Pes Pernah Tewaskan Ratusan Ribu Orang di Indonesia: BRIN Ingatkan Potensi Wabah Terulang

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 23:31 WIB
Ilustrasi tikus pembawa wabah pes atau sampar.
Ilustrasi tikus pembawa wabah pes atau sampar.

 

PONTIANAK POST - Wabah pes atau penyakit sampar pernah mengukir catatan kelam dalam sejarah kesehatan publik di Indonesia. Perkiraan maksimal korban jiwa akibat wabah ini, khususnya di Pulau Jawa, mencapai sekitar 190.000 hingga 240.000 orang sepanjang masa kolonial Hindia Belanda (sejak pertama kali menyebar secara luas pada 1910 hingga dekade 1940-an) (Sumber: Hull, T. H., "Plague in Java", 1987; Syamsuddin, M., "Sejarah Kesehatan Masyarakat Hindia Belanda").

Berdasarkan catatan resmi dinas kesehatan era kolonial (Burgerlijke Geneeskundige Dienst / BGD), rincian korban kumulatif terbesar di berbagai wilayah Jawa meliputi:

Mengapa Angka Kematian Sangat Tinggi?

Tingginya angka fatalitas masa itu disebabkan oleh karakteristik biologis kuman Yersinia pestis. Penularan pes pneumonik (pneumonic plague) terjadi secara langsung antarmanusia melalui percikan droplet pernapasan atau batuk dengan daya tular luar biasa cepat. Sementara itu, pes bubonik (bubonic plague) yang ditularkan lewat gigitan pinjal memiliki Case Fatality Rate (CFR) atau tingkat kematian mendekati 100% jika tidak segera diobati.

Pada era awal abad ke-20 tersebut, obat antibiotik modern seperti streptomycin atau tetracycline belum ditemukan, dan fasilitas isolasi yang layak bagi penduduk pribumi sangat terbatas. Lingkungan rumah bambu tradisional yang disukai tikus (Rattus tanezumi) sebagai sarang semakin mempercepat penularan di tengah pemukiman padat penduduk.

Ancaman Silent Period dan Potensi Kemunculan Kembali

Meski penyakit pes di Indonesia sudah tidak lagi dilaporkan menyerang manusia dalam beberapa dekade terakhir, potensi risikonya tetap memerlukan pengawasan ketat. Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan bahwa perubahan lingkungan, alih fungsi lahan, serta meningkatnya intensitas interaksi manusia dengan populasi tikus dapat membuka kembali peluang penularan di wilayah bekas endemis.

Bagi masyarakat yang bermukim di daerah riwayat endemis, pemantauan berkala diperlukan agar dinamika vektor dapat dikenali sebelum menimbulkan korban baru. Peneliti mendorong penerapan kerangka One Health melalui pemantauan terpadu antara kesehatan manusia, reservoir hewan (tikus), dan pinjal sebagai perantara (vector).

Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Ristiyanto, menjelaskan bahwa penyakit zoonosis infeksius dapat melewati rentang waktu yang sangat panjang tanpa terdeteksi di permukaan. Kondisi fenomena ini dikenal sebagai silent period (masa senyap).

“Ada istilah silent period, yaitu masa ketika suatu penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama, tetapi sebenarnya masih berpotensi muncul kembali,” kata Ristiyanto dalam keterangan resminya.

Keberadaan Tikus dan Vektor Perlu Dipantau

Menurut Ristiyanto, laju deforestasi, alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan, serta pertumbuhan permukiman penduduk secara masif telah mengubah tatanan ekologis habitat alami satwa liar. Perubahan tata ruang ini memicu pergeseran interaksi: populasi tikus liar dan tikus rumah makin bersinggungan erat dengan aktivitas domestik manusia.

“Kondisi ini meningkatkan peluang penularan penyakit zoonosis melalui gigitan pinjal (Xenopsylla cheopis) yang membawa bakteri Yersinia pestis,” jelasnya.

