Meriam Stimbul di Keraton Pontianak, Konon Pernah Mengeluarkan Darah dan Tak Bisa Tenggelam

Silvina • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:31 WIB
Seorang anak sedang duduk di samping meriam stimbul yang terletak di depan Keraton Kadariah Pontianak (*/MGG PONTIANAK POST)
Seorang anak sedang duduk di samping Meriam Stimbul yang terletak di depan Keraton Kadariah Pontianak (*/MGG PONTIANAK POST)

 

PONTIANAK POST – Meriam Stimbul di halaman Keraton Kadariah, Pontianak, dikenal melalui cerita mistis yang berkembang di tengah masyarakat. Meriam tua ini disebut-sebut tidak bisa tenggelam di air atau sungai, bahkan ada cerita yang mengaitkannya dengan peristiwa meriam mengeluarkan darah.

Cerita tentang meriam yang konon berdarah dan tidak bisa tenggelam masih terdengar dan menarik perhatian. Akan tetapi, kisah tersebut perlu dibedakan dari keterangan sejarah mengenai keberadaan dan fungsi meriam di lingkungan Kesultanan Pontianak.

Meriam Stimbul Disebut Hadiah dari Istanbul

Baca Juga: Fakta Sebelum Peristiwa Mandor (Bag-1):  Jepang Tebar Teror di Istana Kadriyah Pontianak

Menurut Kontributor Sejarah Keraton Kadariah Pontianak Chamsyah, Meriam Stimbul merupakan satu dari lima meriam tua yang berada di halaman Keraton Kadariah. Kelima meriam tersebut menghadap ke arah Sungai Kapuas dan menjadi bagian dari peninggalan sejarah Kesultanan Pontianak.

Dalam cerita yang berkembang, Meriam Stimbul disebut sebagai hadiah dari Istanbul, Turki. Nama Stimbul sendiri dipercaya berasal dari pelafalan masyarakat setempat terhadap nama Istanbul.

Keberadaan meriam-meriam tersebut berkaitan dengan kisah pertahanan Kesultanan Pontianak sejak 1771. “Pada masa itu, meriam menjadi bagian dari persenjataan untuk menghadapi ancaman yang dalam cerita setempat disebut sebagai bajak laut hantu,” tutur Chamsyah menjawab Pontianak Post.  

Baca Juga: Sejarah Kantor Pos Lama Pontianak, Berdiri Sejak 1858 di Pusat Kota

Benarkah Meriam Stimbul Berdarah dan Tak Bisa Tenggelam?

Salah satu cerita yang membuat Meriam Stimbul menarik perhatian adalah anggapan bahwa meriam tersebut pernah mengeluarkan darah dan tidak bisa tenggelam. Cerita ini beredar di tengah masyarakat dan menambah kesan mistis pada benda bersejarah tersebut.

Namun, cerita tersebut diluruskan oleh Chamsyah. Alumni Sejarah PGRI Pontianak ini menjelaskan kisah mistis yang berkembang di masyarakat mengenai Meriam Stimbul itu tidak benar.

“Itu hanya cerita-cerita yang berkembang di masyarakat saja, faktanya tidak seperti itu,” imbuh Chamsyah yang juga staf anggota DPD Kalbar ini.     

Baca Juga: Menyusuri Jejak Sejarah Lewat 'Warna Baru' Istana Kadriah, Bangkitkan Marwah Kesultanan Pontianak

Dengan demikian, cerita meriam mengeluarkan darah maupun kepercayaan bahwa Meriam Stimbul tidak bisa tenggelam sebaiknya tidak diperlakukan sebagai fakta sejarah. Cerita itu merupakan bagian dari kisah yang berkembang di masyarakat, sedangkan keberadaan Meriam Stimbul sendiri merupakan peninggalan sejarah yang dapat dilihat langsung di halaman keraton.

Lima Meriam Tua di Halaman Keraton Kadariah

Selain Meriam Stimbul, terdapat empat meriam tua lainnya di halaman Keraton Kadariah. Kelima meriam itu menjadi bagian dari peninggalan yang mengingatkan pengunjung pada sejarah pertahanan Kesultanan Pontianak.

Baca Juga: Sambut HUT ke-255 Kota Pontianak, Kharitas Bhakti Gelar Sunatan Massal

Salah satu meriam juga dikaitkan dengan tradisi penyambutan tamu penting. Menurut keterangan sejarah yang disampaikan, meriam untuk menyambut tamu tersebut terakhir digunakan pada 1948.

Kini, meriam-meriam tersebut dapat dilihat di halaman Keraton Kadariah, Pontianak. Di balik cerita mistis yang beredar, keberadaannya tetap memiliki nilai sejarah sebagai bagian dari peninggalan Kesultanan Pontianak.

 

 

Editor : Silvina
Keraton Kadariah Meriam Stimbul sejarah Pontianak Chamsyah cerita mistis