PONTIANAK POST – Brigjen Katamso Darmokusumo mengalami akhir tragis pada 1 Oktober 1965. Ia diculik dari rumahnya di Yogyakarta oleh anak buahnya sendiri sebelum kemudian dibawa ke Markas Komando Yon L di wilayah Kentungan.
Penculikan tersebut terjadi pada sore hari 1 Oktober 1965. Menurut informasi yang dihimpun dari biografiku, Katamso kemudian dibawa ke lokasi eksekusi.
Diculik Anak Buah Sendiri
Baca Juga: Sebelum Jadi Ajudan A.H. Nasution, Pierre Tendean Pernah Ditugaskan sebagai Intelijen di Malaysia
Katamso diculik oleh anak buahnya sendiri dan dibawa menuju Markas Komando Yon L di wilayah Kentungan, Yogyakarta.
Peristiwa tersebut terjadi dalam rangkaian Gerakan 30 September yang pada 1 Oktober 1965 tidak hanya berlangsung di Jakarta, tetapi juga terjadi di Yogyakarta.
Di Yogyakarta, simpatisan PKI disebut dimotori Mayor Mulyono yang menjabat sebagai Kepala Seksi Korem 72/Pamungkas.
Baca Juga: Sebelum Gugur pada 1965, D.I. Pandjaitan Pernah Memimpin Perbekalan Perjuangan PDRI
Setelah dibawa ke Markas Komando Yon L, Katamso kemudian dibawa menuju lokasi pembantaian. Eksekusi terhadapnya dilakukan Sertu Alif Toyo menggunakan kunci mortir seberat 2 kilogram yang dihantamkan ke kepalanya.
Katamso sempat tersungkur dan masih hidup setelah hantaman pertama. Namun, ia kemudian gugur setelah kembali dihantam untuk kedua kalinya.
Jasad Baru Ditemukan 20 Hari Kemudian
Baca Juga: Bukan Sekadar Jenderal, MT Haryono Kuasai Tiga Bahasa dan Jadi Andalan Indonesia dalam Perundingan
Berbeda dengan sejumlah korban lainnya yang ditemukan beberapa hari setelah penculikan, jasad Brigjen Katamso baru ditemukan pada 21 Oktober 1965.
Penemuan tersebut dilakukan setelah pencarian besar-besaran. Jasad Katamso kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, Yogyakarta.
Pemerintah Indonesia kemudian memberikan penghargaan kepada Katamso sebagai Pahlawan Revolusi. Pangkatnya juga dinaikkan satu tingkat.
Baca Juga: Jenderal S. Parman Ternyata Adik Petinggi PKI, tetapi Berseberangan hingga Gugur di Lubang Buaya
Sebelumnya Berpengalaman dalam Sejumlah Operasi
Sebelum peristiwa penculikan tersebut, Katamso memiliki perjalanan panjang dalam dunia militer.
Katamso Darmokusumo lahir di Sragen, Jawa Tengah, pada 5 Februari 1923. Setelah menyelesaikan sekolah, ia mengikuti pelatihan tentara PETA.
Baca Juga: Pahlawan Revolusi Sutoyo Siswomiharjo Ternyata Pernah Bekerja sebagai Pegawai Pemerintahan
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945, Katamso bergabung dengan TKR. Ia juga terlibat dalam sejumlah pertempuran ketika Agresi Militer Belanda I dan II berlangsung.
Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia, Katamso ditugaskan menumpas pemberontakan Batalion 426 yang merupakan bagian dari pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah pimpinan Amir Fatah.
Katamso juga pernah menjadi Komandan Batalion A dalam Operasi 17 Agustus yang bertujuan menumpas pemberontakan PRRI/Permesta.
Baca Juga: Sebelum Jadi Jenderal, R. Suprapto Pernah Dipenjara Jepang hingga Ikuti Pelatihan Keibodan
Beberapa tahun kemudian, ia naik jabatan menjadi Komandan Korem 072 Kodam VII/Diponegoro. Ia juga diketahui sering memberikan pelatihan militer kepada mahasiswa untuk menghadapi kegiatan PKI di Solo dan Yogyakarta. Aktivitas inilah yang dalam informasi sumber disebut menjadi salah satu alasan Katamso kemudian menjadi target penculikan.
Editor : Silvina