PONTIANAK POST – Sebelum namanya dikenang sebagai salah satu Pahlawan Revolusi, Letnan Satu Pierre Tendean adalah seorang pemuda yang pernah menyimpan harapan sederhana: menikah dengan perempuan yang dicintainya.
Perempuan itu bernama Rukmini binti Chaimin. Kisah cinta keduanya bermula ketika Pierre bertugas di Medan pada 1961. Sosoknya yang tampan dengan wajah yang disebut menyerupai orang Eropa membuatnya menarik perhatian banyak perempuan.
Namun, dari sekian banyak perempuan yang mengaguminya, hati Pierre justru tertambat kepada Rukmini.
Baca Juga: Sebelum Jadi Ajudan A.H. Nasution, Pierre Tendean Pernah Ditugaskan sebagai Intelijen di Malaysia
Cinta yang Bertahan Lewat Surat
Hubungan keduanya semakin serius setelah mereka berkenalan. Tetapi, jarak kemudian memisahkan. Pierre meninggalkan Sumatera Utara untuk menjalankan tugas dan kemudian dipindahkan ke Jakarta sebagai ajudan Jenderal A.H. Nasution.
Jarak tidak membuat hubungan mereka berakhir. Pierre dan Rukmini tetap berkomunikasi melalui surat-surat yang dikirim secara intensif.
Baca Juga: Tak Sekadar Foto, Potret Ade Irma dan Pierre Tendean di Museum AH Nasution Simpan Cerita
Kesempatan untuk kembali bertemu datang pada akhir Juli 1965. Saat itu, Pierre mendapat tugas mengawal Jenderal A.H. Nasution dan istrinya, Johanna Sunarti, ke Medan untuk melakukan inspeksi.
Di tengah tugas tersebut, Pierre menyempatkan diri menemui Rukmini dan kedua orang tuanya. Kali ini, ia datang bukan sekadar untuk melepas rindu. Pierre datang untuk melamar.
Lamaran itu diterima. Keduanya bahkan telah menyepakati tanggal pernikahan, yakni 21 November 1965, beberapa bulan setelah lamaran.
Baca Juga: Kisah Ade Irma Suryani di Museum AH Nasution, Dari Anak Ceria hingga Korban Peristiwa 1965
Nasihat yang Terdengar Sebelum Tragedi
Sebagai orang yang dekat dengan keluarga Nasution, Pierre juga menyampaikan rencana pernikahannya kepada Johanna Sunarti. Kepada Pierre, Johanna memberikan sebuah nasihat tentang cinta dan kehidupan rumah tangga.
“Jangan terlalu memuja calon istrimu. Jangan sekali-kali mempunyai anggapan bahwa cintamu terhadap calon istrimu tidak dapat dipisahkan oleh siapa pun.”
Nasihat tersebut kemudian terasa begitu membekas. Menurut buku Pierre Tendean karya Masykuri yang terbit pada 1983, nasihat itu disampaikan hanya dua hari sebelum tragedi berdarah G30S 1965.
Baca Juga: Menyusuri Kamar Ade Irma Suryani di Museum AH Nasution, Ada Seragam Tentara yang Tak Sempat Dipakai
Kisah yang disajikan Tirto.id itu kemudian memasuki babak yang jauh dari rencana Pierre dan Rukmini.
Hari Pernikahan yang Tak Pernah Tiba
Tragedi G30S 1965 merenggut kehidupan Pierre Tendean. Dalam peristiwa tersebut, ia menjadi salah satu korban setelah para penculik keliru mengira dirinya sebagai Jenderal A.H. Nasution.
Baca Juga: Jenderal S. Parman Ternyata Adik Petinggi PKI, tetapi Berseberangan hingga Gugur di Lubang Buaya
Pierre termasuk enam perwira tinggi TNI AD yang meninggal dalam tragedi tersebut. Jenazahnya bersama jenazah enam jenderal lainnya ditemukan dan kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, pada 5 Oktober 1965.
Tanggal 21 November 1965 yang semula disiapkan sebagai hari pernikahan akhirnya tidak pernah tiba bagi Pierre dan Rukmini.
Rencana membangun rumah tangga berhenti di tengah jalan. Lamaran yang telah diterima, surat-surat yang menjaga hubungan mereka dari kejauhan, dan tanggal pernikahan yang telah disepakati menjadi bagian dari kisah cinta Pierre Tendean yang berakhir sebelum sempat sampai ke pelaminan.
Baca Juga: Kisah Sayid Fahrul Baraqbah, Keturunan Arab dari Kalimantan yang Bergabung dengan PKI
Pemerintah kemudian menetapkan Pierre Tendean sebagai Pahlawan Revolusi dan secara anumerta menaikkan pangkatnya menjadi kapten.
Editor : Silvina