PONTIANAK POST – Setelah pemberontakan 1926–1927, PKI memasuki periode panjang aktivitas bawah tanah. Dalam tulisan D.N. Aidit, periode tersebut berlangsung hingga 1945.
Mengutip Marxists.org. setelah pemberontakan 1926, PKI dinyatakan dilarang pemerintah kolonial Belanda.
Menurut Aidit di laman Marxists.org, sebagian kader dan anggota PKI kemudian masuk ke organisasi nasionalis serta organisasi massa lainnya.
Baca Juga: Sejarah Lahirnya PKI, Berawal dari Gerakan Buruh dan ISDV pada 1920
Aktivitas tersebut berlangsung dalam situasi ketika PKI belum memiliki kepemimpinan sentral baru yang kuat.
Program Perjuangan di Bawah Tanah
Aidit menyebut sejak 1932 PKI yang bekerja di bawah tanah menjalankan program yang mencakup sejumlah tuntutan.
Baca Juga: PKI dan Gerakan Buruh 1920–1924, Dari Pemogokan hingga Perluasan Organisasi
Di antaranya kemerdekaan Indonesia, pembebasan tahanan politik, hak mogok dan demonstrasi, kesetaraan upah, dukungan negara bagi penganggur, serta persoalan tanah bagi petani.
Pada periode yang sama, kondisi ekonomi dunia dan kemiskinan juga memengaruhi perkembangan gerakan politik di Indonesia.
Gerakan Anti-Fasis
Baca Juga: PKI dan Pemberontakan 1926, Dari Persoalan Internal hingga Tekanan Belanda
Perubahan situasi internasional kemudian mendorong perhatian terhadap gerakan anti-fasis.
Aidit menyebut Musso kembali ke Indonesia pada 1935 untuk menyampaikan garis politik anti-fasis sekaligus menghimpun kembali kader PKI.
Selanjutnya, sejumlah organisasi seperti Gerindo dan Gapi berkembang sebagai bagian dari gerakan politik dan anti-fasis.
Jepang Menduduki Indonesia
Pada 1942, Jepang menduduki Indonesia setelah Belanda menyerah. Menurut Aidit, sejumlah kader penting PKI ditangkap Jepang. Namun, gerakan anti-Jepang kemudian berkembang di sejumlah daerah.
Dalam tulisannya disebut perlawanan di Singaparna, Indramayu, Semarang, serta pemberontakan tentara Peta di Blitar dan Kediri.