Berenang Hilangkan Gerah Musim Kemarau, Risiko Paparan UV hingga Dehidrasi Mengintai

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 14:29 WIB
Ilustrasi berenang di kolam renang saat  panas terik musim kemarau.
Ilustrasi berenang di kolam renang saat panas terik musim kemarau.

 

PONTIANAK POST – Musim kemarau identik dengan cuaca panas dan aktivitas luar ruang yang terasa lebih menguras tenaga. Di tengah kondisi itu, berenang bisa menjadi pilihan aktivitas yang menyegarkan sekaligus membantu tubuh tetap aktif.

Namun, berada di dalam air bukan berarti terbebas dari risiko panas dan paparan sinar ultraviolet (UV). Air justru dapat membuat seseorang merasa lebih nyaman sehingga paparan matahari sering tidak disadari. WHO mengingatkan perlindungan terhadap sinar UV tetap diperlukan saat melakukan aktivitas air, termasuk berenang. 

Karena itu, berenang pada musim kemarau sebaiknya tidak sekadar mencari kesegaran. Persiapan sebelum masuk air, menjaga cairan tubuh, melindungi kulit, serta memahami kondisi tempat berenang menjadi bagian penting agar aktivitas tetap aman.

Tetap Gunakan Tabir Surya

Paparan matahari menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika berenang di kolam terbuka, pantai, sungai, maupun tempat wisata air.

WHO merekomendasikan penggunaan tabir surya berspektrum luas yang melindungi dari UVA dan UVB dengan SPF minimal 30. Tabir surya sebaiknya digunakan pada bagian kulit yang tidak tertutup pakaian dan dioleskan kembali secara berkala, terutama setelah berenang atau berkeringat. 

Perlindungan tidak cukup hanya dengan tabir surya. Mencari tempat teduh, mengenakan pakaian yang melindungi kulit, topi, dan kacamata hitam juga membantu mengurangi paparan UV. WHO menekankan perlindungan terhadap matahari tetap diperlukan ketika indeks UV mencapai 3 atau lebih. 

Jangan Tunggu Haus untuk Minum

Berada di air sering membuat orang lupa bahwa tubuh tetap kehilangan cairan. Apalagi jika berenang dilakukan dalam waktu lama di bawah terik matahari.

WHO menyarankan tubuh tetap terhidrasi dengan minum air secara teratur dan tidak menunggu sampai merasa haus. Saat cuaca panas, aktivitas fisik juga sebaiknya dilakukan pada waktu yang lebih sejuk dan diselingi waktu istirahat. 

Karena itu, bawa air minum ketika berenang. Setelah keluar dari air, jangan langsung kembali beraktivitas berat jika tubuh mulai terasa lelah, pusing, mual, atau lemas.

Gejala seperti pusing, mual, kebingungan, tubuh terasa sangat lemah, hingga kehilangan kesadaran dapat menjadi tanda kondisi akibat panas yang membutuhkan penanganan segera. 

Jangan Berenang Sendirian

Kesegaran air tidak boleh membuat kewaspadaan berkurang. Risiko tenggelam tetap ada, bahkan ketika seseorang merasa mampu berenang.

WHO secara khusus mengingatkan agar tidak berenang sendirian. Sementara itu, CDC menekankan pentingnya pengawasan dekat dan terus-menerus terhadap anak ketika berada di dalam atau sekitar air. 

Pilih tempat berenang yang memang diperuntukkan bagi aktivitas tersebut dan memiliki pengawasan. Untuk perairan terbuka, seperti sungai, danau, atau laut, risikonya lebih sulit diprediksi karena dapat dipengaruhi arus, kedalaman, perubahan cuaca, dan kondisi dasar perairan.

Jangan memaksakan diri berenang ketika tubuh kelelahan. Bagi anak-anak, pengawasan orang dewasa harus dilakukan dari jarak dekat dan tidak hanya mengandalkan pelampung atau alat bantu berenang. CDC mengingatkan alat bantu seperti ban lengan tidak dapat menggantikan pengawasan orang dewasa. 

Hindari Melompat di Perairan yang Tidak Dikenal

Salah satu kebiasaan yang berbahaya adalah langsung melompat ke air tanpa mengetahui kedalaman dan kondisi dasar perairan.

CDC menyarankan agar tidak menyelam ke perairan dangkal. Untuk aktivitas di perairan alami, perhatikan rambu, peringatan petugas, arus, serta kondisi air sebelum masuk. 

Bagi yang berenang di sungai atau danau, kondisi air yang tampak tenang dari permukaan tidak selalu berarti aman. Kedalaman, arus bawah, benda di dasar, maupun perubahan debit dapat menjadi risiko yang tidak terlihat.

Pilih Waktu yang Lebih Aman

Berenang tidak harus dilakukan ketika matahari sedang terik. Pagi atau sore dapat menjadi pilihan untuk mengurangi paparan panas langsung.

WHO menyarankan menghindari aktivitas fisik berat pada periode terpanas dan memilih waktu yang lebih sejuk jika aktivitas tersebut tetap harus dilakukan. 

Sebelum berangkat, periksa prakiraan cuaca dan kondisi tempat berenang. Jika muncul petir atau cuaca memburuk, segera keluar dari air dan mencari tempat aman.

Tips Berenang Saat Musim Kemarau

Yang perlu dilakukan Tips aman
Tabir surya Gunakan sunscreen broad spectrum, minimal SPF 30, dan aplikasikan kembali setelah berenang atau berkeringat. 
Hidrasi Bawa air minum dan minum secara teratur. Jangan menunggu sampai haus. 
Pilih waktu Utamakan pagi atau sore dan hindari aktivitas berat saat matahari paling terik. 
Perlindungan kulit Gunakan pakaian pelindung, topi, dan kacamata hitam jika memungkinkan. 
Jangan sendirian Berenang bersama orang lain dan awasi anak secara terus-menerus. 
Kenali lokasi Pilih kolam atau tempat berenang yang aman dan memiliki pengawasan.
Perairan terbuka Perhatikan arus, kedalaman, rambu, cuaca, dan peringatan petugas. 
Jangan memaksakan diri Segera berhenti jika merasa lelah, pusing, mual, atau tidak enak badan. 
Hindari menyelam sembarangan Jangan melompat atau menyelam ke air yang kedalaman dan kondisi dasarnya tidak diketahui. Pada akhirnya, berenang dapat menjadi cara sederhana untuk menikmati musim kemarau sekaligus tetap aktif. Tetapi kesegaran air tidak boleh membuat risiko panas, paparan UV, dehidrasi, dan tenggelam diabaikan.

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
tabir surya sinar uv tips dehidrasi berenang