Naik Kelas Bakal Makin Susah; Ini Tips untuk Siswa dan Orang Tua

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Minggu, 18 Oktober 2026 | 23:36 WIB
Ilustrasi belajar.
Ilustrasi belajar.

 

PONTIANAK POST – Siswa perlu lebih serius mempersiapkan diri menghadapi penilaian kenaikan kelas pada tahun ajaran 2027/2028. Pemerintah menargetkan penguatan mekanisme kenaikan kelas agar peserta didik tidak otomatis naik ke tingkat berikutnya tanpa mempertimbangkan capaian akademik, kehadiran, dan perkembangan karakter.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan, pemerintah tengah mengkaji kebijakan tersebut dan menyiapkan peraturan menteri beserta petunjuk teknis pelaksanaannya.

“Sekarang ini kami sudah melakukan proses pengkajian dan insya Allah tahun ajaran baru 2027/2028 akan mulai diberlakukan,” kata Abdul Mu’ti saat memberikan keterangan kepada wartawan di Kabupaten Kubu Raya, Sabtu (17/10).

Menurut dia, kebijakan tersebut diharapkan mendorong siswa lebih termotivasi belajar, meningkatkan penguasaan materi, serta membangun karakter dan mental yang kuat.

Meski demikian, indikator penilaian, bobot setiap aspek, dan prosedur penentuan siswa naik atau tidak naik kelas masih menunggu regulasi resmi. Karena itu, belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa siswa harus mencapai angka nilai atau persentase kehadiran tertentu agar dinyatakan naik kelas pada 2027/2028.

Sembari menunggu aturan tersebut, siswa dapat mempersiapkan diri melalui sejumlah langkah sederhana. Mulai dari memahami materi pelajaran, memperbaiki kebiasaan belajar, menjaga kehadiran, hingga berkomunikasi dengan guru ketika mengalami kesulitan.

1. Jangan Menunggu Ujian untuk Belajar

Kebiasaan belajar menjelang ujian menjadi salah satu hal yang perlu diubah. Siswa sebaiknya mengulang materi secara berkala, bukan menumpuk seluruh pelajaran untuk dipelajari dalam satu atau dua malam sebelum ujian.

Belajar selama 20–30 menit setiap hari dapat menjadi awal yang realistis. Setelah mempelajari materi, siswa bisa mencoba menjawab pertanyaan tanpa melihat buku untuk mengetahui bagian yang sudah dipahami dan yang masih membingungkan.

Teknik ini membantu siswa mengenali kekurangan lebih awal. Jika ada materi yang belum dikuasai, siswa masih memiliki waktu untuk bertanya kepada guru atau berlatih kembali.

Tips praktis: Buat jadwal belajar harian dengan satu atau dua mata pelajaran. Sisihkan waktu untuk mengulang materi yang diajarkan hari itu, lalu gunakan akhir pekan untuk mengevaluasi pelajaran selama sepekan.

2. Kenali Materi yang Belum Dikuasai

Nilai rapor bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan dalam proses belajar. Siswa juga perlu memahami kompetensi yang harus dikuasai dan mengenali bagian pelajaran yang masih menjadi kesulitan.

Misalnya, siswa yang belum lancar memahami pecahan dalam matematika perlu mengulang konsep dasarnya sebelum beralih ke soal yang lebih rumit. Dalam bahasa Indonesia, siswa yang kesulitan memahami bacaan dapat berlatih menemukan gagasan utama, informasi penting, dan kesimpulan.

Jangan hanya menghafal jawaban. Usahakan memahami cara memperoleh jawaban agar pengetahuan dapat digunakan untuk menyelesaikan soal yang berbeda.

Tips praktis: Buat daftar tiga materi yang paling sulit pada setiap mata pelajaran. Tandai materi yang sudah dipahami, lalu minta bantuan guru atau teman untuk membahas bagian yang masih belum jelas.

3. Jaga Kehadiran dan Hindari Bolos

Kehadiran menjadi salah satu aspek yang disebut Abdul Mu’ti dalam rencana penguatan mekanisme kenaikan kelas. Siswa yang rutin mengikuti pembelajaran memiliki kesempatan lebih besar untuk memahami materi, mengerjakan latihan, dan menerima penjelasan langsung dari guru.

Karena itu, siswa perlu membiasakan diri datang tepat waktu dan mengikuti kegiatan belajar sampai selesai. Kebiasaan terlambat atau bolos dapat membuat siswa tertinggal penjelasan yang mungkin tidak seluruhnya tersedia dalam buku pelajaran.

