BRIN Kembangkan Kemenyan Jadi Bahan Parfum dan Aromaterapi Bernilai Tambah

Uray Ronald • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 17:07 WIB
Ilustrasi - Anggota lembaga pengelola hutan adat (LPHA) mengupas kulit pohon kemenyan di Hutan Adat Nenek Limo Hiang Tinggi Nenek Empat Betung Kuning Muara Air Dua, Kerinci, Jambi, beberapa waktu lalu. (ANTARA/Wahdi Septiawan)
Ilustrasi - Anggota lembaga pengelola hutan adat (LPHA) mengupas kulit pohon kemenyan di Hutan Adat Nenek Limo Hiang Tinggi Nenek Empat Betung Kuning Muara Air Dua, Kerinci, Jambi, beberapa waktu lalu. (ANTARA/Wahdi Septiawan)

 

PONTIANAK POST - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pemanfaatan kemenyan sebagai bahan baku produk parfum dan aromaterapi untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya hayati Indonesia.

Upaya tersebut dilakukan melalui Pelatihan Formulasi Parfum Aromaterapi Berbasis Kemenyan.

Kegiatan ini diselenggarakan Pusat Riset Botani Terapan, Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan (ORHL), bersama Direktorat Pengembangan Kompetensi, Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (SDMI) BRIN.

Pelatihan berlangsung secara hibrida di Gedung ICC, Kawasan Sains dan Teknologi Ir. Soekarno, Cibinong, pada 6 Oktober 2026.

Kegiatan ini bertujuan memperkuat kompetensi formulasi sekaligus membuka peluang pemanfaatan hasil riset bagi masyarakat, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta industri.

Kepala Pusat Riset Botani Terapan BRIN Muhammad Imam Surya mengatakan Indonesia memiliki beragam tanaman aromatik dengan karakteristik khas di setiap wilayah.

Potensi tersebut perlu dikembangkan melalui penguasaan teknologi dan formulasi agar bahan baku lokal dapat menghasilkan produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

“Potensi ini perlu kita manfaatkan dan kembangkan melalui penguasaan teknologi dan formulasi,” ujar Imam, Senin (12/10).

Baca Juga: BRIN Ubah Kemenyan Menjadi Bahan Parfum Premium, Hapus Kesan Mistis dan Supernatural

Menurut dia, peningkatan kompetensi menjadi bagian penting dalam mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya hayati Indonesia.

Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh untuk mengembangkan bahan baku tanaman lokal menjadi produk kosmetik, termasuk parfum.

Imam juga menekankan pentingnya transfer pengetahuan dari lembaga riset kepada masyarakat dan pemangku kepentingan agar hasil penelitian tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi berpeluang dikembangkan menjadi inovasi yang bermanfaat.

Formulasi Kemenyan Buka Peluang Usaha

Pengembangan parfum aromaterapi berbasis kemenyan tidak hanya berfokus pada pengolahan bahan alam, tetapi juga berpotensi membuka peluang usaha melalui pengembangan produk bernilai tambah.

Untuk mewujudkan peluang tersebut, keterampilan formulasi perlu didukung pendampingan, pengembangan produk, dan skema bisnis yang sesuai.

Ketua Tim Layanan Pengembangan Kompetensi SDM Nasional/Iptek, Direktorat Pengembangan Kompetensi BRIN, Alpha Fadila Juliana Rahman mengatakan pelatihan ini tidak hanya bertujuan memberikan penguatan kapasitas dan kompetensi, tetapi juga diharapkan dapat dilanjutkan pada tahap hilirisasi.

"Formulasi parfum aromaterapi berbasis kemenyan memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk UMKM dan industri,” kata Alpha.

Ia menambahkan, pendampingan dan penguatan skema bisnis dapat menjadi bagian dari tindak lanjut pelatihan.

Dengan begitu, keterampilan yang diperoleh peserta memiliki peluang untuk diterapkan dalam pengembangan produk secara berkelanjutan.

Baca Juga: BRIN Kembangkan Sensor Rumput Laut untuk Pantau Kesegaran Pangan MBG

BRIN Dorong Hasil Riset Menjadi Produk Inovasi

Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN Aswandi mengatakan pelatihan tersebut diharapkan memberikan kompetensi dasar kepada para periset untuk mengembangkan hasil penelitian menjadi produk inovasi bernilai tambah.

Pemahaman mengenai prinsip formulasi parfum dan produk aromaterapi diharapkan membantu periset mengeksplorasi potensi bahan lokal serta memperluas pemanfaatan hasil penelitian melalui teknologi tepat guna.

“Riset tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga perlu didiseminasikan menjadi teknologi tepat guna agar manfaat dan pentingnya riset dapat lebih cepat dirasakan masyarakat,” ujar Aswandi.

Pelatihan ini diikuti peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari peneliti, teknisi dan laboran, akademisi, mahasiswa, pelaku usaha atau UMKM, penyuluh, praktisi, hingga masyarakat yang tertarik pada pemanfaatan kemenyan.

Keberagaman peserta diharapkan membuka peluang pertukaran pengetahuan dan kolaborasi lintas bidang.

Bekal mengenai karakteristik kemenyan dan prinsip formulasi parfum aromaterapi menjadi langkah awal untuk mengembangkan produk sesuai kebutuhan dan peluang pasar.

Melalui kegiatan tersebut, BRIN mendorong agar sumber daya hayati Indonesia tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan baku, tetapi juga dikembangkan menjadi produk inovatif melalui penguatan kompetensi, transfer teknologi, dan hilirisasi hasil riset.*

Editor : Uray Ronald
Sumber : BRIN
kemenyan untuk parfum dan aromaterapi parfum berbasis kemenyan aromaterapi kemenyan hilirisasi hasil riset BRIN