Mengapa Sembahyang Rebut Digelar pada Bulan Ketujuh Imlek? Ini Sejarahnya

Silvina • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 09:59 WIB
Sembahyang Rebut menjadi tradisi masyarakat Tionghoa yang berkaitan dengan penghormatan kepada leluhur pada bulan ketujuh Imlek. (DOK ANTARA)
Sembahyang Rebut menjadi tradisi masyarakat Tionghoa yang berkaitan dengan penghormatan kepada leluhur pada bulan ketujuh Imlek. (DOK ANTARA)

 

PONTIANAK POST--Sembahyang Rebut dikenal sebagai tradisi masyarakat Tionghoa yang digelar pada tanggal 15 bulan ketujuh dalam penanggalan Imlek. Tradisi ini berkaitan dengan penghormatan kepada leluhur dan arwah.

Dalam tradisi Tionghoa, perayaan bulan ketujuh dikenal sebagai Zhongyuan. China Culture menjelaskan, Zhongyuan Festival berkaitan dengan kepercayaan masyarakat mengenai arwah yang kembali ke dunia manusia pada bulan ketujuh kalender lunar.

Pada masa tersebut, masyarakat memberikan persembahan berupa makanan dan melakukan ritual sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur maupun arwah.

Baca Juga: Polsek Sungai Pinyuh Amankan Ritual Sembahyang Rebut Umat Konghucu

Tradisi bulan ketujuh kemudian berkembang di berbagai wilayah Asia Tenggara seiring perpindahan masyarakat Tionghoa.

Dibawa ke Berbagai Daerah

Ketika komunitas Tionghoa terbentuk di berbagai wilayah Nusantara, tradisi leluhur ikut berkembang di lingkungan masyarakat setempat.

Baca Juga: Sejarah Wihara Tertua di Singkawang, Berawal dari Pondok Sederhana dan Tempat Singgah Penambang Emas Kelompok Hakka  

Di Bangka Belitung, misalnya, Universitas Bangka Belitung mencatat Sembahyang Rebut sebagai ritual yang dilaksanakan pada tanggal 15 bulan ketujuh Imlek.

Masyarakat menyiapkan makanan, minuman, buah-buahan dan berbagai benda persembahan. Ritual tersebut dilakukan untuk menghormati arwah yang dipercaya kembali ke dunia manusia. (ubb.ac.id)

Mengapa Disebut Sembahyang Rebut?

Baca Juga: Perjalanan Berat Leluhur Suku Hakka ke Kalbar, Berjalan Kaki Berhari-hari dan Mengarungi Laut Demi Harapan Baru

Nama Sembahyang Rebut berkaitan dengan salah satu bagian dari ritual, yakni perebutan sesaji setelah proses sembahyang selesai.

Dalam tradisi masyarakat Tionghoa Bangka, sesaji yang telah dipersembahkan kemudian diperebutkan masyarakat.

Universitas Bangka Belitung mencatat adanya kepercayaan bahwa orang yang berhasil memperoleh sesaji akan mendapatkan keberuntungan, sedangkan orang yang tidak mendapatkannya dipercaya dapat mengalami bala.

Baca Juga: Mengenal Cai Ci, Perempuan Buddha Hakka yang Tak Menikah demi Menjaga Tradisi Leluhur

Tradisi tersebut kemudian berkembang dengan bentuk yang berbeda-beda di berbagai daerah.

Di Kalimantan Barat, Sembahyang Rebut juga menjadi bagian dari tradisi masyarakat Tionghoa dan berkaitan dengan rangkaian Sembahyang Kubur.

ANTARA Kalimantan Barat mencatat tradisi tersebut telah dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat Tionghoa di wilayah Kalbar.

Baca Juga: Jejak Keramik Sakok Singkawang, Berawal dari Perantau Hakka hingga Pernah Menjadi Sentra Keramik Terbesar di Kalbar

Dengan demikian, Sembahyang Rebut tidak hanya dapat dipahami sebagai kegiatan berebut makanan atau sesaji.

Tradisi tersebut merupakan bagian dari rangkaian penghormatan kepada leluhur yang berakar pada tradisi bulan ketujuh dan kemudian berkembang sesuai dengan budaya masyarakat di tempat tradisi itu dijalankan.

 

Editor : Silvina
sejarah Sembahyang Rebut Zhongyuan bulan ketujuh Imlek tradisi Tionghoa leluhur