IDIL AQSA AKBARY, Pontianak
SIANG hari suasana di kawasan PSP, Jalan Patimura terlihat lengang. Jejeran rumah toko (ruko) yang menjual suvenir serta oleh-oleh khas Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) itu sepi. Hanya sesekali orang yang hilir mudik di depan pertokoan tersebut.
Rinda (28) masih duduk santai di dalam salah toko suvernirdi sana. Sesekali ia hanya memainkan HP sambil menunggu pembeli datang. Suasana sepi seperti itu sudah cukup lama ia rasakan di tokonya yang menjual suvenir khas seperti kain tenun, akesesoris khas suku dayak, senjata tradisional dan lain sebagainya itu.
Kondisi itu terjadi sejak setahun lalu, dari awal pagebluk Covid-19 melanda dunia. Tepatnya mulai Maret 2020, tokonya yang mengandalkan pembeli dari wisatawan atau pengunjung dari luar daerah itu harus bertahan. Jangankan mencari keuntungan, untuk pendapatan harian saja susah didapatkan.
Ramadan dan Idulfitri 2020 yang biasanya menjadi puncak kunjungan banyak orang untuk membeli oleh-oleh harus dilewati tanpa penghasilan. Rinda yang berstatus sebagai pekerja penjaga toko itu bahkan sempat dirumahkan. Baru beberapa bulan terakhir ia kembali dipekerjakan. “Maret 2020 lalu untuk pendapatan satu hari hanya Rp10ribu. Sehingga pada saat itubanyak karyawan yang harus dirumahkan,” katanya saat ditemui belum lama ini.
Meski demikian ia bersyukur dalam beberapa waktu belakangan penjualan sudah mulai ada perkembangan. Namun yang menjadi kendala yakni kebijakan wajib PCR bagi wisatawanyang masuk ke Kalbar. Adanya kebijakan itu menurutnya membuat pengunjung yang datang ke Pontianak belum bisa naik signifikan.
“Hanya orang-orang tertentu yang masih membeli oleh-oleh, biasanya pejabat yang ada acara di Pontianak. Tapi kondisi tahun ini tidak seburuk tahun sebelumnya,” terangnya. Rinda mengenangpada 2020 lalu penurunan penjualan sangat jauh. Jika biasanyasebelum pagebluk,penjualan sehari bisa mencapai Rp1 juta, untuk sekarang bisa dapat Rp500ribu saja sudah bersyukur.“Biasanya pembeli oleh-oleh ini berasal dari seluruh nusantara. Ada juga pembeli yang berasal dari luar negeri,” katanya.
Sebelum pageblukCovid-19dan sebelum ada penutupan pintu perbatasan,banyak pembeli oleh-oleh asal Malaysiayang datang ke sana. Setiap minggubiasanyaminimal adatiga buspengunjung dari Malaysiayang datang berbelanja.“Sekarang karena lockdowntidak ada wisatawan dari luar. Semenjak perbatasan ditutup wisatawan dari Malaysia tidak pernah datang lagi,” kenangnya.
Melihat kondisi ini, ia pun mendambakan pagebluk Covid-19 cepat berakhir. Penularan virus tersebutdiakuinya tidak hanya melanda kesehatan tetapi juga perekonomian.Rinda sangat berharap ramadan dan idulfitri tahun ini penjualannya bisa meningkat. Minimal sama dengan momen sebelum pagebluk terjadi. “Semoga ramadan dan idulfitri tahun ini lebih berkah, lebih banyak pengunjung, tidak sepi lagi,” harapnya.
Kondisi serupa juga dirasakan Ferry, sudah satu tahun tokonya yang menjual oleh-oleh makanan itu sepi. “Ini sudah mau Idulfitri lagi, sudah setahun lah ya (sepi),” keluhnya. Penurunan penjualan di tempatnya mencapai 70 persen selama pagebluk Covid-19 melanda. Kini hanya sekitar 30 persen ia bisa dapatkan dari total pendapatan normal di tahun 2019 lalu. Dulu tempatnya memang cukup ramai dikunjungi pembeli. “Sekarang kita buka toko mau nunggu orang belanja, kalau dulu kan tidak, orang menunggu kita, sekarang kita nunggu orang belanja,” ujarnya.
Pemilik toko Seng Tie 56 itu mengenang dulu momen paling ramai ketika waktu liburan, seperti libur hari besar keagamaan termasuk idulfitri. Pembeli yang datang juga tak hanya warga lokal, tapi se-Indonesia bahkan dari luar negeri.
“Kami harap pandemi ini selesai, biar ramai lagi. Sekarang ini kan orang mau mudik apa, mau idulfitri tidak bisa pulang kampung. Kalau orang bisa balik kampung kan ramai, mau beli ini itu, beli oleh-oleh (di sini),” pungkasnya. (*) Editor : Super_Admin