BRIN Kembangkan Iradiasi dan Cold Plasma untuk Jaga Keamanan Pangan, Umur Simpan Jadi Lebih Panjang

Uray Ronald • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 12:42 WIB
Pemaparan teknologi pengawetan pangan dalam forum BRIN Goes to Industry di Food Ingredients Asia 2026, JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (18/9). (BRIN)
Pemaparan teknologi pengawetan pangan dalam forum BRIN Goes to Industry di Food Ingredients Asia 2026, JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (18/9). (BRIN)

 

PONTIANAK POST – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi iradiasi pangan dan cold plasma untuk membantu menjaga keamanan, mutu, serta memperpanjang umur simpan produk pangan.

Kedua teknologi tersebut dipaparkan dalam forum BRIN Goes to Industry pada ajang Food Ingredients Asia 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (18/9). Forum ini mempertemukan peneliti dan pelaku industri untuk membahas peluang penerapan teknologi pengawetan pangan.

Iradiasi untuk Keamanan dan Umur Simpan Pangan

Peneliti Ahli Pertama Pusat Riset Teknologi Proses Radiasi (PR TPR) BRIN, Indra Mustika Pratama, mengatakan iradiasi pangan dapat digunakan untuk mendukung keamanan sekaligus memperpanjang umur simpan produk.

Teknologi tersebut memanfaatkan energi radiasi secara terkontrol untuk membantu menurunkan kontaminasi mikroorganisme pada pangan. Pemanfaatannya disesuaikan dengan karakteristik produk dan tujuan pengolahan.

Iradiasi antara lain dapat membantu menunda pematangan buah dan sayuran, menghambat pertunasan, serta mengendalikan serangga karantina.

Karena setiap jenis pangan memiliki karakteristik berbeda, dosis iradiasi tidak dapat diseragamkan. Dosis perlu ditentukan berdasarkan tujuan pengolahan dan karakteristik produk.

Baca Juga: BRIN Olah Pangan Lokal Jadi Produk Bernilai Tambah, dari Jelly Temulawak hingga Pasta Sagu

Pangan Iradiasi Tidak Menjadi Radioaktif

Indra menegaskan pangan yang telah melalui proses iradiasi tidak menjadi radioaktif. Dalam proses tersebut, pangan menerima energi radiasi secara terkontrol tanpa bersentuhan langsung dengan sumber radiasi.

Meski demikian, teknologi iradiasi bukan pengganti praktik produksi pangan yang higienis. Good Manufacturing Practices (GMP) tetap menjadi dasar untuk memastikan pangan diproduksi secara higienis dan terkendali.

“Artinya dari pihak produksi, industri itu harus memastikan GMP-nya bagus, proses produksinya bagus, higienis bagus, baru kemudian teknologi radiasi ini bisa dilaksanakan dengan maksimal,” ujar Indra.

Menurutnya, iradiasi dapat menjadi salah satu bagian dari sistem pengamanan pangan dan dikombinasikan dengan metode lain, seperti pengemasan, pelapisan pangan, serta rantai dingin.

Pemilihan teknologi tetap perlu disesuaikan dengan karakteristik produk dan tujuan pengawetan.

Cold Plasma Dikembangkan untuk Beragam Aplikasi

Selain iradiasi, BRIN mengembangkan teknologi cold plasma untuk berbagai kebutuhan pengolahan pangan.

Kepala Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN, Satriyo Krido Wahono, mengatakan pemanfaatan plasma di bidang pangan masih relatif baru dan terus dikembangkan melalui riset.

Cold plasma berpotensi digunakan untuk mengurangi mikroorganisme, menonaktifkan enzim tertentu, membantu mengurangi residu pestisida, serta mendukung pengembangan dan sterilisasi kemasan pangan.

Baca Juga: BRIN Dorong Pelindungan Manuskrip sebagai Bagian dari Mitigasi Bencana

Salah satu riset yang sedang dilakukan adalah kombinasi cold plasma dengan rantai dingin pada produk makanan laut.

Hasil sementara menunjukkan perlakuan tersebut berpotensi memperpanjang umur simpan selama 2–4 hari dengan waktu perlakuan sekitar 5–10 menit.

Satriyo menegaskan riset tersebut masih berlangsung untuk melihat lebih jauh penerapan teknologi pada produk pangan.

Pengembangan lebih lanjut diperlukan, terutama untuk memastikan aspek keamanan serta memperluas pemanfaatannya di industri.

“Selain kita melakukan pengembangan proses menggunakan plasma untuk proses pangan ataupun preservasi pangan, kita juga tetap harus memperhatikan food safety-nya,” kata Satriyo.

BRIN juga mengembangkan berbagai reaktor plasma untuk mengeksplorasi lebih banyak pemanfaatannya.

Selain pengawetan, teknologi tersebut berpotensi digunakan dalam proses pengeringan bahan organik dan modifikasi karakteristik bahan pangan.

Industri Pertimbangkan Biaya hingga Kapasitas Produksi

Dari perspektif industri, keberhasilan teknologi pengawetan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis.

Widya Palupi Herminingsih dari Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) mengatakan industri juga perlu mempertimbangkan keterjangkauan biaya, ketersediaan teknologi, serta kesesuaiannya dengan kapasitas produksi.

Pertimbangan tersebut semakin penting untuk produk yang membutuhkan distribusi panjang atau ditujukan untuk pasar ekspor.

Teknologi yang digunakan harus mampu menjaga keamanan dan mutu produk sejak proses produksi hingga sampai kepada konsumen.

“Kita sebagai industri itu juga memikirkan, teknologinya bagus, tetapi kita juga mesti lihat apakah terjangkau buat kita, mampu memenuhi kebutuhan kapasitas produksi kita. Produksi bisa skala kecil atau besar. Kalau skala industri besar, affordable tidak, available tidak buat kita,” jelas Widya.

Baca Juga: BRIN Ungkap Cara Mengembangkan Tanaman Hias Bernilai Ekonomi

Teknologi Harus Siap Diterapkan Industri

Selain biaya dan kapasitas, aspek regulasi menjadi pertimbangan dalam penerapan teknologi baru.

Teknologi maupun produk yang dikembangkan perlu memenuhi persyaratan keamanan dan perizinan. Kesiapan proses produksi, distribusi, serta penerimaan konsumen juga perlu diperhitungkan.

Pengembangan teknologi pengawetan pangan menunjukkan bahwa keberhasilan inovasi tidak berhenti pada pembuktian teknologi di tingkat riset.

Teknologi perlu dikembangkan dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi penerapannya di industri agar manfaatnya dapat dirasakan hingga produk sampai kepada konsumen.

Iradiasi dan cold plasma menawarkan pendekatan untuk mendukung keamanan dan memperpanjang umur simpan pangan. Keduanya juga dapat dikombinasikan dengan teknologi lain sesuai karakteristik produk dan kebutuhan pengolahan.

Melalui BRIN Goes to Industry, dialog antara peneliti dan pelaku industri menjadi bagian dari upaya mengidentifikasi kebutuhan, tantangan, serta peluang penerapan hasil riset.

Pendekatan tersebut menempatkan pengembangan teknologi tidak hanya pada aspek teknis, tetapi juga kesiapan adopsi, efisiensi, regulasi, dan kebutuhan pasar.*

Editor : Uray Ronald
Sumber : BRIN
teknologi pangan BRIN teknologi pengawetan pangan iradiasi pangan cold plasma pangan umur simpan pangan