Periset BRIN, Muhammad Choirul Hidajat, turut menyoroti pengaruh fluktuasi perubahan iklim mikro terhadap dinamika populasi dan siklus hidup pinjal. Ia mengingatkan pentingnya menganalisis sekumpulan faktor risiko secara holistik.

“Kombinasi perubahan lingkungan, keberadaan vektor dan reservoir, serta meningkatnya interaksi dengan manusia menjadi faktor risiko utama yang perlu diwaspadai,” ujarnya.

Kendati demikian, tingginya populasi tikus dan pinjal di suatu daerah tidak secara otomatis membuktikan keberadaan aktif kuman pes. Kajian ilmiah terkemuka berjudul "Environmental Changes and Risk of Plague Epidemics in Indonesia" yang terbit dalam jurnal PLOS Neglected Tropical Diseases (30 Desember 2025) menegaskan bahwa dalam pengujian sampel berkelanjutan, kuman Yersinia pestis tidak ditemukan pada sampel manusia, tikus, maupun pinjal dalam kurun pemantauan satu dekade terakhir (Sumber: PLOS Neglected Tropical Diseases, 2025).

Berdasarkan data pemantauan dan surveilans penyakit zoonosis Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes), pemeriksaan rutin terus dilakukan di wilayah bekas fokus pes. Pada pengujian sampel komprehensif, tim teknis mengambil sampel darah (serologi) pada warga lokal, penangkapan tikus (trapping), serta penyisiran pinjal. Hasil pengujian laboratorium menggunakan metode PCR (Polymerase Chain Reaction) dan uji isolasi bakteri mengonfirmasi 0% positif atau negatif total terhadap keberadaan Yersinia pestis (Sumber: Laporan Surveilans Zoonosis Kemenkes RI).

Empat Wilayah Utama Fokus Pemantauan

Dalam riset BRIN, terdapat empat kabupaten yang ditetapkan sebagai kawasan pemantauan khusus (fokus pes), yakni:

  1. Kabupaten Pasuruan (Jawa Timur)

  2. Kabupaten Boyolali (Jawa Tengah)

  3. Kabupaten Sleman (DI Yogyakarta)

  4. Kabupaten Bandung (Jawa Barat)

Riwayat klinis dan ekologis masa lalu di empat wilayah lereng pegunungan tersebut menjadi alasan mendasar untuk mempertahankan pemantauan berkala, meskipun kasus klinis pada manusia sudah tidak ditemukan lagi.

Choirul merekomendasikan penguatan pemantauan terpadu, penataan sanitasi lingkungan rumah, serta perbaikan konstruksi hunian agar tidak menjadi sarang tikus. Pelaksanaannya membutuhkan keterlibatan aktif petugas puskemas dan kesadaran masyarakat lokal.

Di lapangan, petugas teknis pemantau pes di wilayah fokus (seperti di kawasan Boyolali dan Pasuruan) secara rutin melakukan penangkapan tikus (trapping) setiap tiga hingga enam bulan sekali. Petugas mengukur Fleaindex (indeks kerapatan pinjal) dan mengambil sampel organ serta darah.

Meskipun terkadang menghadapi kendala teknis berupa minimnya partisipasi warga dalam pemasangan perangkap di dalam rumah, koordinasi bersama juru pemantau batuk dan kader kesehatan desa tetap berjalan untuk memproses laporan cepat jika ditemukan kematian tikus secara mendadak (rat fall) (Sumber: Wawancara & SOP Petugas Pemantau Zoonosis Lapangan).

Kajian Environmental Changes and Risk of Plague Epidemics in Indonesia (PLOS Neglected Tropical Diseases, Desember 2025) menautkan pemodelan spasial dengan analisis perubahan tutupan lahan untuk memetakan potensi kerentanan kawasan, bukan sebagai penanda ditemukannya kasus infeksi baru (Sumber: PLOS Neglected Tropical Diseases).

Jejak Sampar dalam Sejarah Indonesia

Penyakit pes mengukir jejak sejarah yang panjang dan mendalam di Nusantara. Kajian dokumentasi historis mencatat bahwa kasus pes pertama kali terdeteksi dan terdokumentasi di pelabuhan Sumatera Utara pada tahun 1905, sebelum akhirnya merebak hebat saat masuk ke Pulau Jawa pada 1910 (Sumber: PLOS Neglected Tropical Diseases; BGD Archive).

Masuknya Yersinia pestis ke Jawa dikaitkan erat dengan lalu lintas perdagangan komoditas impor, tepatnya pengiriman pasokan beras dari Rangoon (Burma/Myanmar) yang diangkut menggunakan kapal kargo dan berlabuh di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Tikus kapal yang terinfeksi membawa pinjal pes melompat ke gudang-gudang beras, lalu terbawa melalui jalur kereta api ke pedalaman Jawa hingga memicu epidemi besar pada awal abad ke-20 (Sumber: PLOS Neglected Tropical Diseases).

Riwayat penderitaan masa lalu tersebut menjadi pengingat berharga bahwa perlindungan kesehatan warga membutuhkan pengawasan yang konsisten dan berkelanjutan. Catatan sejarah membuktikan bahwa masa senyap (silent period) sering kali mengecoh sebelum akhirnya diikuti oleh gelombang re-emergensi penyakit di kemudian hari (Sumber: PLOS Neglected Tropical Diseases).

Kenali Mode Penularan dan Pentingnya Pengobatan Dini

Berdasarkan panduan teknis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penyakit pes disebabkan oleh infeksi bakteri gram-negatif Yersinia pestis (Sumber: WHO Fact Sheets - Plague). Penularan ke manusia secara umum terjadi melalui:

  1. Gigitan pinjal (Xenopsylla cheopis) yang sebelumnya menggigit hewan pengerat (tikus) terinfeksi.

  2. Kontak langsung dengan cairan tubuh atau jaringan hewan yang terinfeksi.

  3. Inhalasi percikan droplet pernapasan dari penderita pes pneumonik (Sumber: WHO Fact Sheets - Plague).

Gejala awal pes bubonik ditandai dengan demam tinggi mendadak, menggigil, sakit kepala, serta pembengkakan kelenjar getah bening yang terasa sangat nyeri (bubo)—biasanya di area selangkangan, ketiak, atau leher. WHO mencatat, tingkat kematian (fatality rate) pes bubonik tanpa penanganan medis berkisar antara 30–60 persen. Sementara itu, varian pes pneumonik yang menyerang paru-paru hampir selalu berakibat fatal (100% kematian) jika pasien tidak mendapatkan penanganan antibiotik dalam 24 jam pertama sejak timbulnya gejala (Sumber: WHO Fact Sheets - Plague).

Kabar baiknya, di era medis modern saat ini, pemberian terapi antibiotik secara dini (seperti streptomycin, gentamicin, atau doxycycline) sangat efektif untuk membasmi bakteri dan menyelamatkan jiwa pasien. Warga yang mengalami gejala klinis mencurigakan setelah memiliki riwayat kontak dengan tikus mati atau perjalanan dari area fokus dianjurkan untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat (Sumber: WHO Fact Sheets - Plague).

Bagi para peneliti dan pemangku kebijakan kesehatan masyarakat, menjaga kedaulatan mitigasi berarti memastikan kegiatan pemantauan lingkungan dan kesiapan fasilitas medis tetap siaga meskipun penyakit sedang tidak tampak di permukaan.

“Pes di Indonesia saat ini mungkin sedang 'tertidur'. Namun tanpa kewaspadaan, pemantauan sistematis, dan pengelolaan lingkungan yang baik, penyakit ini selalu memiliki potensi untuk muncul kembali,” tutup Choirul. *

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
pes di Indonesia wabah sampar pinjal tikus surveilans pes perubahan lingkungan