Viral Imbauan Jangan Tampung Air Hujan Usai Karhutla, Begini Penjelasan Pakar hingga BMKG

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 00:23 WIB
Ilustrasi hujan.
Ilustrasi hujan.

 

PONTIANAK POST – Imbauan agar masyarakat tidak menggunakan air hujan pertama setelah karhutla dan kabut asap saat kemarau panjang beredar luas melalui media sosial dan grup WhatsApp. Pesan tersebut melarang pemanfaatannya untuk minum, memasak, mandi, dan kebutuhan lainnya karena dikaitkan dengan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Dosen Program Studi Kimia Fakultas MIPA Universitas Tanjungpura (Untan), Nurlina, menjelaskan air hujan pertama memang tidak disarankan langsung menjadi sumber air minum. Namun, risiko utamanya bukan berasal dari bahan penyemaian awan, melainkan polutan udara serta kotoran yang menumpuk di atap, talang, pipa, dan penampungan.

Bahaya air tersebut juga tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan warna atau baunya. Kandungan dan konsentrasi kontaminan perlu diperiksa sebelum air dinyatakan aman atau berbahaya.

“Apakah ada kandungan yang harus diwaspadai sehingga kemudian kita bisa memutuskan bahaya atau tidak,” kata Nurlina.

Hujan Mencuci Polutan

Kalimantan Barat telah mengalami kemarau panjang yang disertai kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kebakaran gambut menghasilkan asap karena material organik membara perlahan pada temperatur relatif rendah dan dalam kondisi oksigen terbatas.

Karakter pembakarannya menyerupai arang yang tetap membara meskipun nyala api sudah tidak terlihat. Pembakaran tidak sempurna tersebut menghasilkan campuran partikel dan gas yang membentuk kabut asap.

Salah satu partikelnya adalah PM2.5 yang berdiameter tidak lebih dari 2,5 mikrometer. Ukurannya sekitar 20–30 kali lebih kecil dibandingkan diameter rambut manusia.

Partikel, debu, dan produk pembakaran dapat terakumulasi di atmosfer selama tidak turun hujan. Ketika hujan datang, tetesan air menangkap sebagian polutan tersebut dan membawanya turun ke permukaan.

“Setelah hujan, udara dapat menjadi lebih bersih. Namun, material yang sebelumnya berada di udara ada yang dipindahkan melalui proses deposisi ke air hujan dan permukaan bumi,” jelas Nurlina.

Mengenal Metode First Flush

Risiko pencemaran bertambah ketika air mengalir melalui atap yang tidak terkena hujan selama berminggu-minggu. Debu, abu, daun, serangga, mikroorganisme, serta kotoran burung atau hewan dapat menumpuk di permukaannya.

Aliran awal air hujan kemudian mencuci dan membawa kotoran tersebut menuju talang serta tempat penampungan. Dalam ilmu lingkungan, fenomena ini dikenal sebagai first flush.

“Karena itu, hujan pertama yang ditampung bisa berwarna kehitaman dan berbau asap,” ujarnya.

Kontaminannya dapat berupa debu, jelaga, partikel tersuspensi, ion anorganik, senyawa organik hasil pembakaran, dan mikroorganisme. Jenis serta kadarnya bergantung pada sumber pencemaran, kondisi udara, dan kebersihan sistem penampungan.

Pedoman WHO merekomendasikan penggunaan pengalih aliran awal atau first-flush diverter. Alat tersebut mencegah air yang pertama mencuci atap masuk ke tangki.

Volume air yang perlu dibuang tidak dapat disamaratakan karena dipengaruhi luas atap dan tingkat pencemaran. Penampungan baru dilakukan setelah aliran awal dibuang serta warna dan bau air membaik.

Larangan Total Tidak Tepat

Menurut penjelasan ilmiah tersebut, imbauan untuk berhati-hati terhadap hujan pertama memiliki dasar. Namun, larangan menggunakan seluruh air hujan selama musim kemarau secara mutlak tidak sepenuhnya tepat.

Air hujan berikutnya masih dapat dimanfaatkan setelah aliran awal dibuang dan sistem penampungan dibersihkan. Penggunaannya harus dibedakan antara kebutuhan nonkonsumsi dengan minum atau memasak.

Air yang akan diminum atau digunakan memasak tidak cukup hanya diendapkan dan disaring secara sederhana. Pengolahan harus disesuaikan dengan jenis kontaminan, sedangkan keamanannya idealnya dipastikan melalui pemeriksaan kualitas air.

Merebus air dapat membunuh banyak mikroorganisme, tetapi tidak otomatis menghilangkan logam maupun senyawa kimia terlarut. Menurut CDC, air hujan yang dipakai untuk minum, memasak, atau mandi diuji secara berkala dari kandungan kuman dan bahan kimia.

Bukan Akibat Penyemaian Awan

BMKG Kalimantan Barat membantah informasi bahwa air hujan tercemar bahan kimia berbahaya akibat OMC. Operasi tersebut dilakukan dengan menyemai awan yang sudah tersedia dan memenuhi persyaratan.

Bahan yang umum digunakan adalah natrium klorida atau NaCl. Senyawa itu membantu menyediakan inti kondensasi agar uap air membentuk tetesan dan hujan turun lebih efektif.

BMKG menegaskan NaCl yang digunakan telah melalui kajian dan disebarkan dalam jumlah terkendali. Perbedaan dengan garam konsumsi terletak antara lain pada spesifikasi kemurnian dan ukuran partikelnya.

OMC juga tidak dapat menciptakan hujan dari langit cerah. Operasi hanya bisa dilakukan apabila terdapat awan yang memiliki potensi hujan.

“Bahan yang sangat umum digunakan adalah natrium klorida. Partikel garam membantu menyediakan inti tempat uap air berkondensasi dan tetesan air berkembang,” kata Nurlina.

Belum Tentu Hujan Asam

Nurlina juga meluruskan anggapan bahwa hujan setelah karhutla otomatis merupakan hujan asam. Air hujan secara alami memiliki sifat sedikit asam karena karbon dioksida bereaksi dengan air dan membentuk asam karbonat.

Hujan dikategorikan sebagai hujan asam ketika senyawa nitrogen dan sulfur menurunkan tingkat keasaman atau pH air hingga di bawah sekitar 5,6. Penentuannya memerlukan pengukuran, bukan sekadar berdasarkan bau maupun warna.

“Pembakaran gambut mungkin meningkatkan konsentrasi beberapa gas, tetapi tidak serta-merta menyebabkan hujan asam,” jelasnya.

Cara Aman Menampung Air

Masyarakat yang bergantung pada air hujan disarankan membuang aliran awal, membersihkan atap dan talang, serta memastikan tangki tertutup. Saluran masuk perlu diberi penyaring untuk menahan daun, serangga, dan material berukuran besar.

Air berwarna hitam, berbau asap, atau mengandung banyak endapan tidak boleh langsung digunakan untuk minum dan memasak. Pengendapan serta penyaringan dapat mengurangi partikel, tetapi belum menjamin air bebas dari kuman dan senyawa kimia.

“Pada intinya, kualitas air yang ditampung bukan hanya ditentukan oleh air yang turun dari langit. Kualitas udara, kebersihan atap, kondisi talang dan pipa, serta kebersihan tangki menentukan kualitas akhirnya,” tegas Nurlina.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
air hujan saat karhutla bahaya menampung air hujan OMC menggunakan garam kualitas air hujan Kalbar kabut asap