Sebelum Jadi Jenderal, R. Suprapto Pernah Dipenjara Jepang hingga Ikuti Pelatihan Keibodan

Silvina • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 12:36 WIB
R. Suprapto menjalani perjalanan panjang sebelum menjadi perwira tinggi Angkatan Darat, termasuk melewati masa pendudukan Jepang. (DOK WIKIPEDIA)
R. Suprapto menjalani perjalanan panjang sebelum menjadi perwira tinggi Angkatan Darat, termasuk melewati masa pendudukan Jepang. (DOK WIKIPEDIA)

 

PONTIANAK POST – Sebelum dikenal sebagai salah satu perwira tinggi Angkatan Darat, Mayjen R. Suprapto melewati perjalanan yang tidak sederhana. Ia sempat menjalani pendidikan militer, ditahan Jepang, berhasil melarikan diri, hingga mengikuti sejumlah pelatihan yang diselenggarakan Jepang.

R. Suprapto lahir di Purwokerto, Jawa Tengah, 20 Juni 1920. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah atas, ia mengikuti pelatihan militer di Koninklijke Militaire Akademie di Bandung.

Pendidikan tersebut tidak sampai selesai setelah Jepang menguasai Indonesia. Suprapto kemudian ditahan dan dimasukkan ke penjara.

Baca Juga: Tujuh Tokoh yang Gugur dalam G30S PKI 1965, Nama Pahlawan Revolusi dalam Sejarah Indonesia

Berhasil Melarikan Diri dari Penjara

Masa pendudukan Jepang menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan R. Suprapto. Setelah berhasil melarikan diri dari penjara, ia tidak langsung bergabung dengan kelompok militer Indonesia.

Suprapto sempat mengikuti pelatihan keibodan, seinendan, dan syuisyintai yang diselenggarakan Jepang. Setelah itu, ia memilih bekerja di Kantor Pendidikan Masyarakat.

Baca Juga: Sebelum Gugur pada 1965, D.I. Pandjaitan Pernah Memimpin Perbekalan Perjuangan PDRI

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sebelum Indonesia merdeka.

Masuk TKR Setelah Indonesia Merdeka

Setelah Indonesia merdeka, R. Suprapto bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Ia kemudian terlibat langsung dalam pertempuran Ambarawa bersama Jenderal Sudirman melawan tentara Inggris.

Baca Juga: Bukan Sekadar Jenderal, MT Haryono Kuasai Tiga Bahasa dan Jadi Andalan Indonesia dalam Perundingan

Perjalanan kariernya berlanjut setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia. R. Suprapto ditugaskan sebagai Kepala Staf Tentara dan Teritorial (T&T) IV/Diponegoro di Semarang.

Setelah itu, ia pindah ke Jakarta dan bertugas sebagai staf Angkatan Darat serta Kementerian Pertahanan.

Dari Medan hingga Menjadi Mayjen

Baca Juga: Jenderal S. Parman Ternyata Adik Petinggi PKI, tetapi Berseberangan hingga Gugur di Lubang Buaya

Beberapa tahun kemudian, R. Suprapto diangkat sebagai Deputi atau Wakil Kepala Staf Angkatan Darat untuk Sumatera yang berkedudukan di Medan.

Ia kemudian kembali ke Jakarta dan menjadi salah satu perwira tinggi Angkatan Darat dengan pangkat Mayor Jenderal.

Perjalanan tersebut memperlihatkan perubahan besar dalam kehidupan R. Suprapto. Ia yang sempat terhenti pendidikannya dan mengalami penahanan pada masa pendudukan Jepang kemudian meniti karier hingga menduduki posisi tinggi di Angkatan Darat.

Baca Juga: Jenderal Ahmad Yani Tak Tamat AMS,  Pernah Belajar Strategi Militer di Amerika dan Inggris

Menurut Biografiku, perjalanan R. Suprapto kemudian berakhir pada peristiwa 1 Oktober 1965. Ia dijemput pasukan Cakrabirawa dengan dalih dipanggil menghadap Presiden Soekarno dan kemudian dibawa ke kawasan Lubang Buaya.

R. Suprapto tewas setelah mengalami penyiksaan dan eksekusi. Jasadnya ditemukan pada 4 Oktober 1965 dari sumur tua yang telah ditimbun dan kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Pemerintah Indonesia kemudian menganugerahkan gelar Pahlawan Revolusi kepada R. Suprapto.

Editor : Silvina
sejarah TNI pendudukan Jepang R. Suprapto Mayjen R. Suprapto pertempuran Ambarawa