokus pada lubuk, cekungan, atau bagian sungai yang lebih dalam Saat air menyusut dan suhu meningkat, ikan dapat berkumpul di area yang lebih sejuk
Perhatikan arus Cari pertemuan arus, bagian bawah jeram, atau aliran yang membawa makanan Arus dapat membawa serangga dan organisme kecil yang menjadi sumber makanan ikan
Manfaatkan area teduh Lempar umpan di bawah pohon, jembatan, atau struktur lain yang menaungi air Area teduh cenderung lebih nyaman bagi ikan ketika suhu meningkat
Sesuaikan umpan Gunakan umpan yang lazim menjadi makanan ikan target di lokasi tersebut Pola makan ikan dapat berubah mengikuti kondisi perairan dan ketersediaan pakan
Pantau tinggi muka air Perhatikan perubahan debit sebelum berangkat Kemarau dapat membuat sebagian sungai dan danau menyusut sehingga pola pergerakan ikan berubah
Jangan abaikan cuaca Periksa prakiraan cuaca sebelum memancing Panas ekstrem dan perubahan cuaca mendadak dapat memengaruhi kenyamanan serta keselamatan
Bawa air minum Pastikan tubuh tetap terhidrasi, terutama saat memancing di ruang terbuka Paparan panas dalam waktu lama meningkatkan risiko dehidrasi
Jaga habitat Jangan membuang sampah, merusak vegetasi, atau menangkap ikan berlebihan Kondisi perairan yang menyusut membuat ekosistem lebih rentan terhadap gangguan

Catatan: Waktu dan lokasi terbaik tetap bergantung pada jenis ikan, karakter perairan, serta kondisi setempat. Saat kemarau panjang, utamakan keselamatan dan hindari memancing di lokasi yang rawan kebakaran atau cuaca ekstrem.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
lubuk lokasi ikan sungai musim kemarau Memancing