PONTIANAK POST — Ada satu strategi sederhana sebelum terbang ke Pontianak: jangan penuhi koper dari rumah. Bawa pakaian secukupnya dan sisakan ruang. Sebab, perjalanan pulang dari Kota Khatulistiwa bisa berubah menjadi urusan mencari cara menutup koper yang sudah dijejali makanan, kopi, kain, kerajinan hingga bumbu dapur.
Pontianak punya lebih banyak pilihan daripada lempok durian.
Ada lidah buaya yang berubah menjadi cokelat dan teh. Keladi menjadi stik. Kopi membawa pulang sedikit suasana warung kopi. Corak Insang dapat dilipat tipis di antara pakaian. Belum lagi amplang, sotong pangkong, bingke, srikaya hingga berbagai produk dari kabupaten lain di Kalimantan Barat yang mudah ditemukan di pusat oleh-oleh Pontianak.
Jadi, kalau benar-benar datang membawa koper kosong, apa saja yang bisa dimasukkan?
1. Olahan Lidah Buaya, Ikonnya Pontianak
Mulailah dari barang yang identitas Pontianaknya paling kuat: lidah buaya.
Budidayanya berkembang di Pontianak Utara sejak dekade 1980-an. Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Pontianak mencatat pengembangannya kemudian semakin serius pada 1990-an hingga akhirnya lidah buaya menjadi salah satu ikon kota.
Yang membuatnya menarik untuk belanja adalah variasi produk turunannya.
Lidah buaya tidak hanya dijual sebagai minuman. Daging pelepahnya diolah menjadi dodol, jelly, kerupuk, teh, cokelat, manisan, biskuit, selai, stik, jus hingga nata de aloe vera.
Pemkot Pontianak bahkan pernah membawa cokelat, minuman, teh, nastar, kerupuk hingga keripik jamur tiram berbahan aloe vera dalam pameran produk unggulan.
Artinya, satu tanaman saja sudah dapat mengisi satu sudut koper.
Untuk perjalanan jauh, pilih teh, kerupuk, cokelat atau dodol. Minuman dan jelly memang menggoda, tetapi lebih berat dan berisiko bocor.
2. Stik Keladi
Ini salah satu camilan yang secara resmi dipromosikan Disporapar sebagai kuliner khas Pontianak.
Keladi atau talas diiris dan diolah menjadi stik renyah berbumbu. Kelebihannya sebagai oleh-oleh: ringan, tahan disimpan dan gampang dibagikan.
Kekurangannya cuma satu: mudah remuk.
Jangan membuat kesalahan klasik dengan menaruh lima bungkus stik keladi di dasar koper lalu menimpanya dengan kopi, botol dan lempok.
3. Lempok Durian
Bagi pencinta durian, inilah cara lebih bersahabat membawa pulang rasa durian Kalimantan daripada memasukkan buah utuh ke perjalanan.
Lempok mempunyai tekstur padat seperti dodol dengan rasa durian yang kuat.
Ukurannya relatif ringkas sehingga rasio antara ruang koper dan kenikmatan yang dibawa pulang cukup menguntungkan.
Lempok termasuk produk yang lazim ditemukan di sentra oleh-oleh Pontianak.
4. Amplang
Kalau koper masih terlalu ringan, masukkan beberapa bungkus amplang.
Camilan berbahan ikan ini renyah, gurih dan cocok menjadi oleh-oleh untuk dibagikan ke kantor.
Amplang juga mudah ditemukan di Pontianak meskipun merupakan bagian dari tradisi kuliner yang lebih luas di Kalimantan.
Simpan di lapisan atas. Satu koper penuh amplang yang tertindih barang berat dapat tiba di rumah dalam bentuk bubuk.
5. Kerupuk Ikan
Selain amplang, rak oleh-oleh Pontianak lazim dipenuhi berbagai kerupuk ikan.
Ada keuntungan praktis membeli produk ini: bobotnya ringan.
Kalau bagasi hampir menyentuh batas kilogram tetapi koper masih punya volume kosong, kerupuk menjadi kandidat bagus untuk mengisinya.
