PONTIANAK POST – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi pangan untuk mengolah bahan pangan lokal Indonesia menjadi produk yang lebih praktis, bergizi, aman, dan memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Inovasi tersebut mencakup jelly stick berbahan temulawak dan kelor, pasta berbahan sagu yang diperkaya zat besi, serta bubuk kefir dan kacang hijau.
Berbagai hasil riset itu dipaparkan dalam forum “Wellness in Every Bite: The Future of Functional and Nutraceutical Foods” pada rangkaian BRIN Goes to Industry di Food Ingredients Asia 2026, JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (18/9).
Temulawak dan Kelor Diolah Menjadi Jelly Stick
Salah satu tantangan pemanfaatan bahan pangan lokal adalah mengolahnya menjadi produk yang mudah diterima konsumen.
Temulawak memiliki rasa pahit dan getir, sedangkan daun kelor memiliki aroma hijau seperti sayuran daun dan agak langu. Kondisi tersebut dapat menyulitkan penerimaan, terutama bagi anak-anak.
Baca Juga: BRIN Ungkap Cara Mengembangkan Tanaman Hias Bernilai Ekonomi
Peneliti Ahli Pertama Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional (PR BBOOT) BRIN, Sofa Farida, mengembangkan jelly stick berbahan temulawak dan kelor untuk menjawab tantangan tersebut.
Ekstrak kedua bahan tersebut diolah menjadi jelly stick yang praktis dan mudah dikonsumsi. Prototipe bernama Jelicious Kids itu dirancang sebagai pangan fungsional berbasis bahan alam lokal dan masih dikembangkan menuju produksi dalam skala lebih besar.
“Target akhirnya dari perjalanan riset ini adalah mengubah kekayaan lokal Indonesia menjadi formulasi inovatif, prototipe tervalidasi, skala industri, dan akhirnya produk komersial,” ujar Sofa.
Sagu Dikembangkan Menjadi Pasta Kaya Zat Besi
BRIN juga mengembangkan sagu menjadi produk pangan yang lebih dikenal luas. Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN, Alit Pangestu, mengembangkan pasta berbahan sagu yang diperkaya zat besi.
Sagu merupakan salah satu pangan pokok yang banyak dikonsumsi masyarakat di Indonesia Timur. Namun, penggunaannya dalam produk pangan yang dikenal secara luas masih terbatas.
Melalui riset tersebut, sagu dikembangkan menjadi produk seperti spageti dan makaroni. Produk itu dirancang dalam bentuk yang lebih beragam sekaligus memiliki nilai gizi lebih tinggi melalui pengayaan zat besi.
Teknologi produksinya dirancang agar dapat diterapkan pada skala usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dengan mesin berkapasitas sekitar 10–50 kilogram.
Riset tersebut masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut, termasuk pengujian keamanan dan efektivitas sebelum memasuki tahap komersial.
“Fokus riset saya saat ini adalah sagu karena potensinya cukup besar, tetapi untuk produk-produk komersial dan dikenal secara nasional masih dirasa kurang,” kata Alit.
Baca Juga: BRIN Kembangkan Teknologi Ubah Red Mud Bauksit Jadi Mineral Bernilai Tinggi
Kefir dan Kacang Hijau Diolah Menjadi Bubuk
Teknologi pengolahan pangan BRIN juga diterapkan pada produk berbasis fermentasi. Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN, Andi Febrisiantosa, mengembangkan formulasi kefir dan kacang hijau yang diubah dari bentuk cair menjadi bubuk.
Pengubahan menjadi bubuk bertujuan membuat produk lebih stabil, memiliki daya simpan lebih panjang, serta lebih mudah disimpan dan didistribusikan.
Produk tersebut dikembangkan dengan tetap mempertahankan kandungan mikroorganisme hidup dari kefir dan antioksidan dari kacang hijau. Hasil riset itu telah didaftarkan paten dan berpotensi digunakan dalam berbagai produk.
Pemanfaatannya antara lain untuk minuman, produk olahan susu, roti, makanan ringan, maupun pangan dengan tambahan zat gizi.
“Produk ini memiliki nilai tambah karena memiliki dua manfaat sekaligus, yaitu antioksidan dan mikroorganisme hidup,” ujar Andi.
Riset Pangan Lokal Masih Membutuhkan Pengembangan
Berbagai inovasi BRIN tersebut menunjukkan upaya meningkatkan nilai bahan pangan lokal melalui teknologi pengolahan. Temulawak dan kelor dikembangkan menjadi pangan fungsional berbentuk jelly, sagu menjadi pasta yang diperkaya zat besi, sedangkan kefir dan kacang hijau diolah menjadi bubuk.
Namun, prototipe bukan merupakan tahap akhir pengembangan produk. Inovasi tersebut masih membutuhkan pengujian, peningkatan skala produksi, serta penyesuaian dengan kebutuhan industri sebelum dapat memasuki tahap komersial.
Bagi BRIN, teknologi menjadi penghubung antara potensi bahan pangan lokal dan kebutuhan pangan masa kini. Pengolahan tersebut diharapkan membuat sumber daya lokal dapat hadir dalam bentuk, fungsi, dan penggunaan yang lebih beragam serta memiliki nilai tambah.*
Editor : Uray Ronald