Refleksi Hari Kesaktian Pancasila: Nilai-nilainya Tanpa Sadar Diuji Setiap Hari di Ruang Digital

Silvina • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 10:52 WIB
Kesaktian Pancasila, nilainya diuji setiap hari di ruang digital (DOK JAWA POS)
Kesaktian Pancasila, nilainya diuji setiap hari di ruang digital (DOK JAWA POS)

 

PONTIANAK POST--Menjelang Hari Kesaktian Pancasila, masyarakat biasanya kembali mengenang berbagai ujian besar terhadap bangsa di masa lalu. Namun, Pancasila juga menghadapi ujian dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui aktivitas masyarakat di media sosial.

Dosen IAIN Pontianak dan Founder & Master Trainer Mind Healing Technique of Indonesia, Ahmad Jais, menilai ruang digital menjadi salah satu tempat nilai-nilai Pancasila diuji.

Menurutnya, unggahan yang menghina keyakinan orang lain dapat menjadi ujian terhadap sila pertama. Perundungan di kolom komentar menyentuh nilai kemanusiaan, sedangkan video yang dipotong dan disebarkan untuk memecah belah dapat mengganggu persatuan.

Baca Juga: Misi Berdarah G30S/PKI: Konspirasi Rebut Kekuasaan hingga Tumbangkan Pancasila

Sementara itu, perdebatan yang tidak memberi ruang bagi pendapat orang lain menjadi tantangan terhadap nilai musyawarah. Penghakiman massal sebelum informasi dan bukti diperiksa juga dapat berlawanan dengan semangat keadilan.

Teladan Menghormati Sesama

Ahmad Jais mengutip pesan Ali bin Abi Thalib kepada Malik al-Asytar dalam Nahjul Balaghah bahwa manusia memiliki dua kemungkinan hubungan, yakni sebagai saudara dalam agama atau sesama dalam penciptaan.

Baca Juga: Film G30S/PKI dan Data yang Kemudian Dipersoalkan, Apa yang Berubah Setelah 2000?

"Prinsip tersebut sejalan dengan keteladanan Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam ketika berdiri menghormati jenazah seorang Yahudi yang lewat di hadapannya," tulis Ahmad Jaiz di blog pribadinya.  

Ketika para sahabat menyebut bahwa jenazah tersebut adalah orang Yahudi, Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam menjawab, “Bukankah ia juga jiwa?” Hadis tersebut diriwayatkan Bukhari dan Muslim.

Teladan itu menunjukkan bahwa penghormatan terhadap manusia tetap dapat dijaga meskipun terdapat perbedaan keyakinan.

Baca Juga: Arifin C. Noer Sempat Ingin Berhenti Garap Film G30S/PKI, Ada Apa?

Periksa Informasi Sebelum Membagikan

Dalam menghadapi derasnya informasi di media sosial, Alquran memberikan prinsip untuk tidak terburu-buru menerima dan menyebarkan berita.

Allah Subhanahuwata'ala berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 6:

Baca Juga: Bukan Sekadar Film Sejarah, Jajang C. Noer Ungkap Tujuan Film G30S/PKI Dibuat

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti...”

Pesan tersebut menjadi pengingat agar setiap informasi diperiksa terlebih dahulu sebelum diteruskan kepada orang lain.

Sikap berhati-hati juga terlihat dalam peristiwa fitnah terhadap Aisyah radhiyallahu 'anha. Ketika ditanya mengenai Aisyah, Zainab binti Jahsy radhiyallahu 'anha memilih tidak menyampaikan sesuatu yang tidak diketahuinya dan menegaskan bahwa ia hanya mengetahui kebaikan.

Baca Juga: Link Nonton Film G30S/PKI dan Sosok di Balik Layar, dari Sutradara hingga Penata Musik

Sikap tersebut menjadi pelajaran tentang pentingnya tidak ikut menyebarkan kabar yang belum diketahui kebenarannya.

Jari Menjadi Perpanjangan Lisan

Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam juga mengingatkan bahwa seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya. Hadis ini diriwayatkan Bukhari dan Muslim.

Baca Juga: Dulu Wajib Ditonton, Film G30S/PKI Kini Tak Lagi Tayang di TVRI, Ini Alasannya

Dalam konteks media sosial, pesan tersebut dapat diterapkan pada aktivitas mengetik, mengomentari, mengunggah, hingga membagikan konten.

Hoaks, ujaran kebencian, ghibah, fitnah, dan namimah atau penyebaran kabar untuk mengadu domba dapat menyebar dengan cepat melalui media digital.

Karena itu, menjaga persatuan tidak cukup hanya dengan mengingat Pancasila dalam upacara atau peringatan nasional. Nilai tersebut juga perlu diwujudkan melalui kebiasaan sederhana di ruang digital, seperti memeriksa informasi sebelum membagikannya, menahan diri sebelum membalas komentar, serta tidak mudah menghakimi orang lain.

Baca Juga: Jenderal S. Parman Ternyata Adik Petinggi PKI, tetapi Berseberangan hingga Gugur di Lubang Buaya

Allah Subhanahuwata'ala berfirman dalam QS. Al-Isra ayat 53 agar manusia mengatakan perkataan yang lebih baik karena setan dapat menimbulkan perselisihan di antara manusia.

Momentum Hari Kesaktian Pancasila pun dapat menjadi pengingat bahwa menjaga persatuan bukan hanya tanggung jawab dalam ruang nyata. Setiap jari yang mengetik dan setiap konten yang dibagikan juga dapat ikut menentukan apakah ruang digital menjadi tempat merawat persaudaraan atau justru memperlebar perpecahan.

 

Editor : Silvina
media sosial hari kesaktian pancasila persatuan pancasila etika digital