Bukan Sekadar Film Sejarah, Jajang C. Noer Ungkap Tujuan Film G30S/PKI Dibuat

Silvina • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 12:56 WIB
Jajang C Nor saat menjelaskan tentang tujuan awal dibuatnya Film Pengkhianatan dan Penumpasan G 30 SPKI
Jajang C Nor saat menjelaskan tentang tujuan dibuatnya Film Pengkhianatan dan Penumpasan G 30 SPKI

 

PONTIANAK POST — Film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI tidak sejak awal dirancang sekadar sebagai tontonan sejarah. Film yang digarap Arifin C. Noer pada 1984 itu dibuat karena pemerintah saat itu menganggap kisah mengenai PKI penting diketahui generasi berikutnya.

Dalam video Roudhohchanel, Jajang C. Noer, istri Arifin C. Noer, menjelaskan bahwa pembuatan film didasarkan pada data resmi yang tersedia pada masa tersebut.

Menurut Jajang, pemerintah ketika itu ingin masyarakat mengetahui pandangan mengenai PKI dan berbagai peristiwa yang dikaitkan dengan organisasi tersebut. Karena itu, film menampilkan sejumlah peristiwa yang pada masa itu dianggap sebagai contoh tindakan PKI terhadap masyarakat.

Baca Juga: Dulu Wajib Ditonton, Film G30S/PKI Kini Tak Lagi Tayang di TVRI, Ini Alasannya

Mengandalkan Data yang Tersedia Saat Itu

Proses riset hingga pembuatan film berlangsung sekitar dua tahun. Arifin C. Noer mendapatkan bahan dan skenario awal dari tim yang dipimpin Nugroho Notosusanto, kemudian mengolahnya kembali menjadi skenario film.

Jajang mengatakan, akses terhadap informasi dari TNI yang ketika itu masih bernama ABRI lebih mudah dibandingkan informasi dari pihak PKI, keturunan maupun simpatisannya.

Baca Juga: Link Nonton Film G30S/PKI dan Sosok di Balik Layar, dari Sutradara hingga Penata Musik

Kondisi tersebut ikut memengaruhi bahan yang tersedia bagi tim produksi. Data yang dianggap resmi pada masa itu kemudian menjadi dasar penggarapan film.

Menurut Indonesia Film Centre, film tersebut diproduksi Perum Produksi Film Negara dengan anggaran sekitar Rp800 juta. Angka tersebut menjadikannya salah satu produksi film terbesar di Indonesia pada masanya. Film itu kemudian mencatat 699.282 penonton di Jakarta pada 1984)

Arifin Tidak Menampilkan Semua Data Secara Vulgar

Baca Juga: Menjelang 1965, Sayid Fahrul Baraqbah Pimpin PKI dan Front Nasional di Kalimantan Timur

Meski menerima data mengenai penyiksaan para jenderal, Arifin tidak menggambarkan seluruhnya secara eksplisit.

Jajang menuturkan, ada data yang menyebut terjadinya pencungkilan mata dan pemotongan alat kelamin. Namun, Arifin mempertanyakan apakah tindakan tersebut benar-benar terjadi karena dinilainya terlalu sadis jika dilakukan dalam konteks konflik ideologi.

Karena itu, beberapa bagian hanya digambarkan melalui darah dan situasi kekerasan tanpa menampilkan penyiksaan secara langsung.

Baca Juga: Jejak Rencana Negara Komunis PKI, Dokumen 1957 Ungkap Tiga Tahap Pemberontakan

Film Kemudian Memiliki Makna Berbeda

Persoalan muncul ketika film tersebut tidak hanya menjadi karya sinema, tetapi juga diputar berulang setiap menjelang 30 September pada masa Orde Baru.

Film mulai ditayangkan di televisi nasional sejak 1985 dan kemudian dikenal luas karena pemutaran rutinnya menjelang peringatan peristiwa 30 September dan Hari Kesaktian Pancasila.

Baca Juga: Jejak PKI Sebelum G30S 1965, Konfrontasi Malaysia Disebut Berkaitan dengan Rencana Negara Komunis

Jajang mengatakan Arifin tidak pernah menyangka film tersebut akan diputar setiap tahun, termasuk ditonton oleh pelajar. Menurutnya, sang sutradara semula membayangkan film itu akan menjadi semacam arsip nasional.

Dari sinilah film yang awalnya dibuat berdasarkan data resmi pada masanya kemudian berkembang menjadi bagian dari perdebatan panjang mengenai sejarah, politik, dan cara sebuah peristiwa masa lalu direpresentasikan melalui film.


Editor : Silvina
sejarah 1965 film G30S PKI Arifin C Noer Jajang C Noer film Orde Baru