Namun, siswa yang sakit atau menghadapi kondisi keluarga tertentu perlu menyampaikan alasan ketidakhadiran kepada sekolah melalui orang tua. Kehadiran tidak seharusnya dipahami sebagai angka semata tanpa mempertimbangkan kondisi yang melatarbelakanginya.

Tips praktis: Siapkan seragam dan perlengkapan sekolah pada malam hari, atur waktu tidur, dan pasang alarm. Jika terpaksa tidak masuk, segera tanyakan materi, tugas, dan catatan pelajaran yang tertinggal.

4. Aktif Bertanya ketika Tidak Paham

Diam ketika tidak memahami materi dapat membuat kesulitan belajar semakin menumpuk. Siswa sebaiknya tidak malu bertanya kepada guru, baik saat pelajaran berlangsung maupun ketika mendapat kesempatan konsultasi.

Pertanyaan tidak harus rumit. Siswa dapat meminta guru menjelaskan kembali langkah penyelesaian soal, memberikan contoh tambahan, atau menunjukkan bagian materi yang perlu dipelajari terlebih dahulu.

Jika kesulitan berulang, bicarakan masalah tersebut sebelum mendekati akhir semester. Dengan begitu, guru dan orang tua memiliki waktu untuk membantu mencari solusi.

Tips praktis: Catat pertanyaan selama belajar. Jika belum berani bertanya di depan kelas, sampaikan kepada guru setelah pelajaran atau melalui waktu konsultasi yang tersedia.

5. Selesaikan Tugas, Jangan Menumpuk Pekerjaan

Tugas sekolah dapat membantu siswa berlatih sekaligus menunjukkan bagian materi yang sudah atau belum dikuasai. Menunda pekerjaan sampai mendekati batas pengumpulan berisiko membuat tugas dikerjakan terburu-buru dan hasilnya tidak maksimal.

Siswa perlu mencatat tenggat setiap tugas dan membagi pekerjaan besar menjadi beberapa bagian. Jika mengalami kesulitan, mintalah penjelasan daripada menyalin jawaban teman tanpa memahami prosesnya.

Tips praktis: Gunakan buku agenda atau kalender di ponsel untuk mencatat tugas. Kerjakan tugas yang paling dekat tenggatnya, lalu sisihkan waktu untuk memeriksa kembali jawaban sebelum dikumpulkan.

6. Bangun Disiplin dan Tanggung Jawab

Selain capaian akademik dan kehadiran, perkembangan karakter juga disebut sebagai pertimbangan dalam rencana kebijakan pemerintah. Siswa dapat mulai membangun kebiasaan positif melalui tanggung jawab terhadap tugas, kedisiplinan, kejujuran, dan kesediaan memperbaiki kesalahan.

Karakter tidak semestinya dinilai hanya berdasarkan kesan subjektif. Dalam praktik pembelajaran, kebiasaan tersebut perlu terlihat melalui perilaku yang relevan dan dapat diamati, seperti menyelesaikan tugas, mengikuti aturan kelas, bekerja sama, dan menghargai orang lain.

Siswa tidak harus selalu mendapat nilai sempurna untuk menunjukkan perkembangan. Yang penting, mereka mau belajar dari kesalahan dan menunjukkan usaha memperbaiki diri.

Tips praktis: Buat target sederhana setiap pekan, misalnya tidak terlambat, menyelesaikan seluruh tugas tepat waktu, dan berani bertanya ketika tidak memahami pelajaran.

7. Kurangi Gangguan Ponsel saat Belajar

Ponsel dapat membantu siswa mencari informasi dan mengakses bahan pembelajaran. Namun, notifikasi media sosial, permainan, dan video pendek juga dapat mengganggu konsentrasi apabila digunakan tanpa batas.

Siswa tidak harus sepenuhnya menjauhi teknologi. Kuncinya adalah memisahkan waktu belajar dan waktu hiburan agar keduanya tidak saling mengganggu.

Tips praktis: Aktifkan mode fokus atau senyap selama belajar. Letakkan ponsel di luar jangkauan jika tidak digunakan untuk pembelajaran, lalu berikan jeda singkat setelah menyelesaikan satu sesi belajar.

8. Minta Evaluasi Guru Sebelum Akhir Tahun

Siswa dan orang tua sebaiknya tidak menunggu pembagian rapor untuk mengetahui apakah proses belajar sudah berjalan baik. Evaluasi berkala membantu mengidentifikasi kesulitan sebelum terlambat diperbaiki.

Orang tua dapat menanyakan perkembangan akademik, tugas yang belum selesai, kehadiran, dan kemampuan yang masih perlu diperkuat. Jika terdapat masalah, sekolah dan keluarga bisa menyepakati langkah pendampingan.

Komunikasi ini juga penting untuk menghindari kesalahpahaman. Siswa yang mengalami kesulitan belajar membutuhkan bantuan yang sesuai, bukan hanya teguran setelah nilai turun.

Tips praktis: Jadwalkan percakapan singkat dengan anak setiap pekan. Tanyakan pelajaran yang paling sulit, tugas yang belum selesai, dan bantuan apa yang dibutuhkan. Jika masalah berlanjut, hubungi wali kelas atau guru mata pelajaran.

Checklist Persiapan agar Lebih Siap Naik Kelas

Kebiasaan Target yang bisa dicoba
Belajar rutin Mengulang pelajaran setiap hari selama 20–30 menit
Menguasai materi Mencatat dan menuntaskan materi yang belum dipahami
Kehadiran Datang tepat waktu dan mengikuti pembelajaran secara konsisten
Tugas sekolah Mencatat tenggat dan menyelesaikan tugas sesuai jadwal
Bertanya kepada guru Meminta penjelasan ketika menemui kesulitan
Disiplin dan tanggung jawab Mematuhi aturan sekolah dan menyelesaikan kewajiban
Menggunakan ponsel Membatasi gangguan selama waktu belajar
Evaluasi bersama orang tua Membahas perkembangan dan kesulitan belajar setiap pekan

Target pada tabel merupakan saran kebiasaan belajar, bukan syarat resmi kenaikan kelas yang ditetapkan pemerintah.

Orang Tua Jangan Hanya Mengejar Nilai

Peran keluarga juga penting dalam membantu siswa mempersiapkan diri. Orang tua sebaiknya tidak hanya bertanya tentang nilai ujian, tetapi juga memahami kesulitan yang dialami anak selama belajar.

Pendampingan dapat dimulai dengan menyediakan waktu dan tempat belajar yang nyaman, membantu mengatur rutinitas, serta memberi apresiasi terhadap usaha anak. Jika nilai menurun, cari tahu penyebabnya sebelum menyimpulkan anak malas belajar.

Anak yang kesulitan memahami materi mungkin membutuhkan penjelasan tambahan, cara belajar berbeda, atau bantuan guru. Sebaliknya, anak yang sudah menguasai materi tetap perlu didorong untuk mempertahankan kebiasaan belajarnya.

Jangan Salah Paham soal Kurikulum Merdeka

Mekanisme tidak naik kelas bukan hal yang sepenuhnya baru dalam sistem pendidikan Indonesia. Panduan Pembelajaran dan Asesmen edisi revisi 2025 memberi kewenangan kepada satuan pendidikan untuk menetapkan kriteria kenaikan kelas dan menekankan pentingnya musyawarah pendidik dalam keputusan tidak naik kelas.

Kurikulum Merdeka juga tidak secara umum mewajibkan seluruh siswa naik kelas tanpa mempertimbangkan hasil belajar. Pendekatan pembelajaran berbasis fase memberi ruang bagi perkembangan kompetensi secara bertahap, sedangkan sekolah tetap dapat menentukan kenaikan kelas berdasarkan kriteria dan pertimbangan yang berlaku.

Wacana penguatan mekanisme tersebut mengemuka dalam Konvensi Pendidikan Indonesia XII Tahun 2026 di Universitas Pendidikan Ganesha, Bali, Jumat (2/10). Abdul Mu’ti menyoroti fenomena “RMS”, singkatan dari rajin malas sama saja, untuk menggambarkan kekhawatiran bahwa siswa yang tekun merasa tidak memiliki perbedaan dengan siswa yang kurang berusaha.

Pemerintah kini menargetkan penguatan kebijakan mulai tahun ajaran 2027/2028. Sampai regulasi resmi diterbitkan, siswa dan orang tua sebaiknya berfokus membangun kebiasaan belajar yang baik serta mengikuti ketentuan sekolah yang berlaku.

Pada akhirnya, naik kelas bukan sekadar memenuhi angka dalam rapor. Siswa perlu menunjukkan perkembangan belajar, tanggung jawab, dan kesiapan mengikuti pembelajaran berikutnya. Sementara itu, sekolah dan orang tua harus memastikan anak memperoleh pendampingan yang cukup agar kesulitan belajar dapat ditangani sedini mungkin. **

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
Abdul Mu’ti kenaikan kelas 2027/2028 kriteria kenaikan kelas tips agar naik kelas cara belajar efektif