Karbon Organik Ditemukan di Mars, Bukti Kehidupan Makin Kuat tapi Ilmuwan Masih Geleng Kepala

Budi Miank • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 16:58 WIB
Rover Perseverance meneliti batuan di Mars yang menyimpan karbon organik kompleks dari lingkungan sungai purba di Jezero Crater.(Dok. Nasa) 
Rover Perseverance meneliti batuan di Mars yang menyimpan karbon organik kompleks dari lingkungan sungai purba di Jezero Crater.(Dok. Nasa) 

PONTIANAK POST - Robot penjelajah NASA, Perseverance, menemukan ratusan deteksi karbon organik kompleks pada dua batuan lumpur di kawasan Bright Angel, Jezero Crater, Mars. 

Batuan tersebut berada di jalur sungai purba yang dahulu membawa air menuju sebuah danau, sehingga temuan ini memperkuat dugaan bahwa Mars pernah memiliki lingkungan yang berpotensi mendukung kehidupan. 

Karbon yang ditemukan berupa macromolecular carbon (MMC), yakni jaringan besar atom karbon yang dapat terbentuk melalui proses biologis maupun nonbiologis. 

Baca Juga: Ini Akal Cerdas Mesir Kuno, Matahari Diperintah Masuk ke Kuil Abu Simbel

Penelitian yang diterbitkan dalam Science Advances menyebut temuan ini sebagai deteksi paling kuat terhadap karbon organik di Jezero hingga kini dan, berdasarkan pengetahuan peneliti, merupakan deteksi MMC pada permukaan batuan alami Mars yang pertama diketahui. 

Namun, ada satu rem penting sebelum kabar ini berubah menjadi judul “NASA menemukan kehidupan alien”. 

Para ilmuwan belum dapat memastikan apakah karbon tersebut berasal dari organisme purba, proses geologi, atau bahkan material yang dibawa meteor. 

Astrofisikawan Universitas Oxford, Chris Lintott, mengingatkan bahwa tanda-tanda yang tampak biologis di Mars tetap harus diuji terhadap kemungkinan lain. 

Baca Juga: Kayu 430.000 Tahun Ini Justru Bikin Sejarah Manusia Berubah Total

“Di Mars, kebalikannya benar,” kata Lintott, seperti dikutip dari Sky at Night Magazine.

Temuan itu berasal dari formasi Bright Angel di Neretva Vallis, sebuah lembah yang pada masa lalu dialiri sungai dan terhubung dengan sistem danau di Jezero Crater. 

Lingkungan seperti ini menjadi target penting dalam pencarian jejak kehidupan karena sedimen halus yang mengendap di air dapat membantu mengawetkan material organik dalam rekaman geologi. 

Perseverance mendeteksi karbon tersebut menggunakan SHERLOC, instrumen spektrometer Raman dan fluoresensi yang dipasang pada lengan robotik rover. 

Instrumen ini menggunakan laser ultraviolet untuk memeriksa komposisi mineral dan senyawa organik pada batuan tanpa harus mengambilnya dan membawanya langsung ke laboratorium di Bumi. 

Yang membuat peneliti semakin tertarik adalah pola penyebarannya. Sinyal MMC muncul ratusan kali pada dua batuan lumpur yang dianalisis, bukan hanya sebagai satu temuan terisolasi. 

Baca Juga: NASA Luncurkan Teleskop Roman untuk Memburu Misteri Energi Gelap dan Planet Asing

Pada salah satu batu, karbon tersebut berkaitan dengan mineral silikat, sedangkan pada batu lainnya ditemukan bersama mineral karbonat dan sulfat yang terbentuk kemudian akibat perubahan oleh air. 

Pola tersebut mengindikasikan bahwa karbon dapat masuk atau terbentuk dalam batuan pada setidaknya dua tahap sejarah geologis Mars. 

Artinya, jejak karbon itu bukan sekadar benda asing yang kebetulan menempel di permukaan batu, tetapi berkaitan dengan proses pembentukan dan perubahan batuan dalam lingkungan yang pernah dipengaruhi air. 

Di sinilah misterinya menjadi lebih menarik. Di Bumi, karbon organik kompleks dapat berkaitan dengan aktivitas organisme, tetapi proses nonbiologis juga mampu menghasilkan senyawa serupa. 

Baca Juga: Empat Planet Retrograde Agustus 2026, Ini Dampaknya bagi 12 Zodiak Menurut Astrologi

Reaksi hidrotermal, proses geologi tertentu hingga material yang dibawa meteor merupakan sejumlah kemungkinan yang masih harus dipertimbangkan. 

Penemuan terbaru tersebut juga tidak berdiri sendiri. Pada 2024, Perseverance menemukan batu yang kemudian dijuluki Cheyava Falls dengan pola “bintik macan tutul”. 

Struktur berukuran milimeter itu menarik perhatian karena di Bumi pola serupa dapat terbentuk melalui reaksi kimia dan mineral yang berkaitan dengan aktivitas mikroba, meski mekanisme nonbiologis tetap memungkinkan. 

Karena itu, kombinasi antara “bintik” pada batu Cheyava Falls dan karbon organik kompleks di lingkungan yang sama membuat Bright Angel menjadi salah satu lokasi paling menarik dalam pencarian jejak kehidupan Mars. 

Namun, para peneliti tetap membedakan antara indikasi yang menarik dan bukti kehidupan.

Ashley E. Murphy dari Planetary Science Institute, salah satu pemimpin penelitian, mengatakan deteksi tersebut memberikan gambaran lebih kuat mengenai keberadaan karbon organik di Mars. 

Baca Juga: Pemkot Pontianak Terima Penghargaan One Planet City Challenge, Apresiasi Komitmen dalam Isu Iklim dan Pembangunan Berkelanjutan

Studi yang dipimpinnya bersama Kyle Uckert menggunakan data SHERLOC untuk memetakan distribusi karbon pada batuan dan memahami hubungan material tersebut dengan mineral di sekitarnya. 

Perseverance telah menyegel lebih dari dua lusin sampel untuk kemungkinan misi pengambilan pada masa depan. 

Analisis laboratorium di Bumi dapat menggunakan instrumen yang jauh lebih sensitif untuk menguji struktur kimia, isotop, hingga kemungkinan tanda biologis yang tidak mampu dipastikan rover secara langsung.(*)

Editor : Budi Miank
Karbon Organik mars Kehidupan nasa