PONTIANAK POST – Pierre Andries Tendean atau lebih dikenal sebagai Pierre Tendean memiliki perjalanan militer yang dimulai sejak usia muda. Sebelum dikenal sebagai ajudan Jenderal A.H. Nasution, ia telah menjalani sejumlah penugasan, termasuk terlibat dalam operasi militer di Sumatera dan menjalankan tugas intelijen di Malaysia.
Pierre Tendean lahir pada 21 Januari 1939. Sejak kecil, ia bercita-cita menjadi tentara. Setelah menyelesaikan sekolah, ia kemudian bergabung dengan Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD).
Terlibat Operasi PRRI
Baca Juga: Pahlawan Revolusi Sutoyo Siswomiharjo Ternyata Pernah Bekerja sebagai Pegawai Pemerintahan
Masa pendidikan militer Pierre Tendean tidak hanya diisi dengan kegiatan belajar. Ia sempat terlibat dalam operasi militer untuk menumpas pemberontakan PRRI di Sumatera.
Pengalaman tersebut menjadi bagian awal dari perjalanan militernya sebelum kemudian menerima sejumlah penugasan setelah menyelesaikan pendidikan.
Pierre kemudian ditugaskan sebagai Komandan Peleton Batalyon Zeni Tempur 2 Kodam II/Bukit Barisan di Medan dengan pangkat Letnan Dua.
Baca Juga: Sebelum Gugur pada 1965, D.I. Pandjaitan Pernah Memimpin Perbekalan Perjuangan PDRI
Masuk Dinas Intelijen Angkatan Darat
Beberapa tahun kemudian, Pierre Tendean bergabung dengan Dinas Pusat Intelijen Angkatan Darat (DIPIAD).
Dari lingkungan intelijen tersebut, ia mendapat tugas di Malaysia ketika Indonesia dan Malaysia sedang berada dalam masa konfrontasi.
Baca Juga: Jenderal S. Parman Ternyata Adik Petinggi PKI, tetapi Berseberangan hingga Gugur di Lubang Buaya
Penugasan tersebut menjadi salah satu pengalaman penting dalam perjalanan Pierre Tendean sebelum kemudian naik pangkat menjadi Letnan Satu.
Menjadi Ajudan A.H. Nasution
Setelah naik pangkat, Pierre Tendean ditarik untuk menjadi ajudan Jenderal A.H. Nasution.
Baca Juga: Bukan Sekadar Jenderal, MT Haryono Kuasai Tiga Bahasa dan Jadi Andalan Indonesia dalam Perundingan
Posisi tersebut kemudian membuat namanya turut tercatat dalam peristiwa 1 Oktober 1965. Pada dini hari, pasukan Cakrabirawa datang dengan tujuan menculik A.H. Nasution yang menjadi target utama.
Namun, pasukan tersebut tidak dapat membedakan Pierre Tendean dengan A.H. Nasution. Karena waktu yang dianggap sudah mendesak, Pierre kemudian dibawa oleh pasukan tersebut.
A.H. Nasution sendiri berhasil melarikan diri dengan melompati pagar rumahnya, meskipun mengalami luka di kaki.
Baca Juga: Sebelum Jadi Jenderal, R. Suprapto Pernah Dipenjara Jepang hingga Ikuti Pelatihan Keibodan
Dianugerahi Gelar Pahlawan Revolusi
Pierre Tendean kemudian dibawa ke Lubang Buaya di wilayah Halim Perdanakusuma. Ia dieksekusi bersama sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat lainnya.
Jasad Pierre Tendean dimasukkan ke dalam sumur tua di Lubang Buaya dan baru ditemukan serta dievakuasi pada 4 Oktober 1965.
Baca Juga: Jenderal Ahmad Yani Tak Tamat AMS, Pernah Belajar Strategi Militer di Amerika dan Inggris
Ia kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Pemerintah Indonesia melalui Presiden Soekarno menganugerahkan gelar Pahlawan Revolusi kepada Pierre Tendean.
Pangkat Pierre Tendean juga dinaikkan satu tingkat menjadi Kapten
Editor : Silvina