PONTIANAK POST – Bencana tidak hanya mengancam rumah, infrastruktur, dan lingkungan, tetapi juga dapat menghilangkan pengetahuan serta ingatan kolektif yang tersimpan dalam manuskrip.
Karena itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pelindungan manuskrip dan tradisi lisan menjadi bagian dari strategi mitigasi bencana melalui dokumentasi, digitalisasi, dan pewarisan pengetahuan.
Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa dan Sastra (OR Arbastra) BRIN, Herry Yogaswara, mengatakan pelindungan warisan budaya perlu ditempatkan dalam perspektif kebencanaan yang lebih luas.
“Pelindungan manuskrip dan tradisi lisan perlu ditempatkan dalam perspektif kebencanaan yang lebih luas. Berbagai jenis bencana di Indonesia dapat berdampak langsung terhadap keberlangsungan warisan budaya dan pengetahuan yang hidup di tengah Masyarakat,” ujar Herry dalam webinar “Api, Aksara, dan Ingatan: Manuskrip serta Tradisi Sasak dalam Bencana”, di Jakarta, Kamis (17/9).
Kebakaran Desa Sade Jadi Pengingat
Herry mencontohkan kebakaran di Desa Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, yang turut mengakibatkan manuskrip terbakar.
Peristiwa tersebut menjadi momentum untuk memperkuat mitigasi sekaligus dokumentasi warisan budaya yang masih berada di tengah komunitas.
Menurut Herry, persoalan kebencanaan perlu dipahami melalui pendekatan mikro, meso, dan makro. Peristiwa yang terjadi di tingkat komunitas perlu dikaji dalam konteks lokal, kemudian dikaitkan dengan kondisi wilayah serta kebijakan dan dinamika kebencanaan yang lebih luas.
“Perspektif mikro, meso, makro ini penting untuk melihat bahwa suatu persoalan walaupun terjadi pada satu kampung, memiliki pertalian dengan aspek-aspek lainnya, termasuk kebijakan terkait sumber daya alam maupun pengelolaan kebencanaan,” jelas Herry.
Dokumentasi Sebelum Bencana
Herry mengatakan dokumentasi manuskrip yang masih tersimpan di berbagai komunitas perlu dilakukan segera, terutama terhadap naskah yang belum terdigitalisasi.
Dokumentasi sebelum bencana menjadi penting karena ketika manuskrip hilang, masyarakat dapat kehilangan sumber pengetahuan yang tidak mudah direkonstruksi hanya melalui ingatan kolektif.
Selain dokumentasi, Herry mendorong perubahan pendekatan penelitian dengan menempatkan masyarakat sebagai co-producer atau pihak yang turut memproduksi pengetahuan bersama periset.
Keterlibatan masyarakat perlu dibangun sejak awal melalui pendekatan engagement dan co-production, termasuk dengan memberikan pengakuan terhadap kontribusi komunitas dalam proses penelitian.
Bencana Dapat Menghilangkan Memori Kolektif
Kepala Pusat Riset Manuskrip, Literatur dan Tradisi Lisan (PR MLTL) BRIN, Sastri Sunarti, mengatakan bencana tidak hanya menimbulkan kerugian material.
Menurut dia, bencana juga dapat menghilangkan sejarah dan ingatan yang tersimpan dalam manuskrip. Hal tersebut menjadi perhatian setelah kebakaran di Desa Sade turut menghanguskan sejumlah manuskrip kuno.
“Kerugian akibat peristiwa tersebut bukan hanya persoalan material berupa rumah dan benda-benda yang terbakar, tetapi juga hilangnya sejarah dan ingatan yang tersimpan di dalam manuskrip,” ujar Sastri.
Gempa Lombok Mendorong Pengembangan Bale Data
Pengalaman kehilangan arsip juga disampaikan pendiri komunitas Pasir Putih Lombok, Muhammad Sibawaihi. Gempa Lombok 2018 menyebabkan sebagian arsip audiovisual dan arsip tertulis komunitas rusak atau hilang.
Pengalaman tersebut kemudian mendorong pengembangan Bale Data, sebuah platform untuk menata arsip sekaligus mendokumentasikan pengetahuan masyarakat Lombok Utara.
Sibawaihi menilai digitalisasi menjadi bagian penting dari pelestarian. Namun, penyelamatan pengetahuan tidak cukup hanya dengan menyimpan naskah dalam format digital.
Pengetahuan yang terkandung dalam manuskrip juga perlu diwariskan kepada generasi muda melalui pendidikan, seni, cerita rakyat, musik, dan berbagai praktik budaya.
“Digitalisasi penting, tetapi pengetahuan di dalam manuskrip juga harus tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” demikian pokok pengalaman yang disampaikan Sibawaihi.
Manuskrip Tidak Sekadar Arsip
Peneliti PR MLTL BRIN, Nining Nur Alaini, mengatakan Nusa Tenggara Barat memiliki khazanah manuskrip yang berasal dari masyarakat Sasak, Samawa, dan Mbojo.
Sebagian manuskrip tersimpan di museum. Sebagian lainnya masih berada di tengah masyarakat dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai living manuscript.
BRIN juga telah melakukan digitalisasi manuskrip NTB melalui skema Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM). Upaya tersebut mencakup manuskrip yang tersimpan di museum maupun naskah yang masih berada di tangan masyarakat.
Pelestarian Perlu Dilakukan Secara Terpadu
Menurut Nining, pelestarian manuskrip menghadapi sejumlah tantangan. Ancaman tersebut mencakup bencana, kerusakan fisik, status sakral sebagian naskah, serta semakin terbatasnya kemampuan generasi penerus dalam membaca dan memahami manuskrip.
Karena itu, pelestarian perlu dilakukan secara terpadu. Upayanya tidak hanya berupa penyelamatan fisik dan digitalisasi, tetapi juga perawatan, penguatan kapasitas masyarakat, serta pewarisan pengetahuan kepada generasi berikutnya.
Langkah tersebut diperlukan agar manuskrip tidak sekadar terselamatkan sebagai benda atau arsip digital. Manuskrip juga perlu tetap berfungsi sebagai sumber pengetahuan dan bagian dari kehidupan budaya masyarakat.*
Editor : Uray Ronald
Sumber : BRIN