Karel Satsuit Tubun: Terbangun dari Tidur, Lalu Gugur  Saat Melawan Penculik Jenderal Nasution

Silvina • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 10:57 WIB
Karel Sasuit Tubun yang ikut menjadi korban peristiwa G30 SPKI (DOK WIKIPEDIA)
Karel Sasuit Tubun yang ikut menjadi korban peristiwa G30 SPKI (DOK WIKIPEDIA)

 

PONTIANAK POST – Karel Satsuit Tubun dikenang sebagai salah satu tokoh yang gugur dalam pergolakan politik 1965. Namun, kisah menarik yang jarang diketahui adalah keberaniannya melawan pasukan penculik seorang diri ketika sedang bertugas mengawal rumah Wakil Perdana Menteri Dr. J. Leimena di Jakarta.

Karel Satsuit Tubun lahir di Maluku Tenggara pada 14 Oktober 1928. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia memilih mendaftarkan diri sebagai polisi dan mengikuti pendidikan kepolisian.

Memulai Karier dari Brimob Ambon

Baca Juga: Kisah Sayid Fahrul Baraqbah, Keturunan Arab dari Kalimantan yang Bergabung dengan PKI

Setelah menyelesaikan pendidikan, Karel Satsuit Tubun ditugaskan di Satuan Brimob Ambon dengan pangkat Agen Polisi Kelas Dua. Ia kemudian dipindahkan ke Jakarta dan mengalami kenaikan pangkat menjadi Agen Polisi Kelas Satu.

KS Tubun juga tercatat berpartisipasi dalam operasi militer Dwikora yang berkaitan dengan pembebasan Irian Barat dari tangan Belanda. Setelah operasi tersebut selesai, pangkatnya meningkat menjadi Brigadir Polisi.

Ia selanjutnya mendapat tugas mengawal kediaman Wakil Perdana Menteri Dr. J. Leimena di Jakarta. Tugas inilah yang kemudian menempatkannya dalam situasi genting pada 1965.

Baca Juga: Jejak Sayid Fahrul Baraqbah di Kalimantan Timur, dari Gerilyawan hingga Tokoh PKI

Terbangun dari Tidur dan Melakukan Perlawanan

Karel Satsuit Tubun gugur ketika pasukan Cakrabirawa berusaha menculik Panglima Angkatan Darat Jenderal A.H. Nasution. Saat itu, KS Tubun sedang tidur dan terbangun setelah mendengar suara gaduh.

Ia sempat mengira suara tersebut berasal dari temannya yang sedang membangunkannya. Namun, setelah menyadari bahwa suara itu berasal dari orang lain, KS Tubun segera berusaha mengambil senjata.

Baca Juga: Menjelang 1965, Sayid Fahrul Baraqbah Pimpin PKI dan Front Nasional di Kalimantan Timur

Karel Satsuit Tubun kemudian melakukan perlawanan terhadap pasukan tersebut. Perlawanan itu berlangsung dalam kondisi yang tidak seimbang, yakni satu orang menghadapi delapan anggota pasukan.

Gugur dan Dianugerahi Gelar Pahlawan

Dalam perlawanan tersebut, beberapa peluru menembus tubuh Karel Satsuit Tubun hingga menyebabkan dirinya tewas. Jasadnya kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Baca Juga: Jejak PKI Sebelum G30S 1965, Konfrontasi Malaysia Disebut Berkaitan dengan Rencana Negara Komunis

Menurut sumber Biografiku, pemerintah Indonesia melalui Presiden Soekarno memberikan gelar Pahlawan Revolusi kepada Karel Satsuit Tubun. Ia juga diakui sebagai Pahlawan Nasional.

Pangkatnya dinaikkan secara anumerta menjadi Ajun Inspektur Dua Polisi. Kisahnya menjadi bagian dari sejarah perjuangan kepolisian Indonesia, terutama karena keberaniannya menghadapi pasukan dalam situasi yang tidak seimbang.

 

Editor : Silvina
Pahlawan Revolusi sejarah 1965 Karel Satsuit Tubun Jenderal Nasution polisi pahlawan nasional