PONTIANAK POST - Barbeku atau BBQ semakin mudah ditemui di Indonesia, baik sebagai kegiatan bersama keluarga, acara komunitas, maupun cara menikmati akhir pekan. Daging, seafood, jagung, dan sayuran biasanya menjadi perhatian utama saat menyiapkan BBQ.
Namun, ada satu hal yang sering terlupakan, yakni jenis arang yang digunakan.
Di balik asap dan aroma khas makanan yang dibakar, pilihan arang ternyata juga berkaitan dengan persoalan lingkungan dan kesehatan. Hal ini menjadi sorotan dalam laporan The Independent yang membahas sisi lain industri arang BBQ, mulai dari penggunaan kayu, deforestasi, rantai pasok yang sulit dilacak hingga potensi paparan senyawa berbahaya dari proses pembakaran.
Baca Juga: Punya Tanaman Hias di Dalam Rumah? Ini Cara Merawatnya agar Tumbuh Sehat dan Cantik
Indonesia Punya Alternatif dari Tempurung Kelapa
Persoalan tersebut menarik jika dikaitkan dengan kondisi Indonesia. Berbeda dengan Inggris yang banyak mengandalkan arang impor, Indonesia memiliki sumber bahan baku alternatif yang cukup melimpah, salah satunya tempurung kelapa.
Arang tempurung kelapa bahkan telah lama dikembangkan sebagai produk bernilai ekonomi dan digunakan sebagai bahan bakar BBQ di sejumlah negara. Data yang pernah dihimpun Kementerian Pertanian menunjukkan ekspor arang kelapa Indonesia mencapai 188.050 ton pada 2019 dengan nilai sekitar 145,09 juta dolar AS.
Penggunaan tempurung kelapa juga menarik dari sisi lingkungan karena memanfaatkan bagian kelapa yang sebelumnya dapat menjadi limbah.
Penelitian BRIN yang diterbitkan pada 2025 menunjukkan limbah biomassa seperti tempurung kelapa, tongkol jagung, dan cangkang kemiri dapat diolah menjadi briket arang. Penelitian lain yang terbit pada 2026 juga menguji briket berbahan tempurung kelapa dan campuran tempurung kelapa dengan tongkol jagung sebagai bahan bakar padat alternatif.
Baca Juga: Dikira Bungker Masa Lalu, Rongga Alami Itu Telah Diketahui Pemilik Lahan Sejak 1994
Artinya, bagi konsumen Indonesia, pilihan arang tidak harus selalu berasal dari kayu. Produk berbasis limbah pertanian seperti tempurung kelapa dapat menjadi salah satu pilihan yang menarik, selama proses produksinya dilakukan secara bertanggung jawab.
Bukan Berarti Semua Arang Kelapa Otomatis Ramah Lingkungan
Meski demikian, label seperti "arang kelapa" atau "briket ramah lingkungan" tidak seharusnya langsung membuat konsumen menganggap sebuah produk pasti berkelanjutan.
Yang juga perlu diperhatikan adalah bagaimana bahan bakunya diperoleh, proses produksinya, serta apakah produk tersebut menggunakan bahan tambahan tertentu.
Baca Juga: Karbon Organik Ditemukan di Mars, Bukti Kehidupan Makin Kuat tapi Ilmuwan Masih Geleng Kepala
Untuk arang berbahan kayu, persoalan asal-usul bahan baku menjadi lebih penting. Kayu yang berasal dari sumber tidak legal atau tidak dikelola secara lestari dapat berkontribusi terhadap tekanan terhadap hutan.
Indonesia sendiri memiliki Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK) yang mencakup rantai pasok hasil hutan dari hulu hingga hilir. Sistem tersebut antara lain ditujukan untuk memastikan legalitas serta mendorong perdagangan hasil hutan yang lebih bertanggung jawab.
Karena itu, konsumen sebaiknya tidak hanya melihat harga dan kemampuan arang menghasilkan panas, tetapi juga memperhatikan informasi mengenai bahan baku dan produsen.
Asap BBQ Juga Perlu Diperhatikan
Masalah BBQ bukan hanya tentang dari mana arang berasal. Cara memasak menggunakan panas tinggi dan asap juga perlu menjadi perhatian.
Pembakaran dengan suhu tinggi dapat menghasilkan senyawa tertentu yang berpotensi membahayakan kesehatan. Karena itu, penggunaan arang sebaiknya dilakukan di ruang terbuka atau area dengan ventilasi yang baik.
Kebiasaan memasak menggunakan bahan bakar padat juga bukan hal asing di Indonesia. Kayu bakar, batok kelapa, sekam padi, dan berbagai biomassa masih digunakan di sejumlah wilayah. Paparan asap hasil pembakaran menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan, terutama jika pembakaran dilakukan di ruang tertutup.
Untuk BBQ di rumah, makanan juga sebaiknya tidak diletakkan ketika api masih menyala besar. Tunggu hingga arang membara dan menghasilkan panas yang lebih stabil sesuai petunjuk penggunaan produk.
Jangan Terjebak Harga Murah
Persoalan lain yang disoroti dari industri arang adalah sulitnya konsumen mengetahui asal bahan baku hanya dengan melihat kemasan.
Kondisi serupa patut menjadi perhatian konsumen Indonesia. Produk yang murah memang terlihat menarik, tetapi harga bukan satu-satunya ukuran ketika memilih arang.
Jika tersedia, pilih produk yang mencantumkan bahan baku, produsen, petunjuk penggunaan, serta informasi sertifikasi atau standar yang relevan.
Untuk BBQ rumahan, arang atau briket dari tempurung kelapa yang diproduksi secara bertanggung jawab dapat menjadi salah satu pilihan. Selain memanfaatkan limbah, bahan tersebut telah dikembangkan sebagai produk bernilai tambah di Indonesia.
Jadi, Arang Mana yang Sebaiknya Dipilih?
Bagi masyarakat Indonesia yang gemar BBQ, pilihan paling bijak bukan sekadar mencari arang yang paling murah atau paling cepat panas.
Pertimbangkan asal bahan baku, proses produksi, informasi pada kemasan, serta cara penggunaannya.
Arang berbahan tempurung kelapa bisa menjadi alternatif menarik karena memanfaatkan limbah biomassa. Namun, klaim ramah lingkungan tetap perlu dilihat secara lebih menyeluruh, termasuk bagaimana produk tersebut dibuat dan dipasarkan.
Pada akhirnya, BBQ yang lebih bertanggung jawab bukan hanya soal memilih daging yang berkualitas. Arang yang digunakan juga ikut menentukan jejak lingkungan dari kegiatan tersebut.
Jadi, sebelum menyalakan panggangan akhir pekan ini, coba lihat kembali kantong arang yang digunakan. Bisa jadi, pilihan kecil tersebut memiliki dampak yang lebih besar daripada yang selama ini dibayangkan. (rbj)
Editor : Hanif