6. Ikan Asin
Untuk orang rumah yang lebih senang lauk daripada camilan, cari ikan asin Kalimantan.
Pusat oleh-oleh di Pontianak juga menawarkan ikan asin dan berbagai produk ikan kering.
Namun, jangan hanya memikirkan rasa.
Pikirkan juga penumpang lain yang kopernya bertetangga dengan koper Anda. Pilih produk vacuum pack atau kemasan tersegel rapat.
7. Sotong Pangkong
Sotong pangkong bukan hanya makanan, tetapi bagian dari suasana Pontianak, terutama pada Ramadan.
Sotong kering dipanggang kemudian dipukul atau ”dipangkong” hingga lebih pipih. Biasanya disantap dengan kuah atau sambal bercita rasa pedas-asam-manis.
Pemkot Pontianak memasukkan sotong pangkong sebagai kuliner khas ketika mempromosikan kota dalam pameran nasional.
Untuk dibawa pulang, cari sotong kering dalam kemasan rapat. Sausnya dipisahkan.
8. Kopi Pontianak
Setelah makanan, koper perlu diberi aroma Pontianak.
Kota ini memiliki budaya warung kopi yang begitu kuat. Kopi dan warungnya menjadi ruang bertemu, berbincang, berbisnis, bahkan membicarakan politik.
Kopi Aming merupakan salah satu nama yang telah berkembang menjadi ikon kuliner kota. Pemkot Pontianak juga membawanya sebagai produk representatif ketika mengikuti pameran di luar daerah.
Beli bubuk atau bijinya.
Begitu kembali ke rumah, setidaknya aroma Pontianak masih dapat muncul setiap pagi dari cangkir.
9. Selai Srikaya
Kalau membawa kopi, pasangannya bisa ikut dibawa.
Srikaya merupakan bagian dari pengalaman sarapan dan nongkrong di banyak kedai kopi Pontianak. Selai manis itu lazim dipasangkan dengan roti panggang atau roti kukus.
Cari kemasan yang tertutup rapat.
Sesampainya di rumah, panggang roti, oles srikaya, seduh kopi. Suasana Jalan Gajah Mada memang tidak ikut pulang, tetapi rasanya bisa sedikit direka ulang.
10. Kue Bingke
Bingke menawarkan karakter berbeda dari oleh-oleh kering.
Teksturnya lembut dengan rasa manis-gurih. Varian yang dijual kini tidak hanya versi klasik.
Tetapi bingke bukan kandidat untuk ditimbun seminggu di koper.
Belilah menjelang pulang, perhatikan masa simpan dan perlakukan sebagai makanan yang mudah rusak.
11. Lapis Legit
Pontianak juga memiliki tradisi kue lapis dan lapis legit yang kuat.
Produk ini menarik karena lebih padat dibanding kerupuk sehingga satu kotak dapat terasa ”berisi” ketika dijadikan buah tangan.
Namun, beratnya juga cepat menggerus jatah bagasi.
Jika targetnya memenuhi koper tanpa overweight, jangan terlalu bersemangat menumpuk kotak lapis.
12. Pia
Pia lokal juga bisa menjadi pilihan untuk oleh-oleh kering.
Kemasannya relatif mudah dibawa dan dapat dibagikan per kotak. Varian isi biasanya berkembang mengikuti produsen, dari kacang hingga rasa-rasa modern.
Dibanding bingke, pia lebih bersahabat untuk perjalanan panjang.
13. Sirup Sengkit
Ingin membawa sesuatu yang berbeda dari makanan padat? Cari sirup sengkit.
Produk bercita rasa jeruk ini kerap muncul dalam daftar oleh-oleh Pontianak.
Tetapi botol adalah musuh jatah bagasi.
Satu botol mungkin terasa ringan. Enam botol akan membuat Anda mulai menghitung ulang apakah celana cadangan benar-benar perlu dibawa pulang.
14. Choi Pan
Choi pan atau chai kwe terlalu identik dengan pengalaman kuliner Pontianak untuk dilewatkan.
Sayuran seperti bengkuang atau kucai berada di dalam kulit tipis, kemudian disantap bersama bawang putih dan sambal.
Masalahnya, ini bukan oleh-oleh kering.
Jika ingin membawa pulang, cari penjual yang memang menyediakan versi frozen dan tanyakan cara penyimpanan serta berapa lama produk aman berada di perjalanan.
Untuk penerbangan jauh, makanan kering tetap pilihan lebih aman.
15. Hekeng
Hekeng juga bisa masuk daftar untuk pencinta makanan gurih.
Olahan daging atau hasil laut yang dibungkus kulit tahu ini lebih cocok dibeli dalam versi beku untuk dimasak kembali di rumah.
Sama seperti choi pan, pertimbangkan rantai dingin. Jangan memperlakukan makanan beku seperti sekantong kerupuk.
16. Ebi
Kecil, ringan, tetapi aromanya mampu menguasai koper.
Ebi atau udang kering menjadi bahan dapur yang menarik dibawa dari Kalbar.
Gunakan kemasan tersegel atau vacuum pack. Barang seperti ini justru ideal untuk memenuhi ruang kecil yang tersisa di antara kotak-kotak makanan.
17. Terasi
Prinsipnya sama dengan ebi: ukuran kecil, karakter besar.
Terasi dari wilayah pesisir Kalbar dapat ditemukan di Pontianak dan menarik bagi orang yang gemar memasak.
Namun, kemasan menjadi harga mati.
Terasi bocor di koper bukan kenang-kenangan Pontianak yang ingin dibawa pulang.
18. Sambal Ebi dan Petis
Pusat oleh-oleh juga menawarkan produk siap pakai seperti sambal ebi dan petis.
Jenis oleh-oleh ini cocok untuk orang yang ingin membawa rasa lokal tanpa harus memahami cara mengolah bahan mentah.
Periksa segel, tanggal kedaluwarsa dan petunjuk penyimpanan.
19. Bumbu Bubur Pedas
Ingin membawa pulang Kalbar dalam bentuk yang lebih unik? Cari bumbu untuk membuat bubur pedas Sambas.
Bubur pedas merupakan kuliner Melayu Sambas dengan komposisi sayuran dan rempah yang kaya.
Bumbu kering atau racikan siap masak jauh lebih praktis dimasukkan ke koper daripada membawa buburnya.
Ini juga bisa menjadi oleh-oleh yang punya cerita: penerimanya bukan sekadar membuka bungkus dan makan, tetapi memasak kembali kuliner Kalbar di rumah.
20. Cincalok
Untuk petualang rasa, ada cincalok.
Fermentasi udang kecil ini dikenal dalam tradisi kuliner Melayu Kalimantan Barat. Cita rasanya asin, asam dan kuat.
Bukan oleh-oleh untuk semua orang, tetapi justru itu yang membuatnya menarik.
Syaratnya satu: kemasan harus benar-benar aman.
Kalau satu wadah cincalok bocor, semua pakaian dalam koper akan ikut ”berwisata kuliner”.
21. Pekasam
Masih dari dunia fermentasi, ada pekasam ikan.
Tradisi mengawetkan ikan dengan garam dan bahan lain dikenal di berbagai wilayah Kalimantan dan Sumatera.
Jika menemukan produk Kalbar yang dikemas secara baik dan memiliki label jelas, pekasam bisa menjadi buah tangan untuk pencinta kuliner tradisional.
Sekali lagi, prioritaskan kemasan pabrikan/UMKM yang tersegel daripada produk curah untuk perjalanan udara.
22. Manisan dan Dodol Lokal
Jangan berhenti pada dodol lidah buaya dan lempok.
Rak oleh-oleh Pontianak juga dapat menawarkan variasi dodol, manisan kelapa dan produk buah olahan lainnya.
Keuntungan kelompok ini adalah daya simpan yang relatif lebih baik dibanding kue basah.
Ukuran kecil juga membuatnya ideal untuk oleh-oleh massal.
23. Corak Insang
Sekarang tinggalkan makanan.
Corak Insang adalah salah satu benda yang paling layak masuk koper karena benar-benar membawa identitas Pontianak.
Pemkot terus mendorong pelestarian dan pengembangan kain khas tersebut. Motif kreasi bahkan memadukan Corak Insang dengan ikon Pontianak seperti Tugu Khatulistiwa, Masjid Jami, Istana Kadriyah, meriam karbit hingga lidah buaya.
Belilah kain, syal, pakaian atau produk turunannya.
Keuntungan terbesar untuk pelancong: bisa digulung tipis dan hampir tidak mengganggu kapasitas koper.
24. Tanjak Melayu
Kalau ingin benda budaya yang lebih dekoratif, cari tanjak Melayu.
Pemkot Pontianak juga memasukkan tanjak bersama Corak Insang, tas etnik dan aksesori ketika menampilkan produk kriya kota dalam pameran.
Tanjak bisa menjadi cenderamata yang jauh lebih personal daripada magnet kulkas.
25. Tas Etnik
Tas etnik buatan perajin lokal juga banyak dipromosikan sebagai produk ekonomi kreatif Pontianak.
Kalau membeli tas berukuran cukup besar, ada trik sederhana: jangan biarkan bagian dalamnya kosong.
Masukkan camilan, kaus atau aksesori ke dalam tas sebelum tas dimasukkan ke koper.
Oleh-oleh sekaligus menjadi packing organizer.
26. Aksesori Khas Kalbar
Gelang, kalung, dompet manik dan berbagai aksesori bernuansa Dayak atau Melayu merupakan pilihan bagus untuk buah tangan.
Kecil, ringan, tidak basi dan mudah dibagikan.
Untuk kerajinan tradisional, cari produk yang jelas pembuat dan asalnya. Dengan begitu, uang belanja sekaligus masuk ke rantai ekonomi perajin lokal.
27. Kerajinan Akar Keladi Air
Ini salah satu produk yang lebih tidak biasa.
Pemkot Pontianak pernah menampilkan kerajinan dari akar keladi air bersama produk unggulan kota dalam Indonesia City Expo.
Bagi pemburu oleh-oleh, barang seperti ini justru menarik karena tidak generik.
Tidak semua orang pulang dari Pontianak membawa kerajinan berbahan akar keladi.
28. Tenun Sambas
Pontianak juga menjadi etalase produk dari kabupaten-kabupaten lain di Kalimantan Barat.
Salah satu yang layak dicari adalah Tenun Sambas.
Bedakan dengan Corak Insang: keduanya mempunyai identitas dan tradisi berbeda. Corak Insang kuat sebagai identitas Pontianak, sedangkan Tenun Sambas berasal dari Kabupaten Sambas.
Kain menjadi oleh-oleh premium yang praktis dibawa karena tipis dan ringan.
29. Kerajinan Manik Dayak
Kalau ingin membawa pulang warna Kalimantan, produk manik Dayak bisa menjadi pilihan.
Tas, gelang, kalung hingga aksesori dekoratif menggunakan permainan warna dan motif yang khas.
Barang kecil dapat digunakan untuk memenuhi celah koper yang mustahil diisi kotak makanan.
30. Kaos Bertema Pontianak dan Kalbar
Tidak semua oleh-oleh harus tradisional.
Kaos dengan tema Tugu Khatulistiwa, Sungai Kapuas, budaya Dayak-Melayu atau tipografi Pontianak bisa menjadi pilihan yang lebih kasual.
Dan ada keuntungan logistik: kalau koper terlalu berat, kaosnya tinggal dipakai.
31. Miniatur Tugu Khatulistiwa
Untuk meja kerja, miniatur Tugu Khatulistiwa punya cerita yang mudah dikenali.
Tugu tersebut adalah ikon geografis Pontianak dan salah satu alasan kota ini dikenal sebagai Kota Khatulistiwa.
Pilih ukuran kecil dan bungkus dengan pakaian agar tidak patah.
32. Jeruk dari Kalbar
Jika sedang musim dan kondisi perjalanan memungkinkan, buah lokal juga menggoda.
Jeruk yang populer dengan sebutan jeruk Pontianak mempunyai sejarah panjang sebagai komoditas Kalimantan Barat, meskipun sentra produksinya berada di luar Kota Pontianak, terutama Sambas.
Jadi, ini lebih tepat disebut buah tangan Kalbar yang mudah dicari di Pontianak, bukan produk Kota Pontianak semata.
Untuk perjalanan udara, cek aturan maskapai dan tujuan sebelum membawa buah dalam jumlah besar.
33. Madu Hutan Kalimantan
Madu dapat menjadi pilihan jika menemukan produk dengan asal, produsen, izin dan label yang jelas.
Kalimantan mempunyai tradisi madu hutan yang kuat.
Namun, jangan membeli hanya karena labelnya bertuliskan ”madu Kalimantan”.
Perhatikan asal produk dan informasi produsennya. Untuk koper, perlakukan botol madu seperti membawa calon sumber bencana: segel, plastik berlapis, lalu lindungi dari benturan.
34. Minyak Tengkawang
Ini salah satu barang yang paling menarik jika ingin keluar dari zona makanan.
Tengkawang merupakan kelompok pohon khas Kalimantan yang bijinya menghasilkan lemak nabati. Produk turunannya dapat dijumpai dalam bentuk bahan kosmetik atau perawatan tubuh.
Jika menemukan produk UMKM Kalbar dengan label dan komposisi jelas, ukurannya biasanya ringkas untuk dibawa.
Namun, jangan menganggap semua produk bertuliskan ”tengkawang” otomatis berasal dari Pontianak. Identitasnya lebih tepat Kalimantan/Kalbar.
35. Produk Aloe Vera Nonmakanan
Lidah buaya Pontianak tidak harus selalu dimakan.
Produk UMKM dapat berkembang menjadi barang perawatan tubuh dan turunan lainnya.
Ini bisa menjadi alternatif untuk orang yang sudah terlalu banyak membawa makanan.
Sekali lagi, pilih produk berlabel jelas dan jangan memberikan klaim kesehatan di luar informasi resmi produsennya.
36. Sarang Burung Walet
Bahan Anda juga memasukkan sarang burung walet. Ini memang relevan sebagai komoditas Kalimantan Barat, tetapi kategorinya berbeda dari oleh-oleh murah.
Produk tersebut bernilai tinggi dan kualitasnya sangat bervariasi.
Jika berniat membeli, pilih pedagang terpercaya, pastikan informasi produk dan legalitasnya jelas, serta cek ketentuan jika akan dibawa melintasi negara.
Untuk artikel wisata, sarang walet lebih tepat ditempatkan sebagai belanja premium, bukan oleh-oleh wajib.
37. Kecap, Sambal, dan Bumbu Lokal
Ini kategori yang sering luput dari wisatawan.
Masuklah ke toko bahan makanan atau pusat oleh-oleh dan lihat rak bumbu. Kecap asin, sambal, minyak bawang, saus hingga racikan lokal dapat menjadi cara paling praktis membawa cita rasa dapur Pontianak.
Tetapi jangan buru-buru menyebut semua merek sebagai ”khas Pontianak” sebelum melihat produsennya.
Cari tulisan alamat produksi Kalbar pada label.
38. Mi dan Bahan Dapur Lokal
Bahan Anda juga memasukkan mi kering, tanghun, kembang tahu, kiam chai dan berbagai bahan masakan yang banyak digunakan dalam kuliner Tionghoa Pontianak.
Ini menarik untuk wisatawan yang datang bukan sekadar mencari suvenir, tetapi ingin memasak kembali pengalaman Pontianak di rumah.
Kategori ini lebih tepat disebut ”belanja dapur Pontianak” daripada oleh-oleh khas.
Dan justru di situlah keunikannya.
39. Gula Aren Kalbar
Gula aren atau gula merah dari berbagai daerah di Kalimantan Barat cocok menjadi oleh-oleh bagi pencinta kopi dan masakan rumahan.
Bentuknya padat, relatif tahan lama, dan tidak banyak memakan tempat. Aromanya yang khas membuatnya cocok untuk pemanis kopi, kolak, kue tradisional hingga aneka minuman.
Pilih produk UMKM dengan kemasan tertutup dan informasi produsen yang jelas. Seperti sejumlah barang lain dalam daftar, posisikan sebagai produk Kalbar yang bisa diburu di Pontianak, bukan semata-mata produk asli Kota Pontianak.
40. Kerupuk Basah Kemasan
Namanya memang ”kerupuk”, tetapi bentuknya sama sekali tidak seperti kerupuk kering. Kerupuk basah merupakan kuliner khas Kapuas Hulu, berbahan ikan dan tepung, dengan tekstur kenyal menyerupai pempek atau otak-otak.
Pontianak menjadi salah satu tempat yang memungkinkan wisatawan menemukan produk kuliner dari berbagai kabupaten Kalbar, termasuk olahan ikan semacam ini.
Untuk dibawa pulang, cari kerupuk basah dalam kemasan vakum atau beku dengan informasi produsen dan penyimpanan yang jelas. Jangan membeli terlalu awal karena produk ini berbeda kelas daya tahannya dengan amplang atau kerupuk ikan kering.
Jangan Hanya Cari Barang, Cari Ceritanya
Dengan daftar sepanjang itu, strategi belanja sebaiknya bukan sekadar ”apa yang enak”.
Bagi koper menjadi empat lapisan.
Lapisan pertama adalah Pontianak banget: lidah buaya, stik keladi, Corak Insang, kopi dan sotong pangkong.
Lapisan kedua adalah rasa Kalbar: lempok durian, amplang, produk ikan, bumbu bubur pedas, tenun Sambas, manik Dayak dan produk tengkawang.
Lapisan ketiga adalah isi dapur: ebi, terasi, sambal, srikaya, mi, bumbu dan makanan fermentasi.
Lapisan terakhir adalah barang yang bercerita: tanjak, miniatur Tugu Khatulistiwa, tas etnik dan kerajinan lokal.
Dengan cara itu, isi koper tidak berubah menjadi 20 bungkus camilan yang rasanya mirip.
Kalau Cuma Punya Satu Jam, ke Mana?
Pilihan paling praktis adalah Pusat Souvenir Pontianak (PSP) di Jalan Pattimura.
Disporapar Kota Pontianak menyebut kawasan tersebut sebagai pusat berbagai oleh-oleh khas, mulai kuliner, kerajinan tangan hingga produk lokal.
Pilihan lainnya adalah UMKM Center Dekranasda Kota Pontianak, yang menjadi tempat promosi produk ekonomi kreatif dan camilan UMKM kota.
Untuk memburu produk aloe vera, arahkan perjalanan ke Jalan Budi Utomo, Pontianak Utara. Di kawasan ini terdapat Aloe Vera Center dan produsen olahan lidah buaya.
Kalau mempunyai waktu lebih panjang, jangan hanya berbelanja di satu toko. Pasar, sentra UMKM dan toko bahan makanan justru dapat menghadirkan temuan yang tidak muncul di rak oleh-oleh wisata.
Rumus Mengisi Koper
Koper 20 kilogram tidak berarti Anda mempunyai jatah 20 kilogram untuk belanja. Kurangi dulu berat koper kosong dan pakaian. Kemudian gunakan prinsip sederhana: yang berat di bawah, yang padat di tengah, yang rapuh di atas, yang cair dibungkus berlapis.
Kopi, lempok dan produk padat berada dekat roda. Kain dapat menjadi bantalan. Botol berada di tengah dan dikelilingi pakaian. Kerupuk, amplang dan stik keladi naik ke lapisan paling atas.
Barang beraroma kuat harus tersegel. Makanan beku seperti choi pan atau hekeng membutuhkan perhatian terhadap suhu dan durasi perjalanan. Produk cair harus mengikuti ketentuan bagasi dan keamanan penerbangan.
Dan timbang koper sebelum berangkat ke Bandara Supadio. Sebab, setelah melihat semua pilihan tadi, persoalan wisatawan mungkin bukan lagi apa yang akan dibeli di Pontianak. **
Editor : Aristono Edi Kiswantoro