PONTIANAK POST – Koyote merupakan salah satu predator yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi. Hewan dengan nama ilmiah Canis latrans ini masih satu keluarga dengan anjing, serigala, dan rubah.
Sekilas, koyote dapat terlihat seperti anjing peliharaan karena memiliki moncong panjang, telinga tegak, serta ekor berbulu. Namun, tubuhnya lebih ramping dengan karakteristik khas berupa ujung ekor berwarna hitam dan mata berwarna kuning.
Urban Coyote Research Project mencatat, koyote dewasa umumnya memiliki berat sekitar 25-35 pon atau sekitar 11-16 kilogram. Sebagian individu berukuran lebih besar dapat mencapai sekitar 19 kilogram. Warna bulunya bervariasi dari abu-abu kecokelatan hingga abu-abu keperakan atau bahkan hitam.
Baca Juga: Kisah Tony Satu Dekade Pelihara 100 Kalajengking Patahkan Mitos Hewan Berbahaya
Kemampuan beradaptasi membuat koyote dapat ditemukan di berbagai habitat. Meskipun secara alami menyukai area terbuka seperti padang rumput dan gurun, hewan ini juga mampu bertahan di lingkungan perkotaan.
Bisa Beradaptasi dengan Lingkungan Perkotaan
Kehadiran koyote di kawasan perkotaan menjadi perhatian para peneliti karena hewan tersebut ternyata mampu memanfaatkan habitat yang tersisa di tengah perkembangan kota.
Penelitian Urban Coyote Research menemukan bahwa di lingkungan perkotaan, koyote cenderung memilih area berhutan, semak belukar, taman, serta lapangan golf sebagai tempat berlindung dan mencari sumber makanan.
Sebaliknya, koyote secara umum cenderung menghindari kawasan permukiman, komersial, dan industri. Namun, fragmen habitat yang tersisa di antara kawasan tersebut tetap dapat dimanfaatkan.
Baca Juga: Jika Anda Tidur Bersama Hewan Peliharaan, Ini 7 Sifat Unik Menurut Psikologi
Penelitian jangka panjang di wilayah Chicago juga menunjukkan bahwa koyote perkotaan cenderung mengubah pola aktivitasnya. Mereka lebih banyak aktif pada malam hari ketika aktivitas manusia lebih rendah.
Pola tersebut diduga menjadi salah satu bentuk adaptasi untuk mengurangi kontak dengan manusia sekaligus tetap memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan perkotaan.
Bukan Hanya Pemakan Sampah
Ada anggapan bahwa koyote yang hidup di kota sebagian besar mengandalkan sampah atau memangsa hewan peliharaan. Namun, penelitian menunjukkan gambaran yang lebih kompleks.
Baca Juga: 6 Tanda Ada Tikus di Kebun, Kenali Sebelum Tanaman dan Hasil Panen Rusak
Koyote merupakan predator oportunistis yang dapat menyesuaikan makanan berdasarkan ketersediaan mangsa dan sumber makanan di lingkungannya.
Dalam penelitian terhadap 1.429 sampel kotoran koyote, makanan yang paling sering ditemukan adalah hewan pengerat kecil sebesar 42 persen, buah 23 persen, rusa 22 persen, dan kelinci 18 persen.
Persentase tersebut tidak berjumlah 100 persen karena satu sampel kotoran dapat mengandung lebih dari satu jenis makanan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian besar koyote di wilayah studi tidak bergantung pada sampah atau hewan peliharaan sebagai makanan utama.
Kemampuan tersebut membuat koyote memiliki pola makan yang fleksibel. Mereka dapat berburu mangsa kecil, menjadi pemakan bangkai, hingga mengonsumsi buah dan tumbuhan tertentu.
Sebagai predator tingkat atas, keberadaan koyote juga dapat membantu mengendalikan populasi sejumlah hewan seperti pengerat, rusa, dan angsa Kanada di kawasan tertentu.
Baca Juga: Mengenal Ikan Genghis Khan, Predator Air Tawar yang Dijuluki Hiu Air Tawar
Memiliki Ikatan Pasangan yang Kuat
Kehidupan sosial koyote juga menarik untuk diamati. Hewan ini dapat hidup dalam kelompok keluarga, tetapi tidak selalu bepergian secara berkelompok.
Menurut Urban Coyote Research, kelompok koyote biasanya terdiri atas pasangan dominan dan beberapa individu lainnya. Analisis genetik menunjukkan bahwa sebagian besar anggota kelompok memiliki hubungan kekerabatan yang dekat, kecuali pasangan dominan.
Koyote juga dikenal memiliki ikatan pasangan yang kuat. Musim kawin umumnya berlangsung pada Februari. Setelah masa kehamilan sekitar 62-65 hari, induk betina mulai mencari atau membuat sarang untuk melahirkan anak.
Sarang dapat berupa lubang yang dibuat sendiri maupun tempat yang sudah tersedia, seperti rongga batang pohon, celah bebatuan, atau bekas liang hewan lain.
Anak Koyote Tinggal di Sarang Sekitar Enam Minggu
Dalam satu kelahiran, koyote biasanya memiliki sekitar empat hingga tujuh anak. Namun, jumlahnya dapat lebih sedikit atau lebih banyak.
Penelitian Urban Coyote Research mencatat pernah menemukan satu sarang berisi 11 anak koyote.
Jumlah anak dapat dipengaruhi oleh ketersediaan makanan dan kepadatan populasi. Anak koyote biasanya berada di dalam sarang selama sekitar enam minggu sebelum mulai melakukan perjalanan pendek bersama induknya.
Menjelang akhir musim panas, anak-anak tersebut mulai menghabiskan lebih banyak waktu di luar sarang dan belajar berburu sendiri atau bersama saudara mereka.
Bisa Hidup Berkelompok, tetapi Sering Berburu Sendiri
Salah satu hal yang membuat koyote menarik adalah perbedaan antara kehidupan sosial dan perilaku sehari-harinya.
Meskipun dapat hidup dalam kelompok keluarga dan mempertahankan wilayah bersama, koyote umumnya bepergian dan berburu sendirian atau berpasangan secara longgar.
Karakter tersebut membuat orang yang melihat koyote sendirian terkadang mengira hewan tersebut tidak hidup dalam kelompok. Padahal, individu tersebut dapat saja merupakan anggota kelompok yang sedang mencari makan atau menjalankan aktivitas lainnya.
Penelitian di Cook County juga menemukan bahwa sekitar sepertiga hingga setengah koyote yang diteliti setiap tahun merupakan individu soliter. Banyak di antaranya merupakan koyote muda berusia sekitar enam bulan hingga dua tahun yang meninggalkan kelompok untuk mencari wilayah baru.
Ancaman Terbesar Justru Kendaraan
Kemampuan beradaptasi tidak membuat koyote terbebas dari ancaman. Di lingkungan perkotaan, kendaraan menjadi salah satu penyebab utama kematian.
Data Urban Coyote Research terhadap koyote yang dipasangi kalung radio menunjukkan bahwa tabrakan kendaraan menyumbang sekitar 40-70 persen kematian koyote perkotaan setiap tahun dalam periode penelitian.
Hal tersebut berkaitan dengan luas wilayah jelajah koyote dan banyaknya jalan yang harus mereka lintasi ketika mencari makanan maupun berpindah wilayah.
Di alam liar, sebagian besar koyote juga tidak mencapai usia maksimalnya. Dalam penangkaran, koyote dapat hidup sekitar 13-15 tahun. Namun, di alam liar sebagian besar mati sebelum mencapai usia tiga tahun.
Ancaman lainnya mencakup kekurangan makanan, penyakit seperti kudis atau mange, serta aktivitas manusia tertentu.
Predator yang Memiliki Peran Penting
Koyote mungkin sering dipandang sebagai hewan yang mengganggu karena kemampuannya hidup dekat manusia. Namun, penelitian menunjukkan bahwa keberadaan mereka juga memiliki fungsi ekologis.
Sebagai predator, koyote membantu mengendalikan sejumlah populasi hewan mangsa. Penelitian jangka panjang juga menunjukkan bahwa sebagian besar koyote tetap berusaha menghindari manusia meskipun hidup di kawasan metropolitan.
Karena itu, pemahaman mengenai perilaku koyote menjadi salah satu kunci untuk menciptakan hubungan yang lebih aman antara manusia dan satwa liar.
Koyote menunjukkan bahwa perkembangan kota tidak selalu membuat satwa liar menghilang. Sebagian spesies justru mampu beradaptasi dengan memanfaatkan ruang hijau yang tersisa dan mengubah pola aktivitasnya agar dapat hidup berdampingan dengan manusia. (*)
Editor : Rafael B. Junior