"Mas, Aku Titip Adikku”: Pesan Pierre Tendean yang Terus Diingat Sebelum Gugur di Lubang Buaya

Silvina • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 11:21 WIB
Pierre Tendean bersama keluarga
Pierre Tendean bersama keluarga (DOK PPDSM)

 

PONTIANAK POST – Tidak ada yang menyangka kepulangan Kapten Pierre Tendean ke Semarang pada awal Juli 1965 akan menjadi pertemuan terakhirnya dengan ayah dan ibunya.

Saat itu, Pierre tengah menjalankan tugas sebagai ajudan Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan Jenderal A.H. Nasution. Di tengah kesibukannya, ia menyempatkan diri pulang ke Semarang untuk menghadiri pernikahan adiknya, Rooswidiati Tendean, dengan Jusuf Razak.

Pesan Pierre untuk Adiknya

Baca Juga: Sebelum Jadi Ajudan A.H. Nasution, Pierre Tendean Pernah Ditugaskan sebagai Intelijen di Malaysia

Untuk menghadiri pernikahan tersebut, Pierre mengambil cuti selama beberapa hari. Sebagai kakak, ia tidak hanya hadir dalam momen bahagia sang adik, tetapi juga menitipkan Roos kepada suaminya.

Kepada Jusuf Razak, Pierre berpesan, “Mas, aku titip adikku, tolong jaga dia.” Pesan sederhana itu kemudian menjadi kalimat yang terus diingat Roos.

Setelah rangkaian pernikahan selesai, Pierre bersiap kembali ke Jakarta. Sebelum berangkat pada 5 Juli 1965, ia terlebih dahulu berpamitan kepada kedua orang tuanya.

Baca Juga: Tak Sekadar Foto, Potret Ade Irma dan Pierre Tendean di Museum AH Nasution Simpan Cerita

“Pierre, Lekas Pulang ke Rumah”

Perpisahan pagi itu berlangsung haru. Sang ibu, Ny. Tendean, menciumi kedua pipi Pierre dengan derai air mata.

“Pierre, lekas pulang ke rumah lagi ya, jika keadaan mengizinkan. Hati-hatilah anakku,” pesan sang ibu.

Baca Juga: Tak Hanya Rupawan, Ada Sisi Lain Pierre Tendean yang Jarang Diketahui

Sementara itu, ayahnya, A.L. Tendean, meletakkan tangan di bahu sang putra dan berpesan agar Pierre berhati-hati.

“Pierre hati-hatilah, semoga Tuhan melindungimu.”

Pesan tersebut menjadi bagian dari farewell yang penuh haru sebelum Pierre meninggalkan rumah orang tuanya untuk kembali ke Jakarta.

Baca Juga: Siapa Rukmini Chaimin, Perempuan yang Dicintai Pierre Tendean hingga Akhir Hayat ?

Lambaian Tangan yang Menjadi Kenangan

Dari dalam mobil yang membawanya menuju Jakarta, Pierre masih sempat melambaikan tangan kepada keluarganya.

Kepulangan untuk menghadiri pernikahan Roos ternyata menjadi kepulangan terakhir Pierre ke rumah orang tuanya di Semarang. Setelah itu, ia tidak pernah lagi bertemu ayah dan ibunya.

Baca Juga: Dari Surat Cinta Medan Hingga Tragedi 1965: Mengenang Asmara Tragis Pierre Tendean dan Rukmini

Kisah farewell terakhir Pierre Tendean dan keluarganya tersebut disarikan Pusat Persenjataan dan Sejarah Militer (PPDSM) dari buku Sang Patriot: Kisah Seorang Pahlawan Revolusi: Biografi Resmi Pierre Tendean karya Abie Besman, Iffani Saktya, Irma Rachmania Dewi, dan sejumlah penulis lainnya yang terbit pada 2019.

Pierre masih sempat bertemu kakaknya, Mitzi, ketika sang kakak datang ke Jakarta pada akhir Agustus 1965. Pierre bahkan mengantarnya ke Stasiun Gambir. Keduanya juga masih sempat berbicara melalui telepon pada September.

Namun, waktu bersama keluarga itu akhirnya terhenti. Farewell yang berlangsung pada 5 Juli 1965 di Semarang dikenang sebagai kepulangan terakhir Pierre Tendean ke rumah orang tuanya.

 

Editor : Silvina
Pahlawan Revolusi Pierre Tendean keluarga Pierre Tendean farewell Pierre Tendean Semarang 1965