PONTIANAK POST — Generasi Z kerap dianggap boros karena lebih banyak membelanjakan uang untuk pengalaman, gaya hidup, dan konsumsi digital daripada membeli rumah. Namun, peneliti menilai perilaku tersebut tidak dapat dilepaskan dari mahalnya hunian, ketidakpastian pekerjaan, tekanan media sosial, serta perubahan cara generasi muda memandang masa depan.
Ketika rumah semakin sulit dijangkau dan pendapatan tidak selalu stabil, pengeluaran untuk hiburan, perjalanan, atau makanan memberi kepuasan yang bisa diperoleh saat ini. Kondisi itu turut menjelaskan mengapa Gen Z dianggap boros, meski keputusan finansial mereka sebenarnya dibentuk oleh ruang pilihan yang terbatas.
Mengapa Gen Z Dinilai Lebih Boros?
| Faktor | Pengaruh terhadap pilihan Gen Z |
|---|---|
| Harga rumah tinggi | Membuat kepemilikan hunian terasa semakin jauh |
| Pendapatan tidak pasti | Menyulitkan penyusunan rencana keuangan jangka panjang |
| Pekerjaan informal | Mengurangi kepastian gaji, tunjangan, dan perlindungan sosial |
| Media sosial | Memperkuat perbandingan gaya hidup dan dorongan konsumsi |
| E-commerce | Membuat transaksi semakin mudah, cepat, dan impulsif |
| Orientasi pengalaman | Menawarkan kepuasan yang lebih cepat daripada menabung untuk aset |
| Perubahan nilai | Mengubah pandangan mengenai pernikahan, keluarga, dan ukuran kesuksesan |
Faktor-faktor tersebut dibahas dalam buku Menjadi Pemuda di Zaman yang Tak Mudah: Kompleksitas, Kerentanan, dan Upaya Menemukan Arah. Buku itu didiseminasikan Pusat Riset Kependudukan Badan Riset dan Inovasi Nasional di Jakarta.
Rumah Terasa Semakin Jauh
Akademisi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Andina Dwifatma mengingatkan agar konsumsi generasi muda tidak semata-mata dipandang sebagai kegagalan mengendalikan diri.
Anggapan boros muncul ketika pemuda memilih konser, perjalanan, kuliner, maupun pengalaman lain daripada menabung untuk rumah. Padahal, harga hunian dan sulitnya memperoleh keamanan ekonomi membuat tujuan jangka panjang tersebut terasa sukar dicapai.
“Persoalan struktural perlu lebih kita atasi dibandingkan dengan terus menghajar individunya,” ujar Andina.
Pilihan menikmati pendapatan saat ini dapat muncul ketika penghematan dalam jumlah kecil dinilai tidak cukup untuk mengejar kenaikan harga rumah. Namun, kondisi struktural juga tidak menghilangkan pentingnya kemampuan mengelola keuangan.
Algoritma Mendorong Belanja
Periset PRK BRIN Sari Kistiana mengatakan, keterbukaan informasi memperluas pilihan sekaligus mengubah cara pemuda memandang hubungan, keluarga, dan masa depan.
“Dengan keterbukaan informasi ini ada pertukaran ide, nilai, dan gaya hidup,” katanya.
Algoritma media sosial terus menampilkan produk dan kehidupan yang dianggap ideal. Toko daring, promosi terbatas, fasilitas pembayaran digital, iklan, dan dukungan pemengaruh membuat proses melihat hingga membeli barang berlangsung dalam waktu singkat.
Perbandingan sosial juga memunculkan tekanan untuk mengikuti tren. Keinginan membeli tidak hanya dipicu kebutuhan, tetapi juga rasa takut tertinggal dari lingkungan pergaulan.
“Era digital membentuk pilihan generasi muda, bagaimana mereka mencintai, berbelanja, dan memaknai masa depan,” ujar Sari.
Memilih Pengalaman Bukan Selalu Boros
Pengeluaran untuk pengalaman sering dianggap tidak produktif karena tidak menghasilkan aset berwujud. Namun, bagi sebagian anak muda, perjalanan, hiburan, kursus, atau kegiatan komunitas dapat memberikan relasi sosial, keterampilan, dan kesehatan mental.
Masalah muncul ketika pengeluaran melebihi kemampuan, menggunakan utang konsumtif, atau mengorbankan kebutuhan dasar serta dana darurat. Karena itu, jenis belanja saja tidak cukup untuk menentukan seseorang boros.
Penilaian perlu mempertimbangkan pendapatan, tanggungan, tujuan keuangan, utang, dan manfaat yang diperoleh. Dua orang dengan pengeluaran sama dapat menghadapi kondisi ekonomi yang sangat berbeda.
Pekerjaan Tak Pasti Memengaruhi Rencana
Sebagian generasi muda bekerja di sektor informal, kontrak jangka pendek, maupun ekonomi digital. Pola tersebut memberi fleksibilitas, tetapi tidak selalu menyediakan penghasilan tetap, jaminan pensiun, asuransi, atau kepastian karier.
Ketidakpastian membuat keputusan jangka panjang, seperti membeli rumah dan menikah, menjadi lebih berisiko. Anak muda harus memperhitungkan kemampuan membayar cicilan ketika pendapatannya dapat berubah setiap bulan.
Karena itu, keputusan menunda kepemilikan rumah atau pernikahan tidak selalu menunjukkan keengganan berkomitmen. Pilihan tersebut dapat menjadi bentuk kehati-hatian menghadapi biaya hidup dan masa depan pekerjaan yang tidak pasti.
Pernikahan Bukan Lagi Ukuran Tunggal
Generasi muda juga mengalami perubahan cara pandang terhadap pernikahan. Jika dahulu menikah sering dianggap sebagai tanda kedewasaan dan keberhasilan, kini keputusan itu dipengaruhi lebih banyak pertimbangan.
Pemuda memikirkan pendidikan, karier, kestabilan pendapatan, biaya tempat tinggal, pembagian peran dalam rumah tangga, dan pengalaman melihat relasi yang tidak sehat.
Menunda pernikahan karena itu tidak tepat jika hanya dipandang sebagai ketakutan terhadap komitmen. Keputusan tersebut berkaitan dengan perubahan nilai serta kondisi sosial ekonomi.
Gen Z Bukan Kelompok Seragam
Andina mengingatkan bahwa generasi muda bukan kelompok homogen. Kelas sosial, gender, pendidikan, wilayah tempat tinggal, kondisi disabilitas, dan dukungan keluarga membuat pengalaman mereka berbeda.
Anak muda dari keluarga mapan memiliki ruang lebih luas untuk mengambil risiko, berganti pekerjaan, atau mengejar pengalaman. Sebaliknya, pemuda dari keluarga rentan mungkin harus menggunakan sebagian besar pendapatannya untuk membantu keluarga.
Karena itu, satu gambaran “Gen Z boros” tidak dapat mewakili seluruh anak muda Indonesia. Label tersebut dapat menutupi persoalan upah, pekerjaan, perumahan, dan ketimpangan akses.
Disabilitas Menghadapi Hambatan Berlapis
Periset PRK BRIN Mochammad Wahyu Ghani mengatakan, pekerjaan bagi pemuda penyandang disabilitas bukan sekadar sumber penghasilan. Pekerjaan juga menjadi jalan menuju kemandirian, aktualisasi diri, dan partisipasi sosial yang setara.
“Mereka ingin bisa mandiri, tidak menyusahkan keluarga, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial secara setara,” jelasnya.
Namun, mereka masih menghadapi diskriminasi, fasilitas tidak aksesibel, keterbatasan pendidikan, lemahnya pendataan, dan minimnya keterlibatan dalam pengambilan keputusan.
“Partisipasi itu bukan hadiah. Itu hak mereka,” tegas Ghani.
Jangan Hanya Menyalahkan Individu
Kepala PRK BRIN Ali Yansyah Abdurrahim menilai pilihan hidup pemuda dibentuk oleh persoalan yang saling berkaitan. Ketidakpastian pekerjaan, perubahan sosial budaya, teknologi digital, dan ketimpangan menentukan pilihan yang benar-benar dapat dijangkau.
Menurut dia, pendekatan kependudukan harus memberi perhatian kepada kelompok minoritas dan marginal. Pengalaman pemuda tidak dapat dinilai dengan satu ukuran kesuksesan.
“Perbedaan pengalaman antarkelompok perlu dipahami agar dampak perubahan ekonomi dan sosial terhadap pemuda tidak dipandang secara seragam,” kata Ali.
Dengan demikian, literasi keuangan tetap penting untuk mencegah utang konsumtif dan belanja berlebihan. Namun, menyebut Gen Z boros tanpa membahas upah, harga rumah, keamanan kerja, dan desain platform digital hanya menyederhanakan persoalan yang jauh lebih kompleks